Lebanon Bicarakan Gencatan Senjata Langsung dengan Israel
Pembicaraan antara Lebanon dan Israel tentang gencatan senjata langsung berlangsung di Washington, menjadi titik awal dari upaya diplomasi untuk menyelesaikan konflik yang berlangsung selama lebih dari tiga dekade. Acara ini dipimpin oleh AS sebagai pihak mediator, dengan Lebanon diwakili oleh Duta Besar Nada Hamadeh dan Israel oleh Duta Besar Yechiel Leiter.
Prinsip Kedaulatan Nasional
Dalam sesi negosiasi, Menteri Luar Negeri Lebanon Youssef Raggi menekankan bahwa negara itu memiliki wewenang eksklusif untuk menegaskan prinsip kedaulatan nasional dalam proses diplomasi dengan Israel. Ia menyebut gencatan senjata langsung sebagai “jalur baru” yang berbeda dari perundingan antara AS dan Israel dalam konteks perang melawan Iran.
“Hanya negara Lebanon yang memegang wewenang untuk bernegosiasi atas nama Lebanon,” kata Raggi di X pada Selasa (14/4). “Lebanon berupaya, melalui negosiasi langsung dengan Israel, untuk mencapai gencatan senjata.”
Harapan untuk Stabilitas di Selatan
Presiden Lebanon Joseph Aoun berharap pertemuan tersebut dapat menjadi awal dari berakhirnya penderitaan rakyat Lebanon, terutama di wilayah selatan yang menjadi sasaran serangan Israel. Ia menegaskan bahwa stabilitas tidak akan tercapai selama pasukan Israel masih berada di daerah tersebut.
“Satu-satunya solusi terletak pada penempatan kembali tentara Lebanon hingga perbatasan yang diakui secara internasional dan bertanggung jawab sepenuhnya atas keamanan wilayah tersebut serta keselamatan penduduknya tanpa kerja sama dari pihak mana pun,” ujar Aoun saat bertemu dengan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Italia Luciano Portolano.
Kehadiran Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang juga menjabat sebagai penasihat keamanan nasional Presiden Donald Trump, disertai oleh Duta Besar AS untuk Lebanon Michel Issa, penasihat Michael Needham, dan Utusan Tetap AS untuk PBB Mike Waltz. Pemimpin delegasi ini menyoroti pentingnya kesepakatan yang mencakup kedaulatan Lebanon dan keamanan wilayahnya.

