BMKG Jatim Pantau Tanda-Tanda Munculnya Fenomena El Nino

Dalam upayanya menangani perubahan iklim, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur (Jatim) tengah memantau secara berkala terhadap kemungkinan munculnya fenomena El Nino. Dalam pernyataan terbaru, BMKG menyebutkan bahwa El Nino diperkirakan muncul di tengah tahun 2026 dengan intensitas rendah. Namun, prediksi ini bisa berubah, tergantung apakah fenomena tersebut kemudian berintensitas sedang atau tinggi.

Pengaruh El Nino Terhadap Musim Kemarau

“Jika intensitasnya naik menjadi sedang atau tinggi, durasi musim kemarau bisa memperpanjang dan awal musim hujan mungkin tertunda hingga tahun 2027,” ujar Anung Suprayitno, kepala stasiun tersebut, Sabtu.

Menurut data yang diunggah di akun media sosial resmi BMKG, musim kemarau 2026 diprediksi terjadi secara bertahap, mulai April hingga Juni. Puncak kemarau justru diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan Agustus. Pihak BMKG menyarankan daerah-daerah untuk meningkatkan pengelolaan sumber daya air dan sistem irigasi agar siap menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

Potensi Dampak El Nino pada Sektor Pertanian

“El Nino diperkirakan muncul sekitar bulan Juni dan Juli 2026. Jika intensitasnya meningkat, ada risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi,” tambah Linda Fitrotul, prakirawan BMKG.

Linda juga menjelaskan bahwa dampak El Nino akan bervariasi di setiap wilayah, tergantung kondisi lokal. BMKG telah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota untuk mempersiapkan langkah mitigasi awal, termasuk menjaga ketersediaan air bagi pertanian. Dengan menyebarkan informasi cuaca dan iklim, pihaknya membantu daerah dalam mengeksekusi tindakan responsif di lapangan.