Menlu RI Minta KBRI Tangani 160 WNI di Yordania yang Minta Dievakuasi

Sugiono, Menteri Luar Negeri RI, menyatakan bahwa ia telah berdiskusi dengan KBRI di Amman, Yordania, terkait permintaan evakuasi dari 160 Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di sana. Ia menegaskan bahwa koordinasi dilakukan untuk menangani situasi tersebut. “Kita sudah minta untuk bekerja sama dengan kedutaan, khususnya di Amman,” ujarnya setelah acara Buka Puasa Partai Demokrat di Senayan, Jakarta, pada Rabu (4/3/2026).

Permintaan Bantuan Evakuasi dari Rombongan Renata Tours

Sejumlah 160 WNI di Yordania mengajukan bantuan untuk kembali ke Indonesia. Mereka tergabung dalam rombongan tur ziarah kerohanian yang diatur oleh Renata Tours. Dalam posting resmi, seorang pemimpin rombongan menyampaikan bahwa kelompoknya sedang berada di Amman, Yordania, dan mengalami kendala dalam memperoleh tiket pesawat pulang.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

“Dengan hormat, kami mewakili sekitar 200 orang yang terjebak di Amman, memohon arahan dan bantuan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Amman terkait kepulangan kami dari Yordania ke Indonesia,” tulis keterangan dalam unggahan. “Besar harapan kami kiranya dapat diberikan pertolongan lebih lanjut, terutama berupa evakuasi dan repatriasi bagi kami warga Indonesia. Terima kasih atas perhatian dan dukungannya,” sambungnya.

Satu dari peserta tur, Dwie Ratna (44), mengkonfirmasi bahwa rombongannya masih terjebak di Amman karena belum bisa mendapatkan tiket pesawat. “Kami 168 orang masih di Amman,” katanya saat dihubungi Kompas.com, Rabu (4/3/2026).

Respons KBRI Amman terhadap Permintaan Evakuasi

Pejabat Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Amman, Nur Ibrahim, menyatakan bahwa pihaknya menerima permintaan bantuan dari rombongan tersebut. Menurutnya, kelompok tersebut menghubungi KBRI pada Senin (2/3/2026) sore waktu setempat.

“Mereka sampaikan bahwa mereka sedang dalam perjalanan pulang dari Petra ke Amman dan akan terbang dengan Etihad (rute Amman-Jakarta) tanggal 4 Maret 2026,” terang dia kepada Kompas.com, Rabu (4/3/2026). “Sehubungan dengan situasi banyaknya penerbangan di-cancel, mereka sampaikan concern-nya kepada KBRI terkait kepulangan mereka,” imbuhnya.

Ibrahim mengonfirmasi bahwa rombongan tersebut mengalami kesulitan mendapatkan penerbangan pengganti. Pihaknya segera merespons dengan menyediakan opsi alternatif untuk penerbangan. Situasi ini terjadi di tengah konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang memengaruhi operasional penerbangan di wilayah tersebut.