Kementrans sebut RI berpotensi pasok 3 miliar butir kelapa ke China

Kementerian Transmigrasi Optimistis Indonesia Bisa Pasok 3 Miliar Butir Kelapa ke Tiongkok

Kementrans sebut RI berpotensi pasok 3 miliar – Jakarta – Kementerian Transmigrasi (Kementrans) melalui Menteri Transmigrasi, M Iftitah Sulaiman Suryanagara, menyampaikan bahwa petani kelapa di Indonesia memiliki peluang signifikan untuk meningkatkan ekspor komoditas ini ke Tiongkok. Menurut Iftitah, pasar kelapa di Tiongkok membutuhkan sekitar 4 miliar butir per tahun, tetapi hingga kini hanya sekitar 1 miliar butir yang berasal dari Provinsi Hainan yang berhasil dijual. “Ini berarti masih ada ruang untuk dikembangkan sebanyak 3 miliar butir,” ujarnya pada Selasa (20/2/2024) di Jakarta. Ia menegaskan bahwa potensi ekspor kelapa ini merupakan kesempatan besar yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia, terutama di daerah transmigrasi.

“Kelapa itu kebutuhannya 4 miliar butir (per tahun) di Tiongkok (China), tapi mereka hanya mampu dari yang mereka miliki di Provinsi Hainan itu hanya 1 miliar butir, jadi masih ada gapnya 3 miliar butir,” ucap Iftitah.

Dalam upayanya mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor pertanian, Kementrans juga menyoroti berbagai komoditas lainnya yang memiliki potensi ekspor yang tinggi. Ia mencontohkan durian, kopi, dan cokelat sebagai produk agro yang bisa dikembangkan menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia. “Pasar durian di Tiongkok sangat besar, bisa mencapai Rp120 triliun hingga Rp137 triliun setiap tahun, tetapi nilai ekspor durian lokal ke sana masih jauh di bawah Rp1 triliun,” tambahnya.

Iftitah juga menyebutkan bahwa produksi durian di Sulawesi Tengah sangat melimpah, tetapi petani setempat kesulitan menemukan pasar yang tepat. “Berdasarkan informasi dari para kepala daerah dan gubernur setempat, hasil panen durian di daerah tersebut seringkali tidak bisa dijual karena kurangnya akses ke pasar ekspor,” kata Iftitah. Hal ini menurutnya menjadi peluang bagi masyarakat di kawasan transmigrasi untuk meningkatkan pendapatan melalui ekspor. Ia menambahkan, nilai jual durian di daerah asal hanya berkisar antara Rp4-5 ribu per butir, sementara harga ekspor ke Tiongkok bisa mencapai Rp25 ribu.

“Otomatis peningkatan pendapatan (masyarakat) akan signifikan (berdampak) dengan penurunan angka kemiskinan,” ujar Iftitah.

Kementerian Transmigrasi berkomitmen untuk memperkuat kerja sama dengan pihak terkait guna membangun koridor ekonomi yang menghubungkan wilayah Poso, Sigi, dan Parigi Moutong di Sulawesi Tengah. Program ini bertujuan mempercepat proses pengolahan dan pemanfaatan produk perkebunan, serta menciptakan lapangan kerja yang lebih luas. “Melalui koridor ekonomi ini, kita juga ingin mengembangkan industri dan hilirisasi komoditas lokal agar lebih bernilai tambah,” imbuh Iftitah. Ia menekankan bahwa pembangunan kawasan ekonomi tersebut akan dijalankan sesuai aturan dan prosedur yang berlaku, serta dengan status lahan yang jelas.

Pembukaan lahan untuk koridor ekonomi ini, menurut Iftitah, akan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan. “Kita pastikan bahwa penggunaan lahan tidak merusak ekosistem sekitar, dan selalu dalam batas Hak Pengelolaan Lahan Transmigrasi (HPL),” jelasnya. Ia juga menyebutkan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat setempat, dan pelaku usaha. “Kita perlu membangun sinergi yang kuat agar ekspor bisa terus berkembang,” kata Iftitah.

Ekspor Agro Produk: Tantangan dan Peluang

Kementerian Transmigrasi memandang bahwa ekspor agro produk seperti kelapa, durian, kopi, dan cokelat bisa menjadi pilar utama dalam pembangunan daerah. “Pertanian tidak hanya menjadi sumber kebutuhan makanan, tetapi juga peluang ekonomi besar untuk masyarakat transmigrasi,” kata Iftitah. Ia menyoroti bahwa pengembangan komoditas ini memerlukan strategi yang terarah, termasuk penguasaan teknologi pertanian, akses ke pasar internasional, dan peningkatan kualitas produk.

Dalam konteks ekspor kelapa, Iftitah menyebutkan bahwa perlu ada peningkatan kapasitas produksi serta infrastruktur pendukung seperti gudang, pengemasan, dan transportasi. “Kita juga sedang mengevaluasi ketersediaan bahan baku dan kemampuan logistik di berbagai wilayah transmigrasi,” katanya. Dengan adanya koridor ekonomi, diharapkan bisa mengurangi hambatan-hambatan tersebut dan memberikan ruang bagi petani untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

“Sementara di Sulawesi Tengah, menurut penuturan kepala daerah dan gubernur setempat, itu tadinya (hasil panen) durian itu melimpah, tidak tahu mau dijual ke mana,” kata Iftitah.

Iftitah menambahkan bahwa minat pasar Tiongkok terhadap produk pertanian Indonesia sangat tinggi, terutama dalam era ekonomi global yang semakin terbuka. “Negara tersebut mencari pasokan komoditas yang stabil dan berkualitas, dan Indonesia memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan mereka,” katanya. Untuk menjaga kualitas, pemerintah menurutnya akan melakukan pengawasan ketat terhadap proses panen, pengolahan, dan distribusi. “Kita juga ingin memastikan bahwa produk yang diekspor memenuhi standar internasional,” ujarnya.

Koridor Ekonomi dan Langkah Penguatan Komoditas

Pembangunan koridor ekonomi di Sulawesi Tengah menjadi salah satu langkah konkret untuk mendorong ekspor agro produk. Iftitah menjelaskan bahwa koridor ini akan terintegrasi dengan jalur transportasi darat, laut, dan udara, sehingga memudahkan distribusi barang ke berbagai wilayah. “Kita juga berencana menghubungkan koridor ini dengan pusat-pusat produksi lainnya di Indonesia untuk membentuk jaringan ekspor yang lebih luas,” katanya.

Dalam konteks durian, Kementrans berupaya memfasilitasi keterlibatan petani transmigrasi dalam memperluas pasar. “Dengan memperbaiki kualitas dan mempercepat distribusi, durian lokal bisa bersaing dengan produk dari daerah lain, termasuk Hainan,” ujar Iftitah. Ia juga menyoroti pentingnya penguasaan teknik pengemasan dan pemasaran modern, seperti penggunaan label berbasis digital, untuk meningkatkan daya tarik produk di luar negeri.

Selain itu, Kementerian Transmigrasi berkomitmen untuk memberikan pelatihan kepada petani transmigrasi agar mereka mampu mengelola usaha pertanian secara lebih profesional. “Kita juga ingin mendorong penggunaan teknologi pertanian, seperti irigasi modern dan pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal,” kata Iftitah. Dengan program ini, diharapkan komoditas seperti kelapa dan durian bisa berkembang menjadi pilihan utama bagi konsumen Tiongkok.

Menurut Iftitah, keterlibatan masyarakat transmigrasi dalam ekspor agro produk bukan hanya membantu perekonomian mereka, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam ekspor global. “Ini adalah bagian dari upaya untuk mendorong kemandirian ekonomi dan menurunkan tingkat kemiskinan di daerah-daerah transmigrasi,” ujarnya. Dengan memanfaatkan potensi yang ada, Kementrans yakin bahwa Indonesia bisa menjadi salah satu negara yang dominan dalam pasokan komoditas pertanian ke Tiongkok.

Keberhasilan program ini, menurut Iftitah, juga bergantung pada dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat. “Kita perlu berkolaborasi dengan semua pihak agar komoditas agro Indonesia bisa berkembang secara signifikan,” pungkasnya. Dengan demikian, Kementerian Transmigrasi menegaskan bahwa ekspor komoditas agro bukan hanya soal kebutuhan pasar, tetapi juga soal penguatan kesejahteraan masyarakat transmigrasi