Special Plan: May Day, para ojol respons positif Presiden pangkas potongan aplikator
May Day, Para Ojol Respons Positif atas Kebijakan Presiden Prabowo
Special Plan – Pada perayaan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026, perubahan kebijakan yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto menuai respons yang baik dari para mitra pengemudi ojek daring (ojol). Salah satu perubahan utama yang diumumkan adalah pengurangan potongan pendapatan yang ditarik oleh perusahaan aplikator dari 10% menjadi 8%. Hal ini memberikan harapan baru bagi para pengemudi yang selama ini merasa terbebani oleh besaran potongan yang sering kali mengurangi penghasilan mereka secara signifikan.
Kebijakan yang Diusulkan Mantan Presiden
Presiden Prabowo Subianto telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026, yang mengatur penyesuaian tarif potongan aplikator. Dalam pidatonya di Monumen Nasional, Jakarta, pada Jumat, Presiden menyatakan dukungan terhadap kebijakan ini, dengan mengatakan, “Saya katakan di sini, saya tidak setuju 10 persen, harus di bawah 10 persen.” Ia menekankan bahwa perubahan ini bertujuan untuk memberikan ruang lebih besar bagi pengemudi ojol dalam mengelola pendapatan mereka.
Pernyataan tersebut mencerminkan kepedulian pemerintah terhadap kondisi ekonomi para pekerja di sektor ojol, yang dinilai rentan karena ketergantungan pada sistem digital dan ketidakstabilan permintaan. Selain mengurangi potongan, kebijakan juga mencakup peningkatan kewajiban pemberi kerja untuk memberikan jaminan sosial, seperti asuransi kecelakaan kerja, BPJS Kesehatan, dan program kesehatan tambahan. Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi risiko finansial yang dialami para pengemudi, khususnya dalam situasi darurat seperti sakit atau kecelakaan.
Mitra Ojol Berharap Kebijakan Diselesaikan dengan Tuntas
“Jadi kita harus benar-benar ke depannya diperhatikan, untuk driver-driver juga. Soalnya memang sementara ini, driver sekarang ini lagi sengsara banget ini. Potongannya gede, enggak jelas lagi,”
kata Jasmono, mitra pengemudi ojol di Jakarta, saat diwawancara pada hari yang sama. Ia menilai kebijakan tersebut baik, namun penting untuk diimplementasikan secara konsisten. Menurutnya, selama ini banyak pembicaraan mengenai penyesuaian tarif potongan, tetapi belum ada tindakan konkret yang benar-benar memberi manfaat bagi para pengemudi.
Dalam penjelasannya, Jasmono juga menyebutkan bahwa program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diperkenalkan pemerintah menjadi salah satu inisiatif yang memberikan dampak nyata. Dengan CKG, para pengemudi tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka. Ia berharap program ini terus dikembangkan agar lebih bermanfaat, terutama bagi pengemudi yang bekerja secara mandiri tanpa perlindungan kesehatan formal.
Aditya Muhammad, mitra lainnya, menyampaikan pendapat serupa. “Semoga maju terus, mantap. Pokoknya semangat lah,”
“Semoga maju terus, mantap. Pokoknya semangat lah,”
kata Aditya saat ditanya tentang harapan di May Day. Ia menilai kebijakan yang diusung Prabowo Subianto memberikan perubahan positif, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan para buruh. Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan kebijakan ini bergantung pada komitmen pemerintah untuk memastikan pelaksanaannya tanpa hambatan.
Risiko Kerja yang Tinggi dan Tuntutan Lebih Lanjut
Di samping penyesuaian tarif potongan, kebijakan ini juga menekankan perlunya perlindungan sosial yang lebih komprehensif. Hal ini penting mengingat pekerjaan sebagai pengemudi ojol memiliki risiko tinggi, baik secara fisik maupun mental. Tuntutan terhadap perusahaan aplikator untuk menjamin kesehatan dan kecelakaan kerja dilihat sebagai langkah yang tepat untuk mengurangi beban ekonomi para pengemudi, terutama di masa krisis seperti pandemi atau fluktuasi permintaan.
Jasmono menambahkan bahwa sebelumnya, potongan pendapatan sebesar 10% sering kali membuat pengemudi sulit memenuhi kebutuhan dasar. Dengan pengurangan menjadi 8%, ia berharap para driver bisa lebih stabil secara finansial. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kebijakan ini perlu disertai dengan pengawasan agar tidak berubah menjadi sesuatu yang hanya sekadar retorika. “Saya yakin ini bisa membantu, tapi harus jelas dan adil,” tambahnya.
Aditya juga mengungkapkan bahwa pengurangan tarif potongan membawa dampak langsung terhadap penghasilan harian. “Dengan 8% itu, penghasilan lebih terasa, terutama jika ada peningkatan jumlah order,”
“Dengan 8% itu, penghasilan lebih terasa, terutama jika ada peningkatan jumlah order,”
kata Aditya. Ia menekankan bahwa kebijakan ini tidak hanya menyelesaikan masalah keuangan tetapi juga memperkuat kepercayaan mitra pengemudi terhadap sistem yang digunakan.
Dalam konteks nasional, kebijakan Prabowo Subianto dianggap sebagai langkah awal dalam menegakkan hak pekerja di sektor digital. Namun, para mitra ojol menyadari bahwa masih ada tantangan besar yang harus diatasi, termasuk regulasi yang masih bersifat fleksibel dan keterlibatan aktif pengusaha aplikator. Mereka berharap pemerintah dapat terus memperkuat aturan tersebut untuk menciptakan sistem yang lebih adil dan transparan.
Penyesuaian potongan pendapatan ini juga menjadi sorotan dalam diskusi mengenai keadilan ekonomi. Dengan tarif 8%, para pengemudi diharapkan bisa mengurangi beban keuangan sekaligus meningkatkan daya beli mereka. Selain itu, kebijakan tentang jaminan sosial bertujuan untuk memastikan bahwa mereka tidak hanya menerima upah tetapi juga perlindungan di luar pekerjaan. “Ini bisa menjadi dasar untuk mengembangkan sistem yang lebih manusiawi,”
“Ini bisa menjadi dasar untuk mengembangkan sistem yang lebih manusiawi,”
kata Jasmono, yang berharap kebijakan ini menjadi momentum perubahan yang berkelanjutan.
Dengan adanya Perpres 27 Tahun 2026, pemerintah menunjukkan komitmen untuk mendorong keadilan di sektor ojol. Meski demikian, pengelolaan kebijakan ini memerlukan koordinasi yang lebih baik antara pemerintah, perusahaan aplikator, dan para mitra pengemudi. Para driver pun ber
