Meeting Results: DPD RI Terima Delegasi Rusia, Bahas Pengembangan PLTN
DPD RI Terima Delegasi Rusia, Bahas Pengembangan PLTN di Indonesia
Meeting Results - Kamis (2/7/2026), Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, menjadi tempat pertemuan penting antara Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin dengan delegasi Rusia yang dipimpin oleh Direktur Jenderal Badan Antariksa Rusia serta CEO Rosatom, Alexey Likhachev. Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan dari lembaga energi dan teknologi Rusia, yang menjajaki peluang kerja sama dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) sebagai salah satu solusi pengurangan ketergantungan pada sumber daya energi tradisional di Indonesia.
Langkah Strategis dalam Energi Bersih
Dalam diskusi, fokus utama diberikan pada potensi penggunaan PLTN sebagai bagian dari strategi transisi energi yang lebih ramah lingkungan. Sultan Bachtiar Najamudin menekankan bahwa Indonesia sedang menghadapi tantangan signifikan dalam memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat, terutama di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak dan kebutuhan akan keberlanjutan ekosistem. "PLTN bisa menjadi pilihan penting untuk memperkuat keandalan pasokan energi, terlebih di wilayah kepulauan yang memerlukan infrastruktur yang fleksibel dan efisien," ujar Najamudin dalam wawancara singkat seusai pertemuan.
“Kerja sama ini tidak hanya menguntungkan Indonesia, tetapi juga membuka peluang bagi Rusia untuk memperluas pasar energi di Asia Tenggara,” tambah Alexey Likhachev, yang mengatakan bahwa Rosatom siap mendukung pengembangan teknologi reaktor nuklir terapung. Menurutnya, reaktor jenis ini cocok untuk negara-negara dengan keterbatasan lahan, termasuk Indonesia, yang memiliki banyak pulau dan kebutuhan energi yang tidak merata.
Salah satu topik yang menjadi pembahasan utama adalah teknologi reaktor nuklir terapung, yang merupakan inovasi terbaru dari Rusia. Teknologi ini memiliki kemampuan untuk beroperasi di laut, sehingga menghindari penggunaan lahan pertanian atau kota yang terbatas. Likhachev menjelaskan bahwa reaktor terapung dapat dipasang di pelabuhan atau daerah pesisir, serta bisa dipindahkan ke lokasi lain jika diperlukan. "Ini memungkinkan pembangunan PLTN tanpa mengganggu lingkungan sekitar, sekaligus mempercepat proses pemasangan," katanya.
Indonesia, yang memiliki sumber daya energi yang melimpah, tetapi juga menghadapi masalah perubahan iklim akibat emisi karbon dari pembangkit listrik batu bara, menganggap PLTN sebagai bagian dari jalan menuju energi bersih. Dalam pertemuan tersebut, pihak Rusia memperkenalkan beberapa prototipe reaktor terapung yang telah berhasil diuji coba di negara-negara lain, seperti Uzbekistan dan Vietnam. Sultan Bachtiar Najamudin mengapresiasi inisiatif Rusia ini dan berharap dapat melihat implementasi teknologi tersebut di beberapa daerah strategis di Indonesia.
Pertemuan antara DPD RI dan delegasi Rusia ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan diplomatik dan ekonomi kedua negara. Pascakunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia beberapa bulan sebelumnya, diskusi kali ini menandai langkah lanjutan dalam kerja sama di bidang energi. "Kunjungan Presiden Prabowo telah menanamkan kepercayaan bahwa Indonesia dan Rusia memiliki visi yang selaras dalam pengembangan sumber daya energi," kata salah satu anggota delegasi Rusia yang hadir.
Potensi Kolaborasi Global
Proyek PLTN terapung diharapkan bisa menjadi model baru dalam pengembangan energi bersih, terutama di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang membutuhkan stabilitas pasokan listrik. Likhachev menyebutkan bahwa Rusia telah menyiapkan beberapa kebijakan untuk mendukung keberlanjutan proyek ini, termasuk transfer teknologi dan pelatihan tenaga ahli. "Kita bisa saling berbagi pengalaman, baik dalam aspek keamanan nuklir maupun manajemen lingkungan," tambahnya.
Sebagai negara dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia memerlukan solusi energi yang bisa diadaptasi ke berbagai kondisi geografis. Reaktor nuklir terapung, yang memiliki kapasitas listrik hingga 100 megawatt, dianggap mampu memberikan keuntungan signifikan dalam hal efisiensi dan kecepatan implementasi. Dalam diskusi, juga dibahas mengenai kebijakan regulasi yang diperlukan untuk mendukung investasi asing dalam sektor energi nuklir, termasuk persyaratan keselamatan dan kerja sama internasional.
DPD RI menyatakan bahwa mereka tertarik untuk menjajaki kerja sama jangka panjang dengan Rusia, khususnya dalam bidang energi terbarukan. Sultan Bachtiar Najamudin mengungkapkan bahwa Indonesia telah melakukan kajian awal terkait potensi penggunaan PLTN terapung, termasuk analisis risiko dan manfaat ekonomi. "Kami yakin teknologi ini bisa memberikan kontribusi besar terhadap pemanfaatan energi hijau," katanya.
Pertemuan ini juga menyoroti peran Rusia dalam memperkuat ketergantungan energi Indonesia pada sumber daya lokal. Likhachev menegaskan bahwa kerja sama dengan Indonesia akan memberikan dampak positif bagi perekonomian Rusia, terutama dalam ekspor teknologi dan peralatan energi. "Kita bisa mengembangkan proyek bersama yang menguntungkan kedua pihak, sekaligus mendorong inovasi di bidang energi global," ujarnya.
Menurut laporan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, saat ini sekitar 50% kebutuhan listrik negara dihasilkan dari batu bara, sementara sebagian kecil berasal dari energi nuklir. Dengan pengembangan PLTN, target pengurangan emisi karbon bisa lebih cepat tercapai. Pertemuan antara DPD RI dan delegasi Rusia dianggap sebagai langkah awal menuju kerja sama yang lebih luas, termasuk dalam bidang transportasi dan pertahanan.
Kunjungan Prabowo Subianto ke Rusia beberapa waktu lalu diperkuat dengan keputusan pihak Rusia untuk mengirimkan delegasi khusus ke Jakarta. Hal ini menunjukkan komitmen keduanya untuk membangun hubungan bilateral yang lebih kuat. Sultan Bachtiar Najamudin berharap pertemuan ini menjadi momentum penting dalam mencapai tujuan pengurangan emisi dan pemanfaatan energi terbarukan. "Kerja