Latest Program: Pedagang Teras Lenteng Agung berharap tarif retribusi kios terjangkau
Pedagang Teras Lenteng Agung Berharap Tarif Retribusi Kios Terjangkau
Latest Program – Jakarta — Pasca pembukaan Teras Lenteng Agung (LA), kawasan yang diresmikan sebagai pusat perdagangan baru di Jakarta Selatan, sejumlah pedagang menyampaikan keinginan agar tarif retribusi kios dapat diatur lebih rendah. Mereka mengharapkan biaya tersebut tidak terlalu tinggi, terutama karena lokasi ini baru saja mulai beroperasi dan masih dalam fase adaptasi. Salah satu pedagang, Heru, menjelaskan bahwa saat ini dirinya belum terbiasa dengan pengelolaan bisnis di sini. “Retribusi semurah-murahnya, kalau mahal bisa nego, Rp300 ribu mahal,” ujarnya saat ditemui di area Teras LA, Jumat lalu. Heru menambahkan bahwa pengunjung mulai ramai pada sore hari, terutama saat matahari terbenam. “Kalau siang, masih banyak yang tutup. Biasanya sore ke malam hari, akhir pekan makin padat karena ada live music,” jelasnya.
“Retribusi semurah-murahnya, kalau mahal bisa nego, Rp300 ribu mahal,”
Sejumlah pedagang lain juga mengungkapkan perasaan serupa. Menurut mereka, biaya retribusi yang terlalu tinggi berpotensi mengurangi margin keuntungan, terutama untuk usaha mikro yang masih menyesuaikan diri dengan kondisi baru. “Saat ini, keuntungan masih harus dipertimbangkan secara ekstra, apalagi saat ini kita belum benar-benar stabil,” kata Heru. Ia mengatakan bahwa situasi ini memaksa para pedagang beradaptasi, termasuk mengatur jam operasional agar sesuai dengan arus pengunjung. Meski demikian, Heru optimis bahwa dengan dukungan dari pihak pengelola, kawasan ini akan menjadi destinasi yang menarik.
Kawasan Teras LA Masih dalam Masa Awal Pengelolaan
Dalam upaya mendukung para pedagang, Suku Dinas PPKUKM Jakarta Selatan menyatakan bahwa kios-kios di Teras LA masih dalam masa awal pengelolaan. “Saat ini, seluruh kios telah terisi, dan kita masih menunggu penyesuaian mekanisme retribusi yang segera disampaikan,” ungkap salah satu perwakilan dari dinas tersebut. Ia menjelaskan bahwa tarif retribusi akan ditentukan setelah proses penilaian selesai, sehingga para pedagang diberi waktu untuk menyesuaikan diri. Selama masa ini, seluruh pelaku usaha mikro dan kecil (UMKM) di kawasan Teras LA tetap mendapatkan fasilitas sewa gratis.
Kawasan Teras LA memiliki luas total 7.500 meter persegi, dengan sebagian besar area dialokasikan bagi pedagang yang sebelumnya menempati Lokasi Sementara (Loksem) JS 25, JS 26, JS 30, dan JS 96. Teras LA diharapkan menjadi pusat kegiatan ekonomi yang berkelanjutan, sekaligus mengurangi tekanan pada kawasan tradisional lainnya. Dalam beberapa bulan terakhir, peningkatan jumlah pengunjung terus terjadi, terutama pada akhir pekan. Namun, Heru menyatakan bahwa arus pengunjung belum merata, dengan puncaknya hanya terjadi di sore hari.
Struktur Zona dan Fasilitas Pendukung
Sentra Fauna, yang dikenal juga sebagai Teras LA, dibagi dalam tiga zona utama. Zona A menampung 22 kios kuliner yang menjadi daya tarik utama bagi pengunjung. Zona C dan D diperuntukkan bagi pedagang burung serta pakan hewan, dengan jumlah total 74 kios. Zona E, di sisi lain, menyediakan 29 kios untuk menjual produk parsel dan makanan ringan. Zona B, yang berupa amfiteater, masih dalam proses pengembangan. “Mungkin bisa ditambahkan pohon agar rindang dan enggak terlalu panas di sini,” saran Minah, pedagang eks Barito. Ia menilai keberadaan pepohonan dapat meningkatkan kenyamanan pengunjung dan memperkuat citra Teras LA sebagai kawasan yang ramah lingkungan.
“Mungkin bisa ditambahkan pohon agar rindang dan enggak terlalu panas di sini,”
Dalam rangka mempercepat pengembangan kawasan, pihak pengelola menyiapkan berbagai fasilitas pendukung, termasuk pengaturan jadwal penerangan, tempat parkir, dan sistem pelayanan kebersihan. Meski demikian, Minah menekankan bahwa biaya retribusi tetap menjadi prioritas. “Selain tarif yang terjangkau, pengelola juga perlu memperhatikan keberlanjutan bisnis pedagang jangka panjang,” tambahnya. Ia menilai bahwa dengan biaya retribusi yang tidak terlalu memberatkan, para pedagang akan lebih mudah berinvestasi dalam pengembangan usaha.
Kawasan Teras LA terus menjadi sorotan karena lokasinya yang strategis di tengah kota. Dengan fasilitas yang sedang diperbaiki dan keramaian yang mulai terlihat, diharapkan kawasan ini bisa menjadi pilihan baru bagi warga Jakarta Selatan maupun pengunjung dari luar daerah. Namun, tantangan terbesar yang dihadapi para pedagang adalah perubahan pola konsumsi dan kesesuaian biaya retribusi dengan kemampuan keuangan mereka. “Jika tarifnya terlalu tinggi, bisa jadi pengunjung yang datang untuk jangka pendek,” kata Heru. Ia menyarankan agar pihak pengelola melakukan evaluasi berkala terhadap tarif retribusi, agar sesuai dengan kondisi perekonomian masyarakat.
Menurut data dari Suku Dinas PPKUKM, Teras LA telah menampung 125 pedagang sejak dibuka. Angka ini menunjukkan bahwa kawasan ini mulai menarik minat para pelaku usaha. Namun, pengelolaan yang optimal masih dibutuhkan untuk memastikan keberlanjutan. “Kita harus memastikan bahwa tarif retribusi tidak hanya menarik bagi pedagang saat ini, tetapi juga menjaga daya tarik di masa depan,” kata salah satu perwakilan dinas. Ia menjelaskan bahwa pihak pengelola sedang berupaya mengoptimalkan penggunaan lahan dan fasilitas agar bisa memenuhi kebutuhan pedagang secara merata.
Teras LA tidak hanya menjadi tempat berjualan, tetapi juga menjadi pusat sosial dan budaya. Dengan adanya live music dan berbagai acara serupa, kawasan ini diharapkan mampu menarik minat pengunjung sekaligus memperkaya pengalaman berbelanja. Namun, untuk mencapai hal tersebut, para pedagang membutuhkan dukungan finansial dan regulasi yang tepat. “Jika tarif retribusi bisa lebih fleksibel, bisnis kita bisa berkembang lebih cepat,” kata Heru. Ia juga menyoroti pentingnya kerja sama antara pihak pengelola dan para pedagang untuk menciptakan lingkungan usaha yang nyaman.
Dengan luas area yang mencapai 7.500 meter persegi, Teras LA memiliki potensi besar menjadi salah satu sentra perdagangan yang diminati. Namun, tantangan dalam pengelolaan masih ada, terutama dalam menyesuaikan tarif retribusi dengan kondisi pasar. Selain itu, peningkatan jumlah pengunjung yang terus berlangsung juga memerlukan perhatian khusus dari pihak terkait untuk menjamin kenyamanan dan keamanan. Dalam jangka panjang, Teras LA diharapkan mampu menjadi solusi alternatif bagi warga yang ingin berbelanja dengan fasilitas lengkap dan harga yang kompetitif.
