Israel Serang Lebanon, RI Pantau Keselamatan Kontingen Garuda di UNIFIL

Jakarta, KOMPAS.com – Pemerintah Indonesia sedang memantau kondisi keamanan kontingen pasukan dari negara ini yang bertugas di Perbatasan Israel-Lebanon sebagai bagian dari Pasukan Sementara PBB (UNIFIL). Situasi ini terjadi karena wilayah selatan Lebanon sedang dalam kondisi tidak stabil akibat serangan yang dilakukan Israel.

“Keselamatan personel pasukan perdamaian menjadi prioritas utama dalam situasi yang terjadi saat ini,” ungkap Kementerian Luar Negeri RI dalam pernyataan resmi yang dikutip Kompas.com, Senin (15/3/2026).

Menyusul konflik yang memanas, Indonesia juga memberikan apresiasi terhadap kontingen Garuda yang tetap menjalankan tugasnya di UNIFIL. Pemerintah mengharapkan seluruh anggota kontingen Garuda diberikan perlindungan maksimal dalam menjaga stabilitas wilayah tersebut.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

RI Kecam Serangan Israel, Tindakan Melanggar Hukum Internasional

Kementerian Luar Negeri RI mengecam tindakan Israel yang menyerang Lebanon. Serangan ini, menurut Kemlu, melanggar prinsip hukum humaniter internasional serta Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 (2006) yang mengatur ketertiban di wilayah perbatasan.

Indonesia menyerukan semua pihak untuk menghormati kedaulatan Lebanon, menghentikan serangan yang merugikan warga sipil dan infrastruktur, serta kembali ke jalur dialog dan diplomasi guna mencegah eskalasi lebih besar dan mencapai perdamaian.

Diplomasi Lapangan: Mereplikasi Sukses UNIFIL di Koridor Gaza

Konflik Timur Tengah kembali memanas setelah Lebanon terlibat dalam pertempuran dengan Israel sejak pekan lalu. Hizbullah, kelompok perlawanan di Lebanon, menyatakan perang terhadap Israel sebagai respons atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan dari AS dan Israel di Teheran.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan setidaknya 826 korban tewas akibat serangan tersebut, termasuk 65 perempuan dan 106 anak-anak. Selain itu, 2.009 orang terluka. Pemerintah Indonesia mengingatkan bahwa serangan ini membahayakan masyarakat sipil.

Sumber dari Hizbullah yang tidak ingin disebutkan nama menyatakan bahwa pertempuran ini mungkin menjadi kali terakhir mereka melawan Israel. Kelompok tersebut telah siap menghadapi konflik yang berpotensi berlangsung lama. Menurut sumber itu, Hizbullah saat ini berjuang habis-habisan untuk menentang serangan Israel.

Sumber menambahkan bahwa hasil perang kali ini bisa berujung pada dua kemungkinan. “Hizbullah akan ditekuk, atau akan menciptakan skenario baru dengan penarikan Israel dari Lebanon dan penghentian serangan,” kata sumber tersebut kepada AFP.