AMP
KitaBersedekah
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Special Plan: Ekonom Bongkar Risiko di Balik Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih

Published Juli 2, 2026 · Updated Juli 2, 2026 · By Zahra Setiawan

Ekonom Soroti Tantangan di Balik Inisiatif Koperasi Desa Merah Putih

Special Plan - MerahPutih.com – Profesor ekonomi dari Universitas Brawijaya, Noval Adib, memberikan kritik terhadap program pengembangan Koperasi Desa Merah Putih yang sedang gencar dilaksanakan pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. Menurutnya, keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, melainkan juga pada perencanaan bisnis yang matang dan strategi jangka panjang. Noval menegaskan bahwa masyarakat dan pengelola koperasi perlu memahami bahwa infrastruktur seperti gedung koperasi adalah bagian dari solusi, bukan tujuan akhir.

Infrastruktur Fisik Bukan Jaminan Keberhasilan

Menurut Noval, banyak daerah kini sedang fokus pada pembangunan gedung koperasi. Namun, jika tidak diiringi dengan manajemen yang baik, langkah ini berisiko menimbulkan tantangan. Ia menyoroti bahwa konstruksi fisik tidak secara otomatis mendorong koperasi untuk beroperasi produktif atau berkelanjutan. "Yang terjadi saat ini adalah fokus pada pembangunan gedung-gedung semata," ujarnya dalam wawancara yang dikutip Rabu (1/7). "Padahal, setelah bangunan selesai, konsekuensi biaya operasional akan muncul, dan itu tidak bisa dihindari," tambah Noval. Hal ini menunjukkan bahwa banyak pihak masih menganggap koperasi sebagai proyek fisik, padahal sebenarnya mereka adalah alat untuk menggerakkan ekonomi lokal.

Risiko Biaya Operasional yang Tak Terduga

Noval mengingatkan bahwa setiap gedung yang dibangun akan menimbulkan biaya overhead, yang dikenal sebagai "committed cost." Biaya ini mencakup kebutuhan rutin seperti listrik, pemeliharaan bangunan, kebersihan, serta operasional lainnya. Ia menekankan bahwa biaya-biaya tersebut tidak hanya menghabiskan dana, tetapi juga membebani keuangan koperasi dalam jangka panjang. "Biaya overhead tetap harus dibayar, apakah koperasi mengalami keuntungan atau tidak," jelasnya. Ini berbeda dengan sunk cost, yaitu pengeluaran yang sudah dilakukan dan tidak bisa dikembalikan. Misalnya, dana yang sudah habis untuk membangun gedung koperasi tidak bisa diperoleh kembali, meskipun hasil usaha belum optimal.

Menurut Noval, biaya operasional yang tak terduga bisa menjadi beban berat jika tidak dipertimbangkan sejak awal. Ia memberikan contoh bahwa sejumlah koperasi mungkin terlihat megah di luar, tetapi dalam praktiknya tidak mampu menciptakan pendapatan yang stabil. "Koperasi yang hanya fokus pada penampilan fisik bisa jadi kurang siap menghadapi perubahan ekonomi," tegasnya. Ini menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan yang baik adalah kunci utama dalam menjaga keberlanjutan program. Jika tidak, koperasi bisa jadi alat pemenuhan anggaran tanpa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Keberhasilan Tidak Terpaut Megahnya Gedung

Keberhasilan koperasi, menurut Noval, ditentukan oleh kemampuan menjalankan model bisnis yang efektif, bukan oleh ukuran atau keindahan bangunan. Ia menegaskan bahwa koperasi yang produktif harus mampu menghasilkan pendapatan secara terus-menerus, yang membutuhkan strategi pemasaran, manajemen sumber daya manusia, dan sistem keuangan yang terstruktur. "Gedung yang megah tidak akan berguna jika usaha di dalamnya tidak memiliki arah jelas," katanya. Dalam hal ini, pemerintah perlu memastikan bahwa setiap koperasi memiliki rencana bisnis yang konsisten, termasuk pengelolaan risiko dan pembagian keuntungan yang adil.

Menurut Noval, saat ini banyak pihak yang hanya fokus pada pembangunan fisik, sedangkan aspek manajemen masih kurang mendapat perhatian. Ia menyoroti bahwa pemerintah perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang dari pembangunan ribuan gedung koperasi. "Apakah dana yang digunakan telah dipastikan akan menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan?" tanyanya. Ia juga mengingatkan bahwa peningkatan infrastruktur harus diiringi dengan pengembangan kapasitas pengelola koperasi, seperti pelatihan, pengakuan kewirausahaan, dan partisipasi aktif masyarakat.

Fokus pada Model Bisnis yang Kuat

Noval menggarisbawahi bahwa pengembangan koperasi Desa Merah Putih harus mengutamakan pengembangan model bisnis yang berkelanjutan. Ia menekankan bahwa tanpa fondasi bisnis yang kuat, gedung-gedung koperasi bisa jadi menjadi beban finansial bagi masyarakat dan pemerintah. "Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap koperasi memiliki strategi yang jelas, termasuk sumber daya manusia yang siap dan permodalan yang cukup," katanya. Dalam beberapa kasus, koperasi mungkin mengalami defisit operasional karena pengelolaan yang tidak tepat.

Menurut Noval, langkah pemerintah saat ini lebih menekankan pada pembangunan fisik, seperti gedung dan peralatan, dibandingkan pada penguatan ekosistem bisnis koperasi. Ia mengingatkan bahwa masyarakat desa perlu dilibatkan secara aktif dalam pengelolaan koperasi, agar pengambilan keputusan lebih demokratis dan sejalan dengan kebutuhan lokal. "Koperasi adalah alat untuk meningkatkan kemandirian ekonomi, bukan sekadar proyek kebanggaan pemerintah," pungkasnya. Dengan demikian, ia menyarankan agar pemerintah tidak hanya membangun gedung, tetapi juga membangun model bisnis yang bisa bertahan meskipun ada tantangan.

Langkah Strategis yang Diperlukan

Noval menyarankan beberapa langkah strategis untuk memastikan keberhasilan koperasi. Pertama, pemerintah harus menetapkan kebijakan yang memperkuat peran koperasi sebagai penggerak ekonomi lokal, bukan sekadar alat pembangunan. Kedua, diperlukan pendekatan sistematis dalam mengalokasikan dana, agar pengeluaran tidak berlebihan. "Pembangunan infrastruktur harus diiringi dengan pengelolaan yang cermat," katanya. Ketiga, ia menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan, karena mereka adalah pengguna langsung dari layanan koperasi.

Koperasi yang sukses tidak hanya bergantung pada bantuan pemerintah, tetapi juga pada inisiatif mandiri dari masyarakat. Noval menambahkan bahwa pemerintah perlu memastikan adanya sistem evaluasi yang ketat, agar proyek yang dijalankan tidak menjadi sia-sia. "Koperasi harus mampu memenuhi harapan masyarakat, bukan hanya memenuhi anggaran," tuturnya. Dengan menitikberatkan pada keberlanjutan, pemerintah bisa membangun koperasi yang menjadi pusat perekonomian desa, bukan sekadar simbol kebijakan.

Perbandingan Dengan Model Koperasi yang Lebih Baik

Dalam diskusi lebih lanjut, Noval membandingkan Koperasi Desa Merah Putih dengan model koperasi lain yang sudah berhasil. Menurutnya, koperasi yang berkembang baik biasanya memiliki sistem pengelolaan yang profesional