Key Discussion: Pakar: Pembelajaran menulis integrasikan kearifan lokal-spiritualitas

Pakar Tekankan Pentingnya Integrasi Kearifan Lokal dan Spiritualitas dalam Pembelajaran Menulis

Key Discussion – Dalam pidato pengukuhan di Universitas Tidar (Untidar) Kota Magelang, Jawa Tengah, Profesor Mimi Mulyani membahas metode pendidikan menulis yang lebih kontekstual. Ia menekankan bahwa pendekatan ini perlu menggabungkan nilai-nilai kearifan lokal dan spiritualitas untuk meningkatkan kemampuan menulis peserta didik. “Dengan mengintegrasikan budaya lokal dan nilai spiritual, kita bisa membentuk individu yang lebih kritis, kreatif, dan berakar pada kehidupan sehari-hari,” ujarnya Senin lalu.

Menurut Prof Mimi, Key Discussion ini bertujuan untuk memperkuat identitas budaya Indonesia sekaligus menumbuhkan kesadaran spiritual siswa. Ia mencontohkan bahwa kearifan lokal tidak hanya melibatkan tradisi dan bahasa, tetapi juga sikap hidup, nilai-nilai etika, dan cara berpikir yang terbentuk dari lingkungan sekitar. “Dengan memasukkan elemen spiritualitas, pembelajaran menulis tidak hanya menjadi teknik menyampaikan ide, tetapi juga sarana mengembangkan pemahaman tentang makna hidup dan tujuan berkomunikasi,” tambahnya.

“Kearifan lokal dan spiritualitas adalah jembatan antara pendidikan formal dengan kehidupan nyata. Kedua aspek ini harus dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum menulis untuk menciptakan pemikir dan penulis yang lebih mandiri,” ujar Prof Mimi dalam Key Discussion yang disampaikan sebagai guru besar Fakultas Kependidikan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untidar.

Pendekatan kontekstual yang diajukan Prof Mimi mengandalkan empat tahapan utama: eksplorasi, refleksi, penulisan, dan publikasi. Dalam tahap eksplorasi, siswa diminta mempelajari tradisi, mitos, atau cerita dari komunitas sekitar. Refleksi dilakukan untuk memahami makna dan nilai yang terkandung, sementara penulisan menjadi alat ekspresi, dan publikasi memastikan hasil karya terbuka untuk diskusi lebih luas. “Key Discussion ini juga mencakup pendekatan interaktif dan kolaboratif, di mana siswa saling berbagi pengalaman dan budaya,” jelasnya.

Integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran menulis, menurut Prof Mimi, membantu siswa memahami konteks sosial dan sejarah yang relevan dengan kehidupan mereka. Contohnya, dalam mengajarkan narasi, guru bisa menggunakan cerita legenda setempat atau ritual budaya sebagai bahan dasar. Sementara spiritualitas berperan dalam mengembangkan kesadaran diri dan makna kehidupan. “Siswa akan lebih mudah terhubung dengan materi jika mereka melihat relevansi langsung dengan budaya dan agama yang mereka kenal,” tambahnya.

Dalam Key Discussion ini, Prof Mimi juga mengkritik kondisi literasi di Indonesia yang masih rendah. Data dari Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa kemampuan menulis siswa Indonesia belum optimal. “Kurangnya keterlibatan budaya dan spiritual dalam proses belajar membuat mereka kurang mampu menyampaikan gagasan secara mendalam dan bermakna,” kata dia. Ia menegaskan bahwa pendekatan kontekstual ini bisa menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan menulis.

Harapan Rektor Untidar Kota Magelang

Rektor Untidar Kota Magelang, Sugiyarto, menyambut positif kontribusi Prof Mimi dalam Key Discussion ini. Ia berharap metode pembelajaran yang dikembangkan bisa menjadi acuan nasional dalam meningkatkan literasi. “Dengan menggabungkan kearifan lokal dan spiritualitas, kita bisa menciptakan pendidikan yang lebih relevan dan berkelanjutan,” ujarnya. Sugiyarto juga menyatakan bahwa institusi pendidikan perlu berkolaborasi dengan masyarakat lokal untuk memperkaya kurikulum menulis.

Pendekatan ini tidak hanya berdampak pada kemampuan menulis, tetapi juga pada pembentukan kepribadian. Prof Mimi menekankan bahwa kearifan lokal memberikan dasar identitas budaya, sementara spiritualitas mengasihkan nilai-nilai kehidupan yang lebih dalam. “Siswa yang menguasai kedua aspek ini akan lebih mampu beradaptasi dengan perubahan global sambil tetap mempertahankan akar budaya dan nilai keagamaan mereka,” jelasnya. Ia berharap Key Discussion ini bisa diterapkan secara luas di berbagai tingkat pendidikan.

Dalam Key Discussion yang disampaikan, Prof Mimi juga menyoroti peran guru dalam mendorong integrasi kearifan lokal dan spiritualitas. Ia menyarankan bahwa guru harus memiliki pemahaman mendalam tentang budaya sekitar dan mampu mengubah kurikulum menulis agar sesuai dengan konteks lokal. “Guru bukan hanya penyampai materi, tetapi juga fasilitator yang membimbing siswa memahami makna belajar melalui pengalaman nyata,” katanya. Pendekatan ini juga diharapkan mampu meningkatkan minat belajar siswa.