Cak Imin: Talenta Indonesia Siap Ungguli India dan Filipina di Tingkat Global
Special Plan – Kamis (25/6), Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar—dikenal sebagai Cak Imin—menghadiri acara Global Talent Day yang diadakan dalam rangka Kebumen Job Fair & PMI Expo 2026. Kegiatan tersebut dihelat di Pendopo Kabupaten Kebumen, dengan tujuan memperkuat sistem penyediaan peluang kerja serta ekosistem pekerja migran Indonesia. Cak Imin menegaskan bahwa acara ini merupakan langkah strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan kompetitif di tingkat internasional.
Membangun Ekosistem Pekerjaan yang Terintegrasi
Dalam wawancara terpisah, Cak Imin menjelaskan bahwa pendekatan ekosistem kerja harus mengintegrasikan seluruh aspek, mulai dari pelatihan keterampilan hingga pengembangan karier di luar negeri. “Kita perlu menciptakan jaringan yang terstruktur, sehingga setiap individu dapat memperoleh kesempatan kerja sesuai keahlian mereka,” katanya. Ia menekankan bahwa ekosistem ini tidak hanya menguntungkan pekerja lokal, tetapi juga membantu meningkatkan kualitas pekerja migran yang berangkat ke berbagai negara.
Menurut Cak Imin, perencanaan talenta global harus dimulai sejak jenjang pendidikan menengah, khususnya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). “Pemilihan jurusan di tingkat SMA dan SMK perlu disesuaikan dengan kebutuhan industri, serta tujuan karier yang diharapkan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dengan adanya koordinasi antara pemerintah, sekolah, dan dunia kerja, siswa dapat lebih siap menghadapi tantangan pasar tenaga kerja global. “Pemerintah harus berperan aktif dalam menyediakan fasilitas dan program yang mendukung proses ini,” imbuhnya.
Memperkuat Kapasitas Keterampilan Pekerja Migran
Dalam kesempatan yang sama, Cak Imin menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas keterampilan pekerja Indonesia yang bekerja di luar negeri. “Global Talent Day ini menjadi wadah untuk menilai bagaimana kita dapat meningkatkan kemampuan tenaga kerja, agar mereka mampu bersaing dengan pekerja dari negara lain,” kata dia. Ia menggarisbawahi bahwa kemajuan ekonomi keluarga pekerja migran sangat bergantung pada kesuksesan mereka di tempat tujuan.
Cak Imin juga memaparkan bahwa banyak negara maju kini mengalami kekurangan tenaga kerja usia produktif. “Ini menciptakan peluang besar bagi Indonesia, yang memiliki jumlah tenaga kerja muda yang sangat besar,” jelasnya. Ia menjelaskan bahwa bonus demografi menjadi keunggulan strategis, karena populasi usia kerja yang tinggi dapat diarahkan menjadi sumber daya manusia berkualitas. “Dengan manfaatkan keunggulan ini, kita bisa membangun ekosistem yang lebih efektif untuk memenuhi kebutuhan global,” tambahnya.
Persaingan dengan Negara-Negara Tercapai
Dalam wawancara yang lebih dalam, Cak Imin menyatakan bahwa potensi tenaga kerja Indonesia tidak kalah dibandingkan negara-negara yang selama ini dikenal sebagai pemain utama di pasar global, seperti India dan Filipina. “Banyak orang menganggap India dan Filipina sebagai negara yang dominan dalam menyuplai tenaga kerja internasional, tetapi kita percaya Indonesia mampu menyaingi bahkan mengungguli mereka,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa perbaikan sistem pendidikan dan pelatihan menjadi kunci utama dalam meningkatkan daya saing. “Kita harus fokus pada pengembangan kompetensi yang relevan, baik melalui pelatihan profesional maupun program kewirausahaan,” kata Cak Imin. Ia juga menyebutkan bahwa keterlibatan pihak swasta dalam menyediakan pelatihan akan mempercepat proses ini. “Kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha sangat penting, agar program pelatihan dapat menyesuaikan dengan kebutuhan pasar,” ujarnya.
Lebih lanjut, Cak Imin berharap ekosistem yang dibangun bisa menjadi contoh bagi negara lain. “Dengan pengelolaan yang terpadu, kita bisa menciptakan pasar tenaga kerja yang lebih adil dan menguntungkan bagi semua pihak,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan ini tidak hanya bergantung pada jumlah pekerja migran, tetapi juga pada kualitas dan profesionalisme mereka. “Kita harus memastikan setiap tenaga kerja Indonesia memiliki keunggulan yang dapat diterima di berbagai negara,” pungkasnya.
Peran SMK dalam Menyiapkan Talenta Global
Cak Imin menyoroti peran SMK dalam membangun basis tenaga kerja yang siap menghadapi persaingan global. “SMK merupakan jembatan penting antara pendidikan dan dunia kerja, karena mereka mengarahkan siswa ke bidang spesialisasi tertentu,” katanya. Ia menekankan bahwa kebijakan pendidikan harus mendukung pengembangan keterampilan yang relevan dengan industri, baik dalam negeri maupun luar negeri.
Menurut Cak Imin, pemerintah telah melakukan banyak upaya untuk menyempurnakan sistem pendidikan ini. “Beberapa program telah dirancang untuk meningkatkan kompetensi siswa sejak dini, seperti pelatihan kerja bersama perusahaan dan pelaksanaan ujian keterampilan yang lebih praktis,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan dunia usaha dalam mengajarkan keterampilan sesuai kebutuhan pasar sangat bermanfaat untuk mengurangi kesenjangan antara lulusan dan permintaan industri.
Cak Imin menegaskan bahwa pendidikan menengah harus menjadi fondasi untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas. “Dengan memastikan setiap SMK memiliki kurikulum yang kompetitif, kita bisa menjamin bahwa siswa tidak hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga kemampuan praktis yang dibutuhkan di lapangan,” ujarnya. Ia menyoroti pentingnya kesiapan siswa dalam menghadapi tantangan global, seperti perubahan teknologi dan kebutuhan industri yang terus berkembang.
Peluncuran Talenta Muda Indonesia ke Negara-Negara Tujuan
Pada acara tersebut, Cak Imin juga melakukan upacara melepas talenta muda Indonesia yang telah diterima bekerja di luar negeri. “Ini adalah tanda bahwa kita sudah siap memberdayakan generasi muda dalam menghadapi persaingan global,” kata dia. Talenta yang diberangkatkan kali ini meliputi Alfin Maunah ke Taiwan dan Dito Eka Firmansyah ke Jepang. Kedua individu ini dianggap sebagai contoh keberhasilan program pemberdayaan sumber daya manusia.
Cak Imin berharap pengalaman seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi lebih banyak pemuda Indonesia. “Kita harus membuka jalan bagi mereka yang ingin belajar dan berkarya di luar negeri, sekaligus memastikan mereka terus diberi dukungan,” ujarnya. Ia menekankan bahwa proses penempatan pekerja migran harus diawasi secara ketat, agar mereka tidak hanya memperoleh penghasilan, tetapi juga pengalaman kerja yang b