Krisis Bahan Bakar Global Picu Kebijakan Baru di Asia

Perang di Selat Hormuz mengakibatkan krisis energi yang mengguncang pasar dunia, mendorong sejumlah negara Asia untuk menerapkan kebijakan seperti kerja di rumah dan stimulus ekonomi yang pernah digunakan selama pandemi. Dengan lebih dari 80% minyak mentah yang melalui jalur ini diblokir Iran sejak 28 Februari, kawasan Asia menjadi sasaran utama dampaknya.

Rekomendasi dari Lembaga Energi Internasional

Menyusul krisis bahan bakar, International Energy Agency (IEA) memutuskan melepaskan rekor 400 juta barel minyak dari cadangan strategisnya. Di sisi lain, kementerian energi Korea Selatan, Kim Sung-whan, menyatakan opsi kerja di rumah layak dipertimbangkan setelah IEA merekomendasikannya.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

“Saya pikir itu ide yang bagus,” ujar Kim saat diwawancara Reuters, Rabu (25/3/2026). “Kami akan berkonsultasi dengan departemen terkait dan aktif mengusulkan kebijakan kerja di rumah.”

Langkah Konservatif dan Adaptasi Nasional

Birol, direktur eksekutif IEA, menegaskan rekomendasi tersebut dalam konferensi di Sydney. Ia mengacu pada pengalaman Eropa setelah invasi Rusia ke Ukraina, di mana negara-negara tersebut mengadopsi tindakan serupa untuk mengurangi permintaan energi.

“Ada uji coba nyata, seperti setelah invasi Rusia ke Ukraina, negara-negara Eropa mengadopsi langkah-langkah ini, dan diumumkan oleh pemerintah. Ini sangat membantu mereka melewati masa sulit tanpa energi Rusia… tetapi tetap menjaga lampu menyala,” tutur Birol.

Upaya Penghematan Energi di Berbagai Negara

Beberapa negara Asia mengeksekusi tindakan hemat energi. Korea Selatan, misalnya, meluncurkan kampanye meminta masyarakat memperpendek durasi mandi, mengisi ponsel di siang hari, dan menggunakan penyedot debu pada akhir pekan. Di Filipina, pemerintah memperpendek minggu kerja di beberapa lembaga pemerintah, sementara Pakistan menutup sekolah selama dua minggu dan mendorong pegawai bekerja di rumah.

Sri Lanka menetapkan hari libur setiap Rabu untuk mengurangi konsumsi bahan bakar. Singapura mendorong penggunaan peralatan hemat energi, kendaraan listrik, serta peningkatan suhu pendingin ruangan. Thailand memerintahkan birokrat menunda perjalanan ke luar negeri dan mengatur suhu ruangan di atas 25°C.

Stimulus Ekonomi untuk Melindungi Keluarga

Kenaikan biaya bahan bakar menimbulkan tekanan besar terhadap rumah tangga, sehingga beberapa negara mengeluarkan bantuan keuangan. Jepang menggunakan 800 miliar yen (sekitar US$5 miliar) dari dana cadangan untuk subsidi bensin, menjaga harga tetap sekitar 170 yen per liter. Bantuan ini diperkirakan menelan biaya hingga 300 miliar yen per bulan.

Selandia Baru mengumumkan bantuan sementara 50 dolar per minggu bagi keluarga berpenghasilan rendah, dimulai April. Menteri Keuangan Nicola Willis mengatakan, “Kami tahu keluarga-keluarga ini akan terdampak sangat keras oleh guncangan harga bahan bakar global. Kami memberikan bantuan tepat waktu bagi mereka.”

Kebijakan Pemerintah yang Berbeda

Sementara itu, Bank Sentral Australia meningkatkan suku bunga dua kali tahun ini, mengutip risiko energi terhadap inflasi sebagai alasan. Hal ini berbeda dengan masa pandemi, ketika bank sentral cenderung menurunkan suku bunga untuk meringankan beban ekonomi. Di tengah tekanan ini, Australia juga memperkenalkan undang-undang untuk memperkuat sanksi terhadap peningkatan harga bahan bakar yang tidak wajar.

Krisis ini mengubah paradigma kebijakan, dengan sejumlah negara mempertimbangkan langkah-langkah konservatif dan penyesuaian anggaran yang lebih ketat dibandingkan situasi sebelumnya.