AMP
KitaBersedekah
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Meeting Results: Cakupan Imunisasi Daerah 3T Anjlok

Published Juni 24, 2026 · Updated Juni 24, 2026 · By Aisyah Hidayat

Cakupan Imunisasi Daerah 3T Anjlok

Meeting Results - Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia kembali memperhatikan isu terkait rendahnya tingkat pelaksanaan vaksinasi di wilayah-wilayah yang dinilai sulit diakses, seperti daerah terpencil, terdepan, dan terluar (3T). Anggota komite tersebut, Neng Eem Marhamah Zulfa, menyatakan bahwa pendekatan pemerintah yang selama ini menggunakan model seragam untuk menyamakan kebutuhan kesehatan antara kota besar dan wilayah terpencil perlu direvisi. Menurutnya, keterbatasan akses dan kondisi geografis di 3T memerlukan strategi yang lebih adaptif.

Kritik dari Komisi IX DPR RI

Dalam rapat kerja bersama Menteri Kesehatan, Neng Eem menyoroti ketimpangan data capaian vaksinasi nasional. Ia menegaskan bahwa wilayah 3T terus-menerus berada di posisi terendah dalam peningkatan cakupan imunisasi anak. "Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pelayanan kesehatan dasar masih kurang memadai di daerah-daerah yang jauh dari pusat," ujarnya. Legislator dari Jawa Barat ini menekankan bahwa kebijakan yang sama untuk seluruh wilayah tidak lagi efektif, terutama karena ada perbedaan signifikan dalam kesulitan akses dan kebutuhan masyarakat.

"Ini harus menjadi perhatian serius karena rendahnya cakupan imunisasi berpotensi meningkatkan risiko kemunculan kembali penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi. Kami meminta pemerintah mengintensifkan strategi jemput bola di daerah-daerah 3T," jelas Neng Eem.

Dalam pembicaraan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada Selasa (23/6), ia menyoroti bahwa peningkatan cakupan imunisasi memerlukan pendekatan yang lebih spesifik. "Kami meminta penyesuaian strategi agar pasien tidak hanya menunggu ke fasilitas kesehatan, tetapi juga bisa mendapatkan layanan di lokasi mereka," tambahnya. Model pelayanan pasif, kata Neng Eem, tidak lagi relevan di wilayah yang sulit dijangkau.

Kendala Struktural di Wilayah 3T

Neng Eem menyebutkan bahwa tantangan utama di daerah 3T tidak hanya terletak pada sikap masyarakat yang enggan mengikuti imunisasi, tetapi juga pada faktor-faktor struktural. Beberapa dari masalah tersebut meliputi biaya transportasi yang tinggi, jarak tempuh yang ekstrem, dan kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya vaksinasi. "Kendala geografis dan logistik ini membuat model pelayanan yang sama kurang efektif," ujarnya. Legislator ini menambahkan bahwa biaya sosialisasi di wilayah terpencil jauh lebih besar daripada di perkotaan, sehingga perlu adanya pendekatan yang lebih terarah.

Ia juga menyoroti bahwa keberadaan tenaga kesehatan di daerah 3T sering kali memerlukan perjalanan jauh untuk mencapai masyarakat. "Tenaga kesehatan harus aktif mendekati warga, bukan hanya menunggu mereka datang ke puskesmas," tegas Neng Eem. Pernyataannya menunjukkan bahwa kebijakan yang mengandalkan kehadiran masyarakat ke fasilitas kesehatan tidak lagi cukup untuk meningkatkan cakupan imunisasi di wilayah tersebut.

Strategi untuk Meningkatkan Pelaksanaan Vaksinasi

Sebagai solusi, Neng Eem mengusulkan peningkatan pengawasan distribusi logistik vaksin. Ia menekankan perlunya memastikan bahwa sistem rantai dingin (cold chain) bekerja dengan baik hingga ke pelosok wilayah. "Distribusi vaksin yang tidak terjamin bisa mengurangi efektivitas program imunisasi, terutama di daerah yang sulit dijangkau," ujarnya. Ia juga meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meningkatkan jumlah serta kualifikasi vaksinator di wilayah 3T.

Dalam upaya mengatasi masalah ini, Neng Eem menuntut pembenahan administrasi terkait pelaporan data imunisasi. Ia mengusulkan integrasi informasi dari fasilitas kesehatan swasta ke dalam sistem nasional agar data lebih akurat dan terperinci. "Dengan data yang valid, kita bisa mengidentifikasi daerah-daerah yang masih kurang cakupannya dan memberikan prioritas pada peningkatan layanan," jelasnya. Ia menambahkan bahwa integrasi data tersebut juga akan memudahkan pengawasan pemerintah terhadap keberhasilan program vaksinasi.

"Ketersediaan vaksin harus terjamin hingga ke daerah-daerah yang sulit dijangkau. Jangan sampai ada anak yang kehilangan hak memperoleh imunisasi hanya karena persoalan distribusi," pungkas Neng Eem.

Legislator ini menekankan bahwa keberhasilan vaksinasi nasional sangat bergantung pada keberlanjutan distribusi ke wilayah terpencil. "Kita perlu memastikan bahwa vaksin sampai ke tangan anak-anak, bahkan di desa terjauh," katanya. Ia menyarankan peningkatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam memastikan logistik vaksin sampai tepat waktu. Selain itu, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan penguatan infrastruktur transportasi menjadi kunci untuk menekan disparitas capaian vaksinasi.

Dalam konteks nasional, cakupan imunisasi yang rendah di wilayah 3T dapat mengganggu pencapaian target kesehatan pemerintah. "Program vaksinasi tidak bisa berjalan optimal jika daerah-daerah yang masih terisolasi tidak diperhatikan," tambah Neng Eem. Ia berharap Kemenkes bisa merancang strategi yang lebih fleksibel, dengan mempertimbangkan kondisi spesifik masing-masing wilayah. "Kami percaya bahwa dengan pendekatan yang tepat, cakupan imunisasi bisa meningkat secara signifikan," pungkasnya.

Impak Negatif Jika Tidak Diperbaiki

Neng Eem menyebutkan bahwa ketimpangan dalam cakupan imunisasi berisiko meningkatkan penyebaran penyakit yang bisa dicegah melalui vaksin. "Kondisi ini bisa memicu kembali wabah, yang akan memperparah tekanan terhadap sistem kesehatan nasional," katanya. Ia menekankan bahwa wilayah 3T adalah bagian penting dari upaya mencapai kesetaraan kesehatan di seluruh Indonesia. "Kita tidak boleh mengabaikan kebutuhan mereka karena jarak atau kondisi geografis," tambah Neng Eem.

Menurutnya, pemerintah perlu memperkuat kerja sama dengan lembaga-lembaga lokal untuk memast