Meeting Results: Indonesia nilai pertemuan Xi-Trump bawa suasana positif dalam APEC

Indonesia nilai pertemuan Xi-Trump bawa suasana positif dalam APEC

Meeting Results – Beijing, 19 Mei 2026 – Menteri Luar Negeri Indonesia menilai pertemuan antara Xi Jinping dan Donald Trump menciptakan suasana yang lebih positif dalam diskusi APEC 2026. Hasil pertemuan tersebut, menurut Santo Darmosumarto, Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kementerian Luar Negeri RI, menjadi fondasi yang menguntungkan bagi pembahasan di forum tersebut. “Pertemuan bilateral ini memberikan latar belakang yang mengoptimalkan dinamika dialog dalam APEC,” ujar Santo usai menghadiri pertemuan “Senior Officials’ Meeting” (SOM) di Shanghai.

Pertemuan Bilateral dan Kontribusi China

Xi Jinping dan Trump bertemu di Beijing pada 14-15 Mei 2026, dengan fokus pada membangun hubungan ekonomi yang stabil dan konstruktif. “Kedua pemimpin sepakat untuk memperkuat kerja sama, terutama dalam menghadapi tantangan global,” tambah Santo. Pertemuan ini, menurutnya, memberikan ruang bagi delegasi AS dan China untuk menegaskan komitmen mereka terhadap agenda APEC, termasuk pembangunan ekonomi berkelanjutan.

“Saat Indonesia hadir di SOM APEC ini, suasana pembahasan menjadi lebih nyaman. Delegasi AS dan China juga memberikan apresiasi bahwa pembicaraan tingkat tertinggi telah menciptakan keadaan yang kondusif, sehingga diharapkan pembahasan dalam forum ini bisa berjalan lancar,” jelas Santo.

Menurut Santo, APEC tetap menjadi forum yang dinamis, dengan setiap keketuaan berupaya menghasilkan inisiatif baru. Namun, perubahan-perubahan yang diusulkan tidak boleh sepenuhnya menciptakan sesuatu yang baru, melainkan mengembangkan capaian sebelumnya. “Yang diharapkan adalah langkah China ini sebagai tindak lanjut dari pembangunan ekonomi yang telah ditetapkan oleh negara-negara seperti Korea Selatan, Peru, dan Amerika Serikat,” tegasnya.

Perbedaan Pandangan dalam APEC

Santo mengakui bahwa meskipun suasana pembahasan menjadi lebih positif, masih ada perbedaan pandangan di antara anggota APEC. Contohnya, Indonesia terus mendukung sistem perdagangan multilateral, sementara AS mulai mengambil pendekatan yang lebih fokus pada kebijakan tarif. “Ini menunjukkan perbedaan strategi antara negara berkembang dan negara maju dalam menghadapi isu global,” tambahnya.

“Indonesia berupaya menjaga keseimbangan antara membuka ekonomi dan melindungi sektor-sektor yang masih rentan. Kami ingin tetap mendukung kebijakan perdagangan terbuka, tapi juga memastikan kepentingan nasional tidak terabaikan,” ujar Santo.

Dalam konteks ini, Indonesia berharap pertemuan bilateral Xi dan Trump bisa menjadi penyelaras antara kebijakan luar negeri AS dan China, yang sebelumnya menimbulkan ketegangan. “Pertemuan tersebut dianggap sebagai langkah penting untuk menciptakan suasana yang lebih harmonis, meski masalah utama seperti ketegangan dagang masih ada,” papar Santo.

Agenda APEC dan Prioritas Bersama

Santo menekankan bahwa APEC, sebagai forum kerja sama antar 21 entitas ekonomi di lingkar Samudera Pasifik, tetap menitikberatkan pada isu-isu bersama. Dalam pertemuan ini, China memberikan penekanan khusus pada empat pilar: keterbukaan, inovasi, kerja sama, dan konektivitas. “Poin-poin ini dianggap sebagai kunci untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, terutama dalam menghadapi era globalisasi,” katanya.

Sebagai negara berkembang, Indonesia menyesuaikan strategi untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan. Santo menyebutkan bahwa negara ini berusaha tidak hanya mendukung kebijakan internasional, tapi juga mempertimbangkan kebutuhan domestik. “Indonesia berharap APEC bisa menjadi platform untuk memperkuat kebijakan yang saling menguntungkan, bukan hanya sekadar menyelesaikan konflik antar negara,” jelasnya.

Peran APEC dalam Perekonomian Global

APEC, yang berdiri pada 1989, memiliki peran penting dalam mengatur kerja sama ekonomi di Asia-Pasifik. Sebagai forum multilateral, APEC melibatkan anggota seperti Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Chile, China, Hong Kong-China, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Filipina, Peru, Papua Nugini, Rusia, Singapura, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, dan Vietnam. Masing-masing anggota, kata Santo, memiliki kontribusi berbeda, tetapi tetap berkomitmen pada tujuan bersama.

Pertemuan SOM tahun ini, yang berlangsung di Shanghai, menjadi ajang untuk menyelaraskan visi kebijakan antar anggota. Meski ada perbedaan, suasana yang dihasilkan pertemuan Xi-Trump diyakini memberikan dampak positif, sehingga mendorong diskusi yang lebih produktif. “Kita berharap keputusan dalam APEC bisa mencerminkan kepentingan bersama, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi global seperti perubahan iklim dan kebijakan perdagangan,” lanjut Santo.

Strategi Indonesia dalam Kebijakan Ekonomi

Indonesia, selama ini, terus mendorong kebijakan perdagangan terbuka. Namun, dalam menjaga keseimbangan, negara ini juga berupaya melindungi sektor-sektor strategis. “Kami ingin ekspor dan impor tetap berjalan lancar, tapi sektor industri nasional harus tetap didukung,” kata Santo. Hal ini menjadi bagian dari strategi Indonesia untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Sebagai bagian dari APEC, Indonesia menempatkan diri sebagai negara yang penuh dengan semangat kolaborasi. Santo menyatakan bahwa negara ini selalu siap untuk berdiskusi dan mencari solusi yang menguntungkan semua pihak. “Pertemuan Xi dan Trump menjadi bukti bahwa negara-negara besar bisa menciptakan keseimbangan yang baik, yang juga bisa diikuti oleh anggota APEC lainnya,” tambahnya.

Dengan suasana positif yang dihasilkan pertemuan tersebut, Santo berharap APEC bisa menjadi wadah untuk menyelesaikan perbedaan dan membangun kerja sama yang lebih erat. “Ini akan membantu mempercepat proses integrasi ekonomi Asia-Pasifik, yang sangat penting dalam era keterbukaan dan perubahan teknologi,” pungkas Santo.

Visi Ke depan untuk APEC

Kebijakan yang diterapkan