Kepala BRIN lirik inovasi baru untuk atasi krisis air dan energi

Inovasi Teknologi untuk Mengatasi Krisis Air dan Energi

Dalam sebuah sidang yang berlangsung di Jakarta, Rabu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengungkapkan potensi teknologi terbaru sebagai solusi untuk menghadapi ancaman krisis air dan energi di masa depan. Ia menyoroti fenomena kekeringan yang terjadi di berbagai wilayah, meski dulu krisis air dianggap sulit terbayangkan karena sebagian besar bumi terdiri dari air.

“Teknologi seperti yang dikembangkan oleh Omar Yaghi, salah satu penerima Nobel pada tahun 2025, mampu ‘mengambil’ air dari udara. Inilah inovasi yang patut kita perhatikan, karena saat ini kita perlu beralih dari metode tradisional, seperti mengumpulkan air dari tanah atau laut, menjadi pengambilan dari atmosfer,” ujarnya.

Arif juga menyinggung kemungkinan memanfaatkan penemuan ilmuwan Jepang, Susumu Kitagawa, yang meraih Nobel 2025 bersama dengan Omar Yaghi. Teknologi Metal Organic Framework yang dikembangkan Kitagawa dinilai bisa menjadi sarana baru untuk ‘mengambil’ energi secara lebih efisien.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

Menurut Arif, kedua penemuan tersebut perlu dikembangkan secara bersamaan guna menciptakan sistem penyimpanan gas yang lebih optimal, sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat luas. “Jika inovasi ini berkembang secara masif, krisis energi yang kita hadapi bisa diminimalkan,” tambahnya.

Salah satu contoh yang dijelaskan Arif adalah peningkatan efisiensi penggunaan tabung LPG 12 kilogram di lingkungan rumah tangga. Ia menyebut, dengan teknologi baru, tabung yang biasanya habis dalam sebulan bisa bertahan hingga dua hingga dua setengah bulan.

Untuk mewujudkan efisiensi ini, BRIN tengah menjalin kerja sama dengan Prof Susumu Kitagawa dari Kyoto University. Kemitraan tersebut dilakukan melalui pendirian laboratorium gabungan (joint lab) di Serpong, dengan harapan menghasilkan penemuan-penemuan inovatif yang bermanfaat.

Arif menegaskan bahwa teknologi lama, yang selama ini dianggap absolut, harus diganti dengan pengembangan baru. “Banyak inovasi masa kini mampu menggantikan metode tradisional, sekaligus menjawab tantangan sumber daya yang semakin terbatas,” ucapnya.