Jalan sempit itu bernama Gang Tempe

Di tengah kota Jakarta Selatan, tepatnya di Kramat Pela, terdapat gang kecil yang memiliki cerita unik. Namanya Gang Tempe, tempat di mana aroma unik hasil fermentasi kedelai menjadi bagian dari rutinitas warga setempat. Jalan sempit ini tidak hanya menjadi jalur produksi pangan, tetapi juga menyimpan kisah tentang usaha dan harapan masyarakat sekitar.

Awal perjalanan dari 1983

Pada tahun 1983, seorang pria dari Pekalongan, Joko Asori (57), memulai karier sebagai karyawan di industri tempe murni. Pada masa itu, ia belum mengetahui bahwa langkah sederhananya akan menjadi awal dari sejarah sentra tempe di daerah tersebut. “Kami awalnya hanya bekerja di tempat orang lain, tapi seiring waktu, kami belajar dan akhirnya bisa mandiri,” jelas Joko.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

“Kami awalnya hanya bekerja di tempat orang lain, tapi seiring waktu, kami belajar dan akhirnya bisa mandiri,” kata Joko.

Dari beberapa orang yang memulai belajar membuat tempe, perlahan muncul komunitas kecil para pengrajin. Mereka berbagi teknik produksi, serta semangat bertahan hidup di tengah persaingan kota besar. Awalnya, produksi hanya fokus pada tempe murni yang dijual di pasar lokal.

Transformasi di 2011

Perubahan terjadi pada 2011, ketika Ibu Haji Tina membawa ide baru setelah kunjungan ke Jawa Tengah. Ia melihat potensi kedelai yang bisa diolah menjadi keripik tempe. Setelah beberapa kali mencoba, produk tersebut ternyata lebih diminati. Kini, Gang Tempe dikenal sebagai pusat penghasil keripik tempe yang digemari berbagai kalangan.

Kenaikan jumlah pengrajin membuat ekonomi kampung ini berkembang pesat. Dulu hanya segelintir orang, kini ada sekitar 37 produsen yang beroperasi. Keripik tempe Mama Tina menjadi pionir, diikuti oleh Pak Joko, Timoti, dan pengrajin lainnya. Tak hanya itu, Joko juga terpilih sebagai Ketua Kelompok Pengrajin Tempe Kramat Pela yang tergabung dalam Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (KOPTI) Jakarta Selatan.

Dukungan dari BRI

Pada 2021, BRI memberikan bantuan untuk mengembangkan kawasan produsen keripik tempe. Perusahaan itu menawarkan pembentukan klaster agar lebih mudah dalam pendistribusian peralatan, seperti mesin potong. Hasilnya, produksi menjadi lebih efisien, dan pangsa pasar terus meluas.

Meski ada banyak pengrajin, suasana di gang ini tetap harmonis. Setiap produsen memiliki pelanggan spesifik, mulai dari pasar tradisional hingga pesanan perkantoran. Bahkan, ada yang sudah menerobos pasar ekspor hingga ke Asia dan Timur Tengah. Ini menunjukkan bahwa usaha rumahan tetap punya peluang tumbuh secara global.

Tantangan terus ada

Di balik perkembangan positif, para pengrajin masih menghadapi masalah. Kenaikan harga bahan baku seperti kedelai, minyak goreng, dan plastik menjadi beban utama. Sementara itu, harga jual produk cenderung stagnan, membuat perlu inovasi untuk tetap bertahan.