AMP
KitaBersedekah
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Main Agenda: Buruh Terancam PHK, Said Iqbal Janji Keluar dari Zona Nyaman Istana

Published Juni 9, 2026 · Updated Juni 9, 2026 · By Joko Hidayat

Buruh Terancam PHK, Said Iqbal Janji Keluar dari Zona Nyaman Istana

Main Agenda - Seiring dengan pengumuman kebijakan baru dalam bidang ketenagakerjaan, Said Iqbal, yang baru saja dilantik sebagai Penasihat Khusus Presiden (PKP) Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, mengungkapkan komitmen untuk menangani isu pengangguran yang terus mengkhawatirkan masyarakat. Pelantikan ini dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Senin (8/6), dan menjadi perhatian utama bagi para buruh yang menghadapi risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat tekanan ekonomi. Dalam pernyataannya, Said Iqbal menekankan bahwa tugas utamanya adalah menjadi penghubung antara pemerintah dan dunia usaha, serta memastikan kebijakan yang dirumuskan dapat memberikan perlindungan maksimal kepada pekerja.

Langkah Konkret untuk Mengatasi PHK

Dalam sesi wawancara setelah pelantikan, Said Iqbal mengungkapkan rencana untuk turun langsung ke lapangan. Ia berjanji akan mengunjungi berbagai perusahaan yang sedang menghadapi masalah PHK dan membawa perwakilan dari serikat buruh untuk berdiskusi. "Kami akan menghadirkan suara buruh ke tengah proses pengambilan keputusan, sehingga kebijakan tidak hanya berpijak pada kepentingan pengusaha, tetapi juga mempertimbangkan kesejahteraan pekerja," kata Said. Langkah ini diharapkan mampu meminimalkan dampak negatif dari PHK, terutama terhadap kesejahteraan buruh yang sudah terganggu selama beberapa bulan terakhir.

"Saya akan datangi juga beberapa menteri untuk mendiskusikan berbagai hal, kami akan yakinkan menteri enggak bekerja kami akan lapor ke Presiden," janji Said Iqbal.

Dalam upaya mengoptimalkan kebijakan ketenagakerjaan, Said Iqbal juga berencana untuk mengadakan pertemuan rutin dengan para menteri yang terkait. Tujuannya adalah memastikan bahwa regulasi yang telah dibuat benar-benar diterapkan secara konsisten, sehingga tidak ada celah bagi perusahaan untuk mengabaikan hak-hak karyawan. Menurutnya, keterlibatan langsung dengan para pembuat kebijakan akan membantu mengidentifikasi hambatan dan menemukan solusi yang lebih efektif. "Kami ingin memastikan bahwa semua peraturan tentang kesejahteraan buruh bukan hanya berupa dokumen, tetapi juga menjadi kebijakan nyata yang mampu mengurangi risiko PHK," ujarnya.

Kesejahteraan Buruh sebagai Prioritas

Said Iqbal menegaskan bahwa kesejahteraan buruh menjadi fokus utama dalam jabatannya sebagai PKP. Ia mengungkapkan bahwa PHK yang terjadi belakangan ini terutama terjadi di sektor-sektor yang mengalami kesulitan, seperti industri manufaktur dan jasa. "Kita perlu mencari cara untuk menyesuaikan kebutuhan perusahaan dengan kesejahteraan pekerja, bukan hanya memutus hubungan kerja secara mendadak," katanya. Ia menyarankan adanya diskusi antara buruh dan pengusaha sebelum pengambilan keputusan PHK, seperti mengurangi jam kerja atau mengubah sistem shift sebagai langkah awal untuk mengurangi beban biaya tenaga kerja.

"Kita ajak dialog pengusahanya, sebelum PHK misalnya kurangin dulu jam kerjanya, kurangin dulu shift-nya, kan itu reduce terhadap labor cost," tutur Said Iqbal.

Menurut Said, dialog tersebut tidak hanya membantu mengurangi biaya operasional perusahaan, tetapi juga memberikan ruang bagi buruh untuk menyampaikan aspirasi mereka. "Dengan berbicara langsung dengan pengusaha, kami bisa mencari titik temu yang saling menguntungkan," tambahnya. Ia juga menekankan pentingnya transparansi dalam proses PHK, sehingga buruh tidak hanya menjadi objek kebijakan, tetapi juga bagian dari pembuatan kebijakan tersebut. "Kami ingin memastikan bahwa setiap keputusan tentang PHK diambil setelah semua pihak diberi kesempatan untuk berbicara," jelasnya.

Antisipasi Tantangan di Depan

Menyusul pelantikan Said Iqbal, berbagai pihak mulai menunggu langkah konkret dari pemerintah dalam menangani masalah PHK. Dalam wawancara eksklusif dengan MERAHPUTIH.COM, Said menyebutkan bahwa ia akan berupaya memperkuat koordinasi antara lembaga pemerintah dan serikat buruh. "Kami akan mengadakan forum diskusi rutin dengan perwakilan buruh, agar semua kebijakan bisa terus diperbaiki sesuai dengan kondisi terkini," katanya. Selain itu, Said juga berencana untuk melakukan evaluasi terhadap kebijakan sebelumnya, termasuk program bantuan sosial yang diberikan kepada buruh yang terkena PHK.

Dalam konteks perekonomian nasional yang masih mengalami tekanan, Said Iqbal berharap peran sebagai PKP mampu mengurangi ketidakseimbangan antara kebutuhan perusahaan dan hak-hak buruh. Ia menyebut bahwa PHK tidak selalu harus menjadi solusi akhir, terutama jika ada alternatif lain yang bisa ditemukan melalui negosiasi. "Kami ingin menghindari keputusan PHK yang tidak terencana, sehingga buruh tetap bisa berkontribusi secara produktif," imbuhnya. Dengan adanya sosialisasi dan dialog yang lebih aktif, Said yakin bahwa kebijakan ketenagakerjaan akan menjadi lebih adil dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi buruh dalam perekonomian, Said Iqbal juga akan melibatkan pihak-pihak yang relevan, seperti kementerian tenaga kerja, lembaga bantuan sosial, dan organisasi buruh nasional. "Koordinasi antarlembaga sangat penting, karena hanya dengan kerja sama yang solid kita bisa menciptakan kebijakan yang benar-benar mewakili kepentingan semua pihak," jelasnya. Ia menambahkan bahwa sebagai Penasihat Khusus, ia akan memberikan rekomendasi berdasarkan data dan analisis yang teliti, bukan hanya sekadar kebijakan politik.

Dalam sejumlah wawancara terpisah, Said Iqbal juga menyebutkan bahwa isu PHK bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga politik. "PHK menjadi indikator bagaimana kebijakan pemerintah terhadap buruh," katanya. Ia berharap dengan kehadiran dirinya di pemerintahan, isu-isu yang selama ini dianggap sebagai dilema akan menjadi kebijakan yang lebih terencana dan terukur. Dengan visi keluar dari zona nyaman Istana, Said Iqbal menargetkan perubahan nyata dalam pengelolaan ketenagakerjaan di Indonesia.

Sebagai figur yang konsisten bergerak di garda depan untuk kepentingan buruh, Said Iqbal diharapkan mampu menjadi suara yang kuat dalam menghadapi tekanan dari berbagai pihak. Meski masih ada tantangan, ia optimis bahwa langkah-langkah yang diambil akan memberikan dampak positif bagi masyarakat pekerja. "Kami akan terus mengawasi penerapan kebijakan dan memberikan respons cepat jika ada kendala," katanya. Dengan pendekatan yang holistik, Said Iqbal berkomitmen untuk memastikan bahwa kebijakan ketenagakerjaan tidak hanya bertujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga mewujudkan kesejahteraan yang adil bagi setiap pekerja di Indonesia.