Key Discussion: Indonesia dukung agenda China dorong transformasi digital di APEC 2026
Indonesia Dukung Agenda China Dorong Transformasi Digital di APEC 2026
Key Discussion – Dalam pertemuan APEC 2026 yang berlangsung di Shanghai, Indonesia menunjukkan dukungan terhadap inisiatif China sebagai ketua bergilir forum tersebut. Pemerintah Indonesia menekankan pentingnya kerja sama global dalam mewujudkan transformasi digital yang inklusif, serta menggali potensi kolaborasi di berbagai bidang ekonomi. Hal ini diungkapkan oleh Santo Darmosumarto, Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kementerian Luar Negeri RI, dalam wawancara dengan ANTARA di Beijing, Selasa. Santo mengatakan bahwa Indonesia siap membantu China dalam mendorong agenda digital yang bertujuan meningkatkan keterlibatan semua pihak, termasuk bisnis kecil dan menengah (UKM), serta kelompok rentan seperti perempuan dan pemuda.
Kolaborasi Digital: Fokus pada Inklusivitas
Santo menjelaskan bahwa Indonesia akan berupaya mendukung upaya China dalam mendorong kerja sama ekonomi di bawah pilar-pilar yang mereka tetapkan. “Kita akan fokus pada bagaimana transformasi digital bisa memberikan manfaat langsung bagi masyarakat yang belum terakses sepenuhnya,” katanya dalam
“Pertama, kita akan berupaya mendukung upaya China dalam mendorong kerja sama ekonomi di bawah pilar-pilar yang mereka tetapkan. Kita menekankan bahwa digitalisasi tidak hanya menjadi alat efisiensi, tetapi juga wadah inklusif yang mampu memberdayakan berbagai sektor ekonomi,”
kata Santo.
Menurut Santo, salah satu tujuan utama Indonesia dalam memperkuat hubungan dengan China di APEC adalah memastikan bahwa inisiatif digital tidak hanya menguntungkan perusahaan besar, tetapi juga mendorong pertumbuhan usaha kecil dan menengah. “Kami ingin menunjukkan bahwa transformasi digital bisa menjadi jembatan bagi bisnis lokal untuk berkembang secara lebih cepat,” imbuhnya. Santo menekankan bahwa isu ini sangat relevan karena keberhasilan digitalisasi akan tergantung pada kemampuan semua pelaku ekonomi, termasuk pengusaha pemula, untuk memanfaatkan teknologi secara optimal.
Ketahanan Rantai Pasok: Prioritas Indonesia
Di samping transformasi digital, Santo juga menyoroti pentingnya memperkuat ketahanan rantai pasok (supply chain resilience) di kawasan Asia-Pasifik. “Indonesia memprioritaskan isu ini karena kita melihat dampak langsung dari ketidakstabilan global terhadap distribusi barang di dalam negeri,” jelasnya dalam
“Indonesia menekankan isu ketahanan rantai pasok, baik dalam konteks kekuatan ekonomi maupun keamanan logistik. Ini sangat krusial, terutama dengan situasi geopolitik yang berubah cepat di Timur Tengah,”
kata Santo.
Santo menambahkan bahwa Indonesia ingin memastikan bahwa kerja sama dalam rantai pasok tidak hanya sekadar mengatasi hambatan eksternal, tetapi juga mengembangkan sistem yang lebih kuat dan berkelanjutan. “Kita berharap APEC bisa menjadi wadah untuk membangun kerangka kerja sama yang saling menguntungkan, termasuk dalam menghadapi gangguan dari perang dagang dan krisis ekonomi global,” papar Santo. Ia menegaskan bahwa isu ketahanan rantai pasok menjadi lebih sensitif setelah sejumlah negara di kawasan mengalami gangguan pasokan akibat konflik politik dan perubahan kebijakan perdagangan.
Kontribusi UMKM: Kunci Perekonomian Nasional
Salah satu alasan Indonesia menekankan peran UMKM dalam transformasi digital adalah karena sektor ini menjadi tulang punggung perekonomian. “UMKM kontribusi sekitar 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja di Indonesia,” kata Santo dalam
“Sektor usaha kecil dan menengah memiliki peran vital dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional. Kami ingin memastikan transformasi digital tidak hanya menjadi prioritas pemerintah, tetapi juga bisa diakses oleh usaha mikro, kecil, dan menengah di seluruh Indonesia,”
ujarnya.
Santo menekankan bahwa keberhasilan APEC tidak hanya tergantung pada kebijakan besar, tetapi juga pada kemampuan anggota untuk memperkuat pengaruh UMKM dalam menggerakkan perekonomian. “Kami percaya bahwa melalui kerja sama yang lebih intensif, UMKM bisa berperan aktif dalam menopang pertumbuhan ekonomi, termasuk melalui partisipasi perempuan dan pemuda di berbagai sektor,” jelas Santo. Ia menambahkan bahwa pemerintah Indonesia akan memastikan bahwa kebijakan digital tidak hanya menguntungkan perusahaan besar, tetapi juga memberikan peluang kepada pengusaha lokal untuk memperluas pasar dan meningkatkan produktivitas.
Pertemuan Senior Officials’ Meeting (SOM) di Shanghai
SOM APEC 2026 di Shanghai merupakan pertemuan kedua yang diadakan di China. Sebelumnya, pertemuan pertama berlangsung pada 1-10 Februari 2026 di Guangzhou, dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi sebagai pembicara utama. Pertemuan ini dianggap sebagai langkah awal penting dalam mengembangkan kerja sama dengan China sebagai ketua bergilir. “Dalam SOM di Shanghai, Tiongkok mengharapkan hasil konkret dalam empat agenda utama, yaitu perdagangan, konektivitas, inovasi, serta pembangunan berkelanjutan,” kata Santo dalam
“Tiongkok bertujuan menghasilkan hasil nyata dalam empat agenda utama, yaitu perdagangan, konektivitas, inovasi, serta pembangunan berkelanjutan. Mereka ingin membangun kerangka kerja sama untuk tindakan kolektif antaranggota APEC,”
jelas Santo.
Pertemuan ini menjadi momen penting untuk memperkuat hubungan ekonomi antarmitra. Santo mengatakan bahwa Indonesia ingin menunjukkan bagaimana norma-norma yang dibuat bersama dalam APEC bisa menjadi dasar untuk program konkret yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat. “Kami ingin menegaskan bahwa keberhasilan APEC tidak hanya diukur dari kebijakan nasional, tetapi juga dari kemampuan anggota untuk mendorong transformasi ekonomi di tingkat lokal,”
papar Santo. Ia menambahkan bahwa partisipasi masyarakat Indonesia dalam kegiatan APEC akan semakin signifikan, terutama dengan adanya perusahaan-perusahaan kuat yang sedang mengubah sistem perdagangan global.
APEC: Forum Kerja Sama Ekonomi Global
APEC, atau Asia-Pacific Economic Cooperation, merupakan forum kerja sama yang melibatkan 21 entitas ekonomi di lingkar Samudera Pasifik, termasuk Indonesia dan Tiongkok. Forum ini didirikan pada tahun 1989 dan memiliki tujuan utama untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui kolaborasi di berbagai bidang, seperti perdagangan bebas, investasi, dan inovasi. Santo menyoroti bahwa Indonesia ingin memastikan bahwa APEC tetap menjadi platform yang inklusif dan efektif, terutama dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks di era globalisasi.
Dalam konteks APEC 2026, Indonesia mengusung pandangan bahwa keberhasilan transform
