Trump Klaim Kemenangan Atas Iran, Ancam Serang Infrastruktur Energi Jika Jalur Damai Gagal

Kembali memperkuat pernyataannya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa konflik bersenjata dengan Iran telah berakhir. Namun, ia tidak menutup kemungkinan untuk melanjutkan serangan terhadap sistem energi Iran jika upaya perdamaian belum memberikan hasil yang memuaskan. Dalam wawancara di Oval Office, Trump menegaskan bahwa kekuatan militer AS telah mengatasi Iran, yang menurutnya kini dalam kondisi terpuruk.

“Saya tidak suka mengatakan ini, tapi kita telah menang karena perang ini telah dimenangkan. Satu-satunya yang ingin memperpanjang konflik adalah berita palsu,” ujar Trump sambil mengkritik laporan media yang dianggapnya memperburuk situasi.

Trump juga menyoroti ketimpangan sumber daya militer antara dua negara. Ia menegaskan bahwa Iran tidak memiliki angkatan laut atau udara yang memadai, sementara AS mampu menguasai wilayah Iran. “Kita memiliki pesawat terbang di atas Teheran dan bagian lain negara mereka. Mereka tidak punya apa-apa,” tambahnya.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

Sementara itu, Trump menyebutkan bahwa AS siap menyerang objek vital Iran kapan saja. “Jika saya ingin meruntuhkan pembangkit listrik besar, mereka tidak bisa berbuat apa-apa,” ucapnya sebagai contoh. Retorika Trump tentang penyelesaian konflik ini terus berubah dalam beberapa minggu terakhir.

Dulu, ia mengancam akan “melenyapkan” pembangkit energi Iran jika Selat Hormuz belum dibuka hingga Senin malam. Namun, pada Senin pagi, Trump memutuskan untuk menunda serangan selama lima hari guna memberi ruang bagi negosiasi. Ia mengungkapkan bahwa pemerintahannya sedang menjalani percakapan produktif dengan Iran.

Perbedaan Pandangan dalam Tim Trump

Tidak semua anggota tim Trump sepakat dengan pendekatan negosiasi. Menurut Trump, Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine lebih memilih penyelesaian melalui tindakan militer. “Pete tidak ingin masalah ini diselesaikan dengan kesepakatan,” jelas Trump.

Trump mengakui bahwa kedua jenderal tersebut merasa kecewa dengan peluang perdamaian. Namun, ia memuji sikap tegas mereka sebagai langkah positif. “Mereka tidak tertarik pada penyelesaian. Mereka ingin memenangkan ini sepenuhnya,” pungkasnya.