Important Visit: Dubes Djauhari harap relasi pengusaha RI-China bersifat jangka panjang

Dubes Djauhari Oratmangun Harap Relasi Bisnis RI-China Berorientasi Jangka Panjang

Important Visit – Shanghai menjadi panggung penting bagi Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia, Djauhari Oratmangun, yang dalam Forum Bisnis Indonesia-China baru-baru ini mengungkapkan keyakinan terhadap potensi pertumbuhan hubungan perdagangan bilateral. Ia menekankan pentingnya membangun hubungan yang lebih dalam, bukan hanya sebagai transaksi jual-beli, tetapi sebagai kemitraan strategis yang berkelanjutan. “Membangun hubungan jangka panjang yang dilandasi kepercayaan adalah kunci untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar global,” ujarnya.

Transformasi Peran China dalam Ekosistem Global

Dubes Djauhari menyampaikan pandangan bahwa Tiongkok kini bukan hanya negara produsen utama, melainkan menjadi pusat inovasi yang mendorong perubahan struktur ekonomi dunia. Dalam kesempatan tersebut, ia menyoroti bahwa forum bisnis seperti ini bisa menjadi katalisator transaksi besar ke depan. “Dengan menjembatani pelaku usaha dari kedua negara, forum ini menciptakan ruang dialog yang efektif,” tambahnya.

“China bukan lagi sekadar pabrik dunia, tetapi laboratorium inovasi global. Kemitraan yang berkelanjutan akan membuka akses ke rantai pasok yang lebih luas, sekaligus mendorong ekosistem produksi yang lebih berkualitas,”

Hadir dalam forum tersebut adalah Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri, Konsul Jenderal RI di Shanghai, Berlianto Situngkir, serta sekitar 30 pengusaha dari Indonesia dan Tiongkok yang fokus pada produk pangan olahan. Menurut Djauhari, kehadiran mereka menunjukkan komitmen untuk mengembangkan hubungan perdagangan yang saling menguntungkan. “Tiongkok memiliki sumber daya manusia dan infrastruktur yang memadai, sehingga menjadi mitra yang ideal untuk kerja sama jangka panjang,” ujarnya.

Ekspor Produk Unggulan Indonesia ke Tiongkok

Dalam penyampaian, Djauhari mengungkapkan bahwa beberapa produk unggulan Indonesia seperti buah-buahan, kopi, rempah-rempah, dan makanan ringan telah menjadi incaran pasar Tiongkok. “Dengan menawarkan insentif yang menarik, kita bisa memastikan bahwa transaksi tidak hanya terbatas pada produk akhir, tetapi juga mengarah pada kolaborasi dalam inovasi,” katanya.

“Tujuan kami adalah memberikan ruang bagi pengusaha untuk mengeksplorasi potensi ekspor, sekaligus menunjukkan kemajuan industri pangan Indonesia. Mereka datang ke Tiongkok bukan hanya sebagai pembeli, tetapi sebagai mitra yang mampu mengakses pasar global,”

Menurut data yang disampaikan, nilai perdagangan Indonesia-China telah mencapai 167,5 miliar dolar AS pada 2025, meningkat lebih dari 113% dalam lima tahun terakhir. Kinerja ini menjadikan Tiongkok sebagai mitra dagang utama Indonesia sejak 2011. Dalam konteks tersebut, Djauhari menyebutkan bahwa eksportir dari Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan jaringan global melalui kemitraan dengan perusahaan Tiongkok.

Pertumbuhan Ekspor dan Keterlibatan Pemerintah

Nilai perdagangan yang tinggi tersebut juga dibandingkan dengan mitra lain seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat. Dalam angka, ekspor Indonesia ke Eropa hanya mencapai 30 miliar dolar AS, sementara ke Amerika Serikat sekitar 50 miliar dolar AS. “Kita perlu memanfaatkan keunggulan China sebagai mitra dagang untuk menggeser ketergantungan pada pasar lain,” kata Djauhari.

“Dengan kerja sama yang baik, kita bisa mencapai transaksi skala besar yang membantu mempercepat proses globalisasi produk Indonesia. Masyarakat bisnis Tiongkok akan menyadari bahwa mereka berada di tempat yang tepat untuk menemukan peluang emas,”

Dubes Djauhari juga menyebutkan bahwa pemerintah Indonesia sedang bergerak untuk meningkatkan nilai tambah industri pangan. Proses hilirisasi yang sedang berjalan membawa perubahan signifikan dalam produksi dan kualitas produk. “Kerja sama dalam bentuk joint venture akan memberikan dampak besar, terutama dalam hal teknologi dan pemasaran global,” ujarnya.

Partisipasi UMKM dalam SIAL Shanghai 2026

Satu hari sebelum forum bisnis, kehadiran UMKM Indonesia di sektor makanan dan minuman mencatatkan transaksi awal sebesar 3,5 juta dolar AS atau sekitar Rp62 miliar. Kegiatan ini berlangsung di paviliun Indonesia dalam pameran internasional “Salon International de l’Alimentation” (SIAL) Shanghai 2026. UMKM yang terpilih telah melalui seleksi ketat dari ratusan peserta, dengan fokus pada produk unggulan seperti keripik tempe, keripuk buah, abon ikan, gula aren, dan kopi.

Dubes Djauhari mengakui bahwa keikutsertaan UMKM binaan Bank Indonesia dalam SIAL 2026 menjadi langkah strategis untuk memperkuat kehadiran produk pangan Indonesia di pasar Tiongkok. “Kerja sama ini bukan hanya tentang ekspor, tetapi juga membangun ekosistem bisnis yang lebih kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Potensi Ekspor dan Masa Depan Industri Pangan

Menurut Djauhari, keripik tempe, bawang goreng, abon ikan, cokelat, dan gula aren menjadi bagian dari upaya Indonesia untuk menawarkan keunikan produk kepada konsumen Tiongkok. Sementara itu, 11 UMKM kopi yang terpilih diharapkan mampu memperkaya pasar internasional dengan varian rasa dan kualitas yang mendukung kebutuhan masyarakat global. “Kita perlu menunjukkan bahwa produk Indonesia bukan hanya memenuhi permintaan lokal, tetapi juga bisa menjadi bagian dari preferensi internasional,” tuturnya.

Keikutsertaan UMKM dalam pameran SIAL 2026 juga menjadi wujud dari komitmen pemerintah Indonesia dalam mendukung pengembangan industri kreatif dan ekspor. “Dengan insentif yang diberikan, kita bisa memastikan UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh bersama pasar Tiongkok,” jelas Djauhari. Ia menegaskan bahwa kehadiran Indonesia di event internasional seperti SIAL membuka peluang ekspor yang lebih luas, khususnya di sektor pangan.

Dubes Djauhari Oratmangun menutup pidatonya dengan harapan bahwa forum bisnis dan pameran ini bisa menjadi langkah awal untuk membangun kemitraan berkelanjutan. “Kerja sama antara pengusaha Indonesia dan Tiongkok akan menjadi fondasi untuk ekspor yang lebih besar, khususnya di pasar yang sedang berkembang,” pungkasnya. Dengan strategi ini, Indonesia diperkirakan akan semakin mendominasi sektor ekspor, termasuk produk pangan, ke negara-negara lain di Asia Tenggara dan kawasan Asia Pasifik.