Muhammadiyah: Perbedaan Hari Idul Fitri Tidak Berarti Tidak Taat Pemerintah

Jakarta, IDN Times – Pemimpin Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, menjelaskan perbedaan penghitungan hari raya Idul Fitri antara organisasi Islam tersebut dengan pemerintah. Menurut Muhadjir, kedua pihak memiliki dasar yang valid dan ilmiah untuk menentukan tanggal 1 Syawal 1447 H. Perbedaan ini berasal dari metode perhitungan yang digunakan.

Metode Global Hijriah Dipakai Muhammadiyah

Muhadjir menyebutkan bahwa Muhammadiyah memilih metode Kalender Hijriah Global Tunggal, yang mengukur keberadaan hilal secara universal. Dengan sistem ini, hari raya Idul Fitri ditentukan berdasarkan penampakan bulan di seluruh dunia, bukan hanya di wilayah tertentu. “Kita menganggap jika hilal terlihat di Alaska, maka berlaku di semua tempat,” ujarnya.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

“Jadi, perbedaan ini tidak berarti melanggar ketaatan kepada pemerintah. Tanggal Lebaran hari ini atau besok tetap dianggap taat, karena dasarnya sama,” tutur Muhadjir di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Jumat (20/3/2026).

Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) telah diterima oleh lebih dari 10 negara. Muhammadiyah secara resmi menerapkan sistem ini sejak Juni 2025. Prinsip KHGT adalah satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia, serta memandang bumi sebagai satu kesatuan dalam perhitungan.

Pemerintah Tetapkan 21 Maret sebagai Hari Raya

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama mengumumkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Keputusan ini diambil setelah sidang isbat pada Kamis (19/3/2026) malam, dimana pemantauan hilal menunjukkan bulan belum memenuhi syarat visibilitas MABIMS.

Metode pemerintah masih menggunakan penentuan hilal lokal, sementara Muhammadiyah menerapkan standar global. Meski berbeda, Muhadjir menekankan bahwa keduanya tetap mematuhi aturan yang berlaku, dan perbedaan tersebut tidak mengurangi ketaatan terhadap pemerintah.