AS Berusaha Hindari Pengakuan Kejahatan Perang dalam Serangan ke Iran

Dari Moskow, pemerintah Amerika Serikat berusaha menghindari pengakuan kejahatan perang setelah menyerang sejumlah fasilitas infrastruktur Iran. Hal ini disampaikan oleh Politico, yang mengutip dua pejabat Pentagon tanpa menyebutkan nama mereka. Pemerintah AS sedang mempertimbangkan strategi untuk memastikan serangan tersebut tidak dikategorikan sebagai pelanggaran hukum internasional.

Debat tentang Target Militer dan Sipil di Pentagon

Menurut laporan, Pentagon tengah meninjau daftar objek energi Iran, termasuk beberapa yang juga digunakan militer. Di dalam kantor itu muncul perdebatan intensif mengenai batas antara target sipil dan militer. Sebagai ilustrasi, sejumlah pejabat di Washington berpendapat bahwa pabrik desalinasi air bisa jadi sasaran karena kebutuhan militer akan pasokan air minum, menurut Politico.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

Peringatan dari PBB

Pada Senin, Juru Bicara PBB Stephanie Dujarric menegaskan bahwa serangan AS terhadap fasilitas sipil Iran, seperti jembatan dan pembangkit listrik, akan melanggar prinsip hukum internasional.

Langkah-langkah ini memicu ketegangan antara AS dan Iran, terutama terkait dengan sasarannya yang dianggap sensitif. Meski demikian, AS berupaya menempuh pendekatan hukum untuk membenarkan tindakannya.

Ancaman Trump terhadap Iran

Di tanggal 30 Maret, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan “meledakkan dan melenyapkan sepenuhnya” berbagai infrastruktur Iran, termasuk pembangkit listrik, sumur minyak, Pulau Kharg, dan pabrik desalinasi. Ia juga memperingatkan Iran bahwa “Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan” akan datang pada 7 April, kecuali jika Selat Hormuz kembali dibuka untuk kapal-kapal.

Operasi Militer AS dan Balasan Iran

Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan militer terhadap sejumlah lokasi di Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan dan korban sipil, termasuk Kota Teheran. Sebagai respons, Iran menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.