Topics Covered: Mendukbangga kunjungi masyarakat adat Baduy untuk edukasi tentang KB

Mendukbangga Kunjungi Masyarakat Adat Baduy untuk Edukasi KB

Topics Covered – Banten – Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Wihaji, melakukan kunjungan ke Desa Kanekes, Lebak, Banten, sebagai bagian dari upaya menyebarkan kesadaran akan pentingnya pengaturan keluarga. Dalam kegiatan ini, ia fokus mengedukasi masyarakat adat Baduy tentang program KB, dengan pendekatan yang memadukan nilai lokal dan kebutuhan masyarakat. Kunjungan tersebut bertujuan memperkuat kepercayaan terhadap layanan KB serta memastikan informasi disampaikan secara efektif dalam konteks budaya yang relevan.

Kepemimpinan Mendukbangga dan Pendekatan Budaya

Wihaji menekankan bahwa strategi pendekatan budaya menjadi kunci sukses dalam meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap KB. “Dengan memahami tradisi dan kehidupan masyarakat adat, kami dapat merancang edukasi yang lebih menyentuh dan berkelanjutan,” jelasnya. Kunjungan ke Desa Kanekes, yang merupakan pusat kebudayaan Baduy, merupakan langkah konkret dalam memastikan KB mencapai semua lapisan masyarakat, termasuk yang memiliki sistem kehidupan tradisional.

“Masyarakat Baduy memiliki nilai-nilai unik terkait reproduksi, jadi kami harus mengakomodasi itu agar pesan KB lebih mudah diterima,” kata Wihaji.

Dalam rangkaian kegiatan, Mendukbangga berdialog langsung dengan warga Baduy Luar dan Baduy Dalam untuk menggali aspirasi mereka. Wihaji menegaskan bahwa pesan KB harus disesuaikan dengan konteks sosial dan budaya, karena hal ini sangat memengaruhi tingkat penerimaan dan keberlanjutan program. “KB bukan hanya alat kontrol populasi, tapi juga bagian dari upaya membangun kesejahteraan keluarga,” tambahnya.

Kerja Sama dengan Ikatan Bidan Indonesia

BKKBN terus memperluas akses layanan KB melalui kerja sama dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Dalam kunjungan ke Lebak, Wihaji menyampaikan bahwa kolaborasi ini membantu memberikan edukasi yang lebih lengkap dan terjangkau, terutama untuk masyarakat dengan gaya hidup tradisional. “Kerja sama dengan bidan lokal memastikan layanan KB tidak hanya tersedia, tetapi juga dipahami dan diterapkan dengan baik,” ujarnya.

“Dengan pendekatan dari para bidan, kita bisa membangun kepercayaan yang lebih kuat dan membuat pesan KB lebih relevan dengan kebutuhan sehari-hari warga Desa Kanekes,” tambah Wihaji.

Komitmen pemerintah untuk peningkatan kualitas generasi muda juga terwujud melalui program KB yang adaptif. Wihaji menyebutkan bahwa tata cara edukasi harus mencerminkan keunikan masyarakat adat, seperti penggunaan Bahasa Sunda sebagai media komunikasi. “Ini adalah salah satu cara untuk memastikan pesan KB masuk secara alami ke dalam kehidupan sehari-hari mereka,” katanya.

Program KB Pria dan Penguatan Kesetaraan Gender

Menurut Wihaji, edukasi KB harus mencakup seluruh lapisan, termasuk pria. “Program KB pria, seperti vasektomi, menjadi bagian penting dalam mendorong kesetaraan gender,” terangnya. Ia menjelaskan bahwa layanan KB untuk pria diterapkan dengan syarat ketat, yaitu usia minimal 35 tahun dan memiliki minimal dua anak. “Syarat ini memastikan bahwa program KB digunakan secara bijak dan tidak dianggap sebagai alat pengendalian sosial semata,” katanya.

“Dengan menjangkau pria, kita bisa memperkuat kesadaran kolektif bahwa KB adalah tanggung jawab bersama dalam pengembangan keluarga,” ujar Wihaji.

Wihaji menambahkan bahwa keberhasilan program KB bergantung pada peran masyarakat dan pemerintah. “Masyarakat adat Baduy perlu dilibatkan secara aktif, karena mereka adalah bagian dari keberlanjutan program,” katanya. Kunjungan ini menjadi momentum untuk membangun kesadaran bahwa KB adalah alat untuk mewujudkan kualitas hidup yang lebih baik, baik secara fisik maupun sosial.

Strategi Adaptif dan Peningkatan Partisipasi

Pendekatan adaptif yang digunakan BKKBN memastikan program KB tidak hanya mengandalkan informasi, tetapi juga memperkuat hubungan dengan masyarakat. Wihaji menyatakan bahwa strategi ini memberikan ruang untuk dialog yang sehat antara penyelenggara program dan warga. “Masyarakat adat Baduy memiliki sistem reproduksi yang berbeda, jadi kami harus beradaptasi agar pesan KB diterima secara optimal,” jelasnya.

“Kami juga berupaya menjadikan KB sebagai bagian dari kehidupan tradisional mereka, agar program ini tidak dianggap sebagai intervensi asing,” tambah Wihaji.

Sebagai bagian dari upaya mendukung Indonesia Emas 2045, BKKBN terus mengembangkan pelayanan KB yang menjangkau daerah terpencil. Wihaji menekankan bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari partisipasi aktif masyarakat, yang merupakan faktor utama dalam memastikan program KB berjalan efektif. “KB harus menjadi bagian dari kesadaran masyarakat, bukan sekadar kebijakan pemerintah,” pungkasnya.