UPN Veteran: Posyandis menjadi fondasi standarisasi bangunan tahan gempa
Jakarta – Pada seminar memperingati 20 tahun peristiwa gempa Yogyakarta, Ketua Pusat Studi Bencana Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Prof Dr Eko Teguh Paripurno, menyoroti peran Pos Pelayanan Teknis (Posyandis) dalam memastikan kualitas bangunan yang memenuhi standar tahan gempa. Seminar tersebut diadakan secara daring dari Jakarta, Kamis, dan dihadiri oleh berbagai pihak yang berperan dalam bidang mitigasi bencana.
Eko mengingat kembali masa pemulihan setelah gempa 2006, saat bangunan warga dibangun dengan persyaratan keamanan ketat. Ia menjelaskan bahwa keterlibatan Posyandis pada masa itu memastikan seluruh proses konstruksi memiliki izin mendirikan bangunan (IMB) dan mematuhi spesifikasi material seperti kualitas semen serta besi tulangan yang sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).
“Pada masa pemulihan, Posyandis menjadi mitra yang membimbing masyarakat dalam membangun rumah sederhana yang aman dari gempa,” ujar Eko, yang sering dikenal dengan panggilan Kang ET.
Gempa pada 27 Mei 2006 pukul 05.54 WIB, yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah, menjadi pelajaran penting bahwa bangunan tidak boleh dibangun secara acak. Dalam seminar, Eko menekankan bahwa Posyandis sejak saat itu berfungsi sebagai sarana pembelajaran untuk mengedukasi masyarakat mengenai teknik konstruksi yang kuat.
Museum Gempa di Yogyakarta, menurut Eko, memiliki peran penting sebagai pusat referensi bagi masyarakat dalam memahami prinsip konstruksi tahan bencana. Ia menambahkan bahwa infrastruktur memori ini berfungsi sebagai laboratorium edukasi publik.
Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa 5,9 SR/4,4 magnitudo itu menyebabkan lebih dari 5.700 korban jiwa, puluhan ribu cedera, serta hancurkan lebih dari 300.000 unit rumah. Kerugian ekonomi mencapai Rp29,1 triliun, di mana sektor perumahan menjadi bagian terbesar yang rusak.
“Peringatan 20 tahun ini tidak hanya sekadar mengenang, tapi juga memastikan bahwa kekuatan bangunan dan pengetahuan mitigasi bencana telah berkembang lebih baik. Kita perlu membangun infrastruktur yang bisa menyerap guncangan gempa,” tutur Eko.

