Kita Bersedekah
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: Komisi VII DPR mintai AK-Tekstil Solo ciptakan inovasi tingkatkan SDM

Published 23/05/2026 · Updated 23/05/2026 · By Sholeh hidayat

Jawa Tengah - Komisi VII DPR Mengunjungi AK-Tekstil Solo untuk Diskusi Peningkatan SDM

Latest Program - Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menekankan perlunya inovasi dalam pendidikan di Kampus Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil Surakarta (AK-Tekstil Solo) guna meningkatkan kualitas lulusan. Menurutnya, industri saat ini sudah menerapkan teknologi modern, sehingga para mahasiswa masih perlu ditingkatkan kemampuan untuk mengikuti kebutuhan kerja di lapangan. “Kita perlu menciptakan perubahan baru, termasuk pengembangan mesin, agar lulusan AK-Tekstil bisa lebih siap menghadapi dunia kerja,” ujarnya saat mengunjungi kampus tersebut di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (22/5). Evita menyoroti bahwa kesenjangan antara kemajuan industri dan kesiapan lulusan merupakan tantangan yang harus diatasi secara bersama.

Kunjungan untuk Evaluasi dan Perbaikan Pendidikan Tekstil

Komisi VII DPR RI melakukan kunjungan ke AK-Tekstil Solo guna menggali permasalahan terkait sumber daya manusia (SDM) di sektor industri. Dalam sesi diskusi, Evita mengatakan bahwa dari informasi yang disampaikan oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian dan Direktur AK-Tekstil, masih ada banyak tugas yang harus dikerjakan oleh institusi vokasi ini. “Sampai saat ini, tidak hanya perlu perbaikan dalam kurikulum, tetapi juga pengelolaan program studi agar lebih relevan dengan kebutuhan industri,” tambahnya.

“Sementara industri sudah beralih ke mesin modern, lulusan AK-Tekstil masih kurang siap menghadapi kebutuhan kerja di lapangan,” kata Evita Nursanty.

Dalam penjelasannya, Evita menyoroti bahwa jumlah mahasiswa di AK-Tekstil Solo masih relatif sedikit dibandingkan dengan jumlah dosen dan sarana pendidikan yang dimiliki. Dari data terkini, satu angkatan hanya terdiri dari 90 mahasiswa, sementara jumlah dosen dan tenaga pendidik mencapai 72 orang. “Kita tidak kekurangan tenaga pengajar, jadi perlu diperhatikan bagaimana pola kerja politeknik ini bisa lebih efisien lagi,” katanya. Evita juga mengungkapkan bahwa ketertarikan calon mahasiswa untuk memilih AK-Tekstil Solo masih terbatas, sehingga perlu dilakukan penyesuaian dalam strategi pengembangan.

Rebranding dan Sinergi dengan Dunia Industri

Kepala BPSDMI Kementerian Perindustrian, Doddy Rahadi, menyampaikan bahwa kunjungan Komisi VII DPR RI memberikan masukan penting untuk penyempurnaan program pendidikan. Ia menekankan pentingnya menghubungkan rebranding kampus dengan kebutuhan industri, termasuk memperbarui peralatan yang sudah usang selama 15 tahun. “Kami perlu menyamakan output pendidikan dengan standar dunia kerja, salah satunya melalui program magang yang lebih intensif di industri,” jelas Doddy. Menurutnya, kolaborasi antara lembaga pendidikan dan sektor industri menjadi kunci dalam menciptakan SDM yang berkualitas.

“Tadi kan peralatan (usia alat) sudah 15 tahun, ini harus kami sesuaikan, kemudian juga ada link and match dengan dunia industri, ada program magang di industri. Ini bagian dari cara kami menyamakan output,” katanya.

Evita juga mengingatkan bahwa jenjang pendidikan di AK-Tekstil Solo masih dominan di tingkat D2, padahal industri membutuhkan tenaga yang lebih tinggi, seperti D4 atau S1. “Kalau masih hanya D2, kita akan kalah dari SDM negara tetangga. Di China, misalnya, banyak lulusan S3 di sektor ini,” ujarnya. Hal ini mengisyaratkan perlunya upgrading program studi untuk menyesuaikan dengan permintaan pasar.

Langkah Awal dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan

Direktur AK-Tekstil Solo, Wawan Ardi Subakdo, menyebutkan bahwa kampus sedang mengeksplorasi kerja sama beasiswa dengan pemerintah daerah. “Kami sedang mendorong program beasiswa yang bisa ditawarkan oleh pemda, terutama di wilayah Solo Raya yang memiliki industri tekstil,” kata Wawan. Ia menambahkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Dinas Tenaga Kerja, dengan harapan bisa menemui bupati dan wali kota untuk menegaskan komitmen pengembangan SDM.

“Program beasiswa sedang berjalan yang akan terus dukung kebutuhan industri di Solo Raya. Wilayah yang ada industrinya kami datangi pemdanya, kami jajaki. Harapannya kami bisa bertemu dengan bupati dan wali kota yang ada di sana,” katanya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Tengah, Samuel Hartono, memberikan rekomendasi terkait peningkatan jenjang pendidikan dan penambahan program studi. Ia menyarankan agar AK-Tekstil Solo membuka jalur D4 atau bahkan S1 untuk memperkuat kompetensi lulusan. “Kalau masih hanya D2, SDM kami akan kalah dari negara-negara tetangga. Di China, misalnya, ada banyak lulusan S3 di sektor tekstil,” jelas Samuel. Ia juga menyoroti perlunya penambahan Program Studi Pencelupan dan Kimia Tekstil, karena bidang tersebut merupakan inti dari industri tekstil.

“Ini paling penting karena merupakan kunci, tekstil itu ya kimia tekstil,” katanya.

Kunjungan Komisi VII DPR RI ke AK-Tekstil Solo tidak hanya fokus pada evaluasi masa depan, tetapi juga menggali potensi kampus dalam memenuhi permintaan industri. Dalam diskusi, para peserta menyepakati bahwa peningkatan SDM harus didukung oleh pengembangan kurikulum yang lebih adaptif, serta kerja sama lebih erat dengan lembaga pendidikan dan sektor industri. “Masukan dari Komisi VII sangat berarti, karena memberikan arah yang lebih jelas untuk perbaikan sistem pendidikan di AK-Tekstil,” tambah Doddy Rahadi.

Permasalahan utama yang diungkapkan oleh rekan-rekan di kampus dan industri adalah ketidakseimbangan antara jumlah mahasiswa dan fasilitas pendidikan. Selain itu, evolusi teknologi di industri mengharuskan lulusan memiliki kemampuan yang lebih spesifik dan terkini. Dengan adanya penyesuaian ini, diharapkan AK-Tekstil Solo bisa menjadi pusat pengembangan SDM yang mampu bersaing secara global. Evita Nursanty menegaskan bahwa komitmen politik dan dukungan dari lembaga pemerintah serta industri sangat vital dalam mewujudkan visi tersebut.

Proses peningkatan kualitas pendidikan juga melibatkan evaluasi terhadap metode pengajaran dan pembelajaran. Dengan penggunaan mesin modern di industri, para mahasiswa perlu diberikan kesempatan untuk langsung berinteraksi dengan alat dan teknologi terkini. “Kami perlu menciptakan lingkungan belajar yang lebih praktis, sehingga mahasiswa bisa merasakan langsung tantangan kerja di industri,” kata Evita. Hal ini berarti perlu adanya penyesuaian kurikulum agar lebih berbasis kebutuhan industri, termasuk penambahan mata kuliah yang relevan dengan perkembangan teknologi.

Kepala BPSDMI Kementerian Perindustrian, Doddy Rahadi, menambahkan bahwa rebranding kampus harus dilakukan secara bertahap, tetapi dengan visi yang jelas. “Kami sudah mendapat masukan dari berbagai pihak, termasuk industri dan asosiasi. Ini menjadi dasar untuk merevisi program studi agar lebih mengakomodasi kebutuhan pasar,” katanya. Ia berharap, dengan perubahan ini, AK-Tekstil Solo bisa menjadi model pendidikan vokasi yang lebih efektif di Jawa Tengah.

Evita Nursanty menutup diskusi dengan menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan lembaga pendidikan. “Kami ingin menjamin bahwa lulusan AK-Tekstil Solo tidak hanya memiliki pengetahuan teoritis, tetapi juga kemampuan praktis untuk bekerja di industri modern,” pungkasnya. Dengan strategi yang lebih terarah, ia yakin kampus tersebut bisa menjadi pusat SDM tekstil yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional.