Operasi Hujan Buatan Riau: 11 Ton Garam Disiramkan ke Langit

Pekanbaru, (ANTARA) – Sejak 28 Maret hingga 1 April 2026, pihak terkait telah menyebar 11 ton garam sebagai bagian dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Riau. Tujuan dari kegiatan ini adalah menginduksi hujan buatan guna menjaga kelembapan lahan, khususnya gambut, sehingga mengurangi risiko kebakaran.

“Operasi ini bertujuan memicu hujan buatan agar kondisi lahan, terutama gambut, tetap lembap dan tidak mudah terbakar,” tutur Jim Gafur, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau, di Pekanbaru, Sabtu.

Menurut Jim, Operasi Modifikasi Cuaca kali ini merupakan tahap kedua yang dilaksanakan. Sebelumnya, langkah serupa sudah dijalankan di awal Februari lalu. Ia menegaskan bahwa penerapan metode ini cukup berhasil dalam mengurangi potensi karhutla di berbagai daerah.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

OMC kini difokuskan pada wilayah pesisir timur Riau, meliputi Kabupaten Bengkalis, Indragiri Hilir, Siak, Pelalawan, serta Kota Dumai. Dalam prosesnya, garam digunakan sebagai bahan pengaktif untuk mempercepat pembentukan awan dan hujan.

Selain pesawat OMC, Riau kini memiliki satu unit helikopter untuk operasi water bombing. Jim menyampaikan bahwa pihaknya sedang mengerjakan pengajuan tambahan untuk helikopter jenis ini, karena luasan kebakaran hutan dan lahan terus meningkat. “Perizinan helikopter water bombing sedang diproses, meski prosedurnya memakan waktu,” katanya.

Deteksi Titik Panas di Riau dan Sumatra

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mencatat 310 titik panas di seluruh provinsi. Kabupaten Bengkalis menjadi daerah dengan jumlah terbanyak, mencapai 273 titik. Angka tersebut diikuti oleh Kabupaten Pelalawan (15), Kota Dumai (9), Indragiri Hulu (3), Indragiri Hilir (2), serta Kepulauan Meranti dan Kota Pekanbaru masing-masing satu titik.

Dalam skala Pulau Sumatra, Riau tetap menjadi daerah paling rentan, dengan 405 titik panas tercatat. Diikuti oleh Sumatera Selatan (30), Kepulauan Bangka Belitung (24), Jambi (21), Kepulauan Riau (14), dan Aceh serta Sumatera Utara masing-masing dua dan satu titik. Bengkulu dan Lampung mencatatkan satu titik panas masing-masing.