WIKA Kembali Turunkan Utang Rp3,87 Triliun Sepanjang 2025
Jakarta – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) terus berupaya menguatkan transformasi dan proses penyehatan keuangan. Pada 2025, perusahaan mencatatkan kontrak baru sebesar Rp17,46 triliun, yang berkontribusi pada total kontrak yang sedang berjalan mencapai Rp50,52 triliun. Dari kontrak tersebut, WIKA menghasilkan penjualan total Rp20,45 triliun, terdiri dari penjualan non Kerja Sama Operasi (KSO) sebesar Rp13,33 triliun dan penjualan melalui KSO sebesar Rp7,12 triliun. Hal ini menyebabkan laba kotor (gross profit) yang dicatat sebesar Rp1,13 triliun.
Peningkatan rasio laba kotor (GPM) WIKA mencapai 8,5% pada 2025, naik dari 7,9% di tahun sebelumnya. Peningkatan ini utamanya berasal dari bisnis inti, yaitu sektor infrastruktur dan gedung, serta model EPCC. Pengelolaan proyek yang efisien serta kinerja operasi yang optimal ditunjukkan oleh EBITDA operasi positif sebesar Rp426,52 miliar. Angka ini mencerminkan kemajuan dalam penerapan standar operasional yang lebih baik, meski proses restrukturisasi masih berlangsung.
Sementara itu, perusahaan terus melakukan upaya pengurangan utang. Pada 2025, utang usaha turun Rp1,79 triliun, sedangkan utang berbunga berkurang Rp2,08 triliun, atau menurun 29,5% dan 5,9% dibandingkan tahun lalu. Penurunan tersebut menunjukkan kemampuan WIKA dalam mengelola kewajiban secara efektif, sambil menjaga keseimbangan arus kas di tengah tekanan industri.
Di sisi lain, WIKA juga fokus pada percepatan penyelesaian piutang. Dalam tahun ini, nilai piutang turun sebesar Rp1,89 triliun (29,2%), dan piutang konstruksi berkurang Rp1,15 triliun (34,6%). Upaya ini dilakukan melalui 8 langkah penyehatan keuangan, termasuk mediasi hukum dan penagihan aktif.
“Peningkatan kinerja operasi serta perbaikan struktur permodalan yang dilakukan secara konsisten melalui 8 stream penyehatan menjadi fondasi penting untuk menjaga keunggulan dan keberlangsungan Perseroan. Di tahun ini, kami akan terus melakukan restrukturisasi komprehensif guna mengurangi beban keuangan atas penugasan yang sedang dikerjakan, serta mempercepat divestasi aset yang belum menghasilkan laba,” ujar Ngatemin (Emin), Corporate Secretary WIKA.
Emin menambahkan bahwa transformasi yang sedang dijalani perusahaan memerlukan dukungan dari berbagai pihak, seperti pemegang saham, kreditur, mitra kerja, dan seluruh stakeholder. Untuk itu, WIKA akan terus menjaga komunikasi intensif dengan pemegang saham mayoritas serta kreditur guna memperoleh dukungan dalam rencana penyehatan keuangan yang dijalankan.

