Nilai Ekspor Indonesia Mei Turun 8,30 Persen Ketimbang April
Analisis Kinerja Ekspor Bulan Mei 2026
Key Issue – Kinerja ekspor nasional tetap menjadi elemen penting dalam membentuk neraca perdagangan Indonesia. Menurut data terbaru, pada bulan Mei 2026, nilai ekspor mencapai USD 23,20 miliar. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 8,30 persen dibandingkan Mei 2025 (YoY) serta penurunan 5,73 persen dari bulan April 2026 (MtM). Turunnya ekspor di bulan Mei terutama disebabkan oleh penurunan signifikan dalam sektor migas dan nonmigas.
Menurut Mendag Budi Santoso, pelemahan ekspor bulanan terjadi karena penurunan produksi migas sebesar 34,38 persen serta penurunan ekspor nonmigas sebesar 7,05 persen secara bulanan. Meski demikian, kinerja ekspor secara kumulatif Januari–Mei 2026 menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 3,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Total ekspor selama lima bulan pertama tahun ini mencapai USD 115,36 miliar, menurut laporan resmi.
Pertumbuhan Ekspor Kumulatif Januari–Mei 2026
Dalam rangkaian bulan-bulan pertama tahun 2026, ekspor Indonesia menunjukkan peningkatan yang stabil. Meski terjadi pelemahan bulanan pada Mei, pertumbuhan kumulatif Januari–Mei menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan ekspor nonmigas sebesar 3,89 persen (CtC), yang mencapai USD 110,19 miliar, sementara ekspor migas mengalami penurunan sebesar 12,71 persen (CtC) dengan nilai USD 5,17 miliar.
Kementerian Perdagangan menegaskan bahwa industri pengolahan masih menjadi penopang utama dari total ekspor nasional. Pertumbuhan ekspor sektor ini mencapai 6,80 persen (CtC) selama Januari–Mei 2026. Faktor-faktor utama yang mendukung pertumbuhan ini adalah kenaikan harga komoditas di pasar internasional dan peningkatan permintaan dari berbagai negara. Selain itu, ekspor industri pengolahan mencerminkan peningkatan daya saing produk manufaktur Indonesia, yang semakin memperkuat posisi ekspor nasional.
Penurunan Ekspor di Beberapa Sektor
Di sisi lain, beberapa sektor ekspor mengalami pelemahan pada Januari–Mei 2026. Sektor pertanian menurun sebesar 24,95 persen, sedangkan sektor migas turun 12,71 persen dan sektor pertambangan serta sektor lainnya turun 8,14 persen (CtC). Mendag Busan menjelaskan bahwa penurunan di sektor-sektor tersebut tidak menggagalkan pertumbuhan keseluruhan ekspor, tetapi menunjukkan dinamika yang berbeda di berbagai bidang.
“Di masa depan, pemerintah akan terus memperluas akses pasar ekspor sekaligus meningkatkan nilai tambah produk nasional agar kinerja ekspor tetap terjaga,” kata Mendag Busan, Jumat (3/7). Ini menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat sektor ekspor melalui strategi yang lebih holistik.
Dalam detailnya, dua komoditas pertanian menjadi penyebab penurunan ekspor terbesar selama periode tersebut. Kakao dan produk olahannya (HS 18) mengalami penurunan ekspor sebesar 39,34 persen, sementara kopi, teh, dan rempah-rempah (HS 09) turun 29,94 persen. Di sektor pertambangan, bijih logam terak dan abu (HS 26) menjadi komoditas yang paling signifikan menurunkan nilai ekspor dengan penurunan sebesar 45,97 persen (CtC).
Kinerja Ekspor ke Negara-Negara Utama
Ekspor nonmigas Indonesia ke sejumlah negara menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Pada Januari–Mei 2026, negara-negara tujuan utama mencatatkan kenaikan eksportasi. Negara dengan pertumbuhan terbesar adalah Rumania, di mana ekspor meningkat hingga 409,78 persen. Disusul oleh Hong Kong (34,01 persen), Mesir (33,73 persen), Tailan (19,32 persen), dan Tiongkok (17,68 persen) yang semuanya mencatatkan kenaikan ekspor.
Kinerja positif juga terlihat dari ekspor ke kawasan Asia Tengah Lainnya, Afrika Utara, Asia Timur, Amerika Selatan, dan Afrika Barat. Kenaikan ekspor ke daerah-daerah ini menunjukkan peningkatan permintaan global terhadap produk-produk Indonesia, terutama dalam sektor manufaktur. Namun, ada beberapa sektor yang masih mengalami penurunan, seperti sektor migas dan pertambangan.
Strategi Pemerintah untuk Mengatasi Pelemahan
Mendag Busan menekankan bahwa pemerintah akan terus berupaya untuk mengembangkan sektor ekspor nasional. Fokusnya adalah pada peningkatan nilai tambah produk, yang dapat meningkatkan daya saing Indonesia di pasar internasional. Selain itu, ekspor nonmigas yang tumbuh cukup signifikan membantu menjaga keseimbangan neraca perdagangan.
Kenaikan ekspor pada sektor industri pengolahan, khususnya untuk produk seperti aluminium dan barang daripadanya (HS 76), nikel dan barang daripadanya (HS 75), serta bahan kimia organik (HS 29), menunjukkan potensi yang baik. Pertumbuhan masing-masing komoditas ini mencapai 64,33 persen, 60,88 persen, dan 31,04 persen (CtC), mendorong peningkatan keseluruhan sektor industri.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa pelemahan ekspor di beberapa sektor tidak sepenuhnya menghambat momentum positif ekspor nasional. Dengan upaya yang terus dilakukan, diharapkan kinerja ekspor dapat dipertahankan dan bahkan ditingkatkan. Pemerintah juga berencana memperluas pasar ekspor ke negara-negara baru serta meningkatkan kerja sama bilateral untuk menjamin keberlanjutan sektor perdagangan Indonesia.
Sebagai bagian dari upaya ini, pemerintah akan fokus pada penguatan produk-produk manufaktur yang memiliki nilai tambah tinggi. Hal ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada komoditas mentah dan memperkuat ekspor jangka panjang. Meski terjadi penurunan di sektor tertentu, pertumbuhan ekspor nasional secara kumulatif tetap menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Kinerja ekspor Indonesia di bulan Mei 2026, meski menunjukkan pelemahan, memperlihatkan bahwa tantangan ekonomi global tidak sepenuhnya menggoyahkan fondasi pertumbuhan ekspor. Dengan dukungan dari sektor industri pengolahan dan kenaikan permintaan internasional, ekspor nasional diharapkan dapat mencapai k