RI-Inggris Perkuat Pembangunan Rendah Karbon Melalui Pendanaan LCDI-ITF

Jakarta – Kolaborasi antara Indonesia dan Inggris dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dengan emisi karbon rendah semakin ditingkatkan melalui pendanaan program Low Carbon Development Initiative–Innovation and Technology Fund (LCDI-ITF). Kemitraan ini melibatkan Pemerintah Indonesia, yang diwakili oleh Kementerian PPN/Bappenas dan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), serta Pemerintah Inggris melalui Foreign, Commonwealth and Development Office (FCDO).

Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo, menyatakan bahwa dana inovasi teknologi ini bertujuan menciptakan dampak nyata dalam mengembangkan model pembangunan rendah karbon di Tanah Air. “LCDI-ITF adalah bentuk implementasi kebijakan dan perencanaan yang berfokus pada solusi teknologis,” ujarnya.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

Strategi Kolaborasi untuk Pertumbuhan Sustenable

Perjanjian kerja sama antara kedua negara, yang telah berlangsung sejak 2017, berupaya mendorong pengembangan berbasis bukti, inklusif, dan berkelanjutan. Inisiatif ini bertujuan mengidentifikasi teknologi inovatif yang dapat menurunkan emisi karbon secara signifikan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang bermakna. Program ini juga memberikan dukungan terhadap Trisula Pembangunan dan berbagai strategi nasional seperti ekonomi sirkular, ekonomi biru, hilirisasi rempah, serta pertanian regeneratif.

Dari total 283 proposal yang diajukan dengan nilai sekitar Rp1,59 triliun, empat proyek awal terpilih dengan total dana sebesar Rp20,33 miliar. Proyek tersebut mencakup pengelolaan sampah, budidaya udang berbasis energi surya, pengolahan rempah berkelanjutan, dan dekarbonisasi pertanian padi. Direktur Utama BPDLH, Joko Tri Haryanto, menegaskan bahwa prioritas utama terletak pada penerapan solusi secara nyata.

“Dengan skema ini, kita ingin memastikan inovasi mampu melewati fase kritis ‘valley of death’ agar berkembang dan memberikan dampak sistemik,” kata Joko.

Pada kesempatan serupa, Peter Rajadiston, Minister Counsellor (Development) Kedutaan Besar Inggris, menggarisbawahi pentingnya manfaat sosial dari solusi iklim. Menurutnya, pendekatan yang efektif harus mencakup penurunan emisi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menciptakan peluang kerja hijau, serta memperkuat ketahanan komunitas. “LCDI-ITF mendorong pendekatan holistik yang tidak hanya fokus pada lingkungan tetapi juga pada kehidupan sosial dan ekonomi,” tambahnya.

Hingga 2024, Indonesia telah mencapai potensi pengurangan emisi karbon sebesar 30,36 persen melalui lebih dari 29.000 tindakan lintas sektor. Dengan adanya LCDI-ITF, diharapkan program ini menjadi contoh percontohan yang bisa diadopsi secara nasional. Selain itu, inisiatif ini bertujuan memperkuat kontribusi Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim secara global melalui tindakan konkret di tingkat lokal.