Purbaya: Harga BBM Subsidi Pasti Naik kalau Lonjakan Harga Minyak Bebani APBN

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pemerintah mungkin terpaksa menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jika kenaikan harga minyak global terus berlanjut dan menyulitkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia menegaskan bahwa pengambilan langkah tersebut hanya akan dilakukan jika kondisi keuangan negara tidak lagi mampu menahan tekanan dari kenaikan biaya energi dunia.

“Jika anggaran negara tidak lagi mampu menahan tekanan harga energi global, nggak ada jalan lain, kami berbagi dengan masyarakat sebagian. Artinya, ada kenaikan BBM,” ujar Purbaya dalam taklimat media di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat.

Menurut Purbaya, kenaikan harga BBM bersubsidi bukan menjadi pilihan utama pemerintah. Sebelum itu, langkah mitigasi akan diterapkan untuk mengurangi dampak lonjakan harga minyak terhadap defisit APBN. Diperkirakan, defisit APBN bisa mencapai 3,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) jika harga minyak dunia tetap stabil di level 92 dolar AS per barel sepanjang tahun tanpa intervensi kebijakan.

Untuk mencegah pelebaran defisit, pemerintah telah menyiapkan beberapa opsi penyesuaian anggaran. Salah satu pertimbangan adalah realokasi belanja negara, terutama pada program yang dianggap kurang mendesak. Namun, Purbaya menjamin bahwa belanja yang langsung memengaruhi kehidupan masyarakat tetap diprioritaskan.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

Sebagai ilustrasi, ia menyebut kemungkinan penyesuaian pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penyesuaian tersebut hanya akan menargetkan kegiatan pendukung yang tidak secara langsung terkait dengan tujuan utama program, yaitu penyediaan makanan bagi warga. “MBG programnya bagus, tapi kami ingin cegah kalau ada belanja yang tidak terlalu mendukung langsung makanan, misalnya beli motor,” tambahnya.

Purbaya juga menunjukkan pengalaman Indonesia menghadapi situasi harga minyak yang lebih tinggi di masa lalu. Ketika harga minyak dunia pernah mencapai 150 dolar AS per barel, ekonomi nasional mengalami perlambatan, namun tetap stabil. “Kita dulu pernah melewati keadaan dimana harga minyak sampai 150 dolar AS per barel. Jatuh nggak ekonominya? Agak melambat, tapi nggak jatuh,” ujarnya.

Kenaikan harga minyak global saat ini dipicu oleh memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Harga minyak Brent naik 4,93 persen menjadi 85,41 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak 8,51 persen ke 81,01 dolar AS per barel. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga pada Januari 2026, ketika Brent berada di sekitar 64 dolar AS per barel dan WTI di kisaran 57,87 dolar AS per barel.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan bahwa harga BBM bersubsidi di Indonesia masih stabil, serta pasokan energi nasional tetap aman, terutama menjelang libur Idul Fitri.