Menyusuri Tanah Bencana, Aceh (2)

Perjalanan tim ANTARA mencari jawaban tentang progres rekonstruksi dan rehabilitasi setelah bencana di Aceh, kembali dilakukan. Kali ini, liputan berlangsung pada 15 hingga 24 Februari 2026, menjelang dan memasuki bulan suci Ramadan. Masa ini menawarkan tantangan unik, sekaligus memberi kesempatan untuk mengamati langsung bagaimana masyarakat Aceh merayakan Ramadan di tengah keterbatasan.

Dusun yang Hilang: Lhok Pungki, Aceh Utara

Setelah berangkat dari Aceh Utara, tim mengarungi jalanan berliku menuju Lhok Pungki. Wilayah ini terletak di bagian paling ujung Desa Gunci, Kecamatan Sawang, dan berbatasan dengan Bireuen serta Bener Meriah. Dusun tersebut kini disebut sebagai “dusun yang hilang” karena banjir dan longsor akhir November 2025 menghancurkan hampir semua bangunan yang ada.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

Mengakses Lhok Pungki

Menjadi tantangan utama bagi tim untuk sampai ke Lhok Pungki. Jalur yang terkena banjir masih berlumpur dan sering berubah saat hujan datang. Bahkan, hujan singkat pun bisa memutus koneksi dan mengisolasi daerah itu kembali. Sepanjang perjalanan, beberapa bagian jalanan tidak bisa dilalui. Di titik tertentu, tim memerlukan usaha ekstra untuk menimbun tanjakan dengan batu-batuan agar kendaraan tidak tenggelam dalam genangan.

Saat tiba di lokasi, hamparan puing dan material banjir menjadi pemandangan yang tak terlupakan. Di sepanjang pandangan, hanya terlihat batu-batuan besar serta kayu yang terbujur rapi. Material yang tersisa pun berukuran tidak biasa. Batu-batuan menyerupai bongkahan vulkanik, sementara batang kayu raksasa tergeletak kaku. Rasanya sulit percaya bahwa tempat ini pernah padat penduduk.

Adi, Seorang Pemanggung Duka

Di tengah serpihan bangunan, seorang pria berusia 40 tahun berdiri di depan rumah yang hancur. Adi adalah warga setempat yang kini menghadapi kehilangan berat. Selain rumah, ia juga kehilangan saudara-saudaranya. Kesedihan semakin dalam ketika ia mengungkapkan bahwa makam orang tua yang telah wafat ikut terbawa banjir, bersama jenazah dua saudara perempuannya yang hingga kini belum ditemukan.

“Orang tua sudah tidak ada, jenazahnya juga tidak ada. Satu keluarga sudah tidak ada lagi. Kakak, adik pun tidak ada,” ujarnya lirih.

Kini, Adi berusaha membangun kembali hidup bersama istrinya dan anaknya di hunian sementara yang dibangun pemerintah untuk korban Desa Gunci. Sebelum bencana, Lhok Pungki dihuni 85 kepala keluarga dengan total 326 jiwa. Kepala Desa Gunci, Fazir Ramli, menyampaikan bahwa setelah berada di tenda pengungsian hampir empat bulan, warga mulai pindah ke hunian sementara.

“Saat ini 86 unit hunian sementara sudah selesai dibangun dan digunakan,” katanya.

Bagi warga Lhok Pungki yang kehilangan segalanya, hunian tersebut menjadi harapan, tempat untuk bangkit setelah mengalami kesulitan lama.