Kita Bersedekah
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Topics Covered: Putin sampaikan usulan untuk transfer uranium Iran ke Rusia kepada Xi

Published 22/05/2026 · Updated 22/05/2026 · By Hadi Permata

Putin Sampaikan Usulan untuk Transfer Uranium Iran ke Rusia kepada Xi

Topics Covered - Dalam jumpa pers di Moskow pada Kamis (21/5), pembicara resmi Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa pihak Iran dan Amerika Serikat perlu mengevaluasi usulan yang diajukan oleh Moskow untuk mengalihkan uranium diperkaya dari Iran ke Rusia. Menurut Peskov, Washington belum mengakui ide tersebut. Ia menambahkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah menyampaikan usulan ini kepada Presiden Tiongkok Xi Jinping selama pertemuan tertutup yang berlangsung di ibu kota negara tersebut.

“Mereka membahas Iran selama pertemuan di jamuan minum teh. Dia (Putin) membagikannya (gagasan tersebut),” ujar Peskov.

Sebagian besar detail tentang proposal ini dijaga kerahasiaannya, sehingga Peskov tidak mau memberikan penjelasan tambahan. Ia menyebutkan, "Karena alasan itu, pertemuan tersebut dilakukan secara rahasia." Proposal ini menunjukkan upaya Moskow untuk memperkuat hubungan strategis dengan Iran, yang dalam beberapa bulan terakhir memperlihatkan ketegangan antara kedua negara terkait masalah nuklir dan kebijakan geopolitik. Transfer uranium diperkaya ke Rusia dianggap sebagai langkah untuk mengurangi ketergantungan Iran pada persediaan nuklir internasional, sekaligus memperoleh manfaat ekonomi melalui kerja sama bilateral.

Peskov juga menyebutkan bahwa Moskow menentang kebijakan tekanan paksa yang dilakukan AS terhadap Kuba. Ia menekankan bahwa pemblokadean pulau tersebut memiliki dampak serius terhadap masyarakat sipil. "Blokade terhadap pulau itu sendiri belum pernah terjadi sebelumnya dan memiliki konsekuensi kemanusiaan yang dahsyat bagi rakyat biasa yang tinggal di sana," tambahnya. Selain itu, Peskov mengkritik taktik "pamer kekuatan" yang dilakukan AS dalam bentuk operasi militer atau kebijakan ekonomi, yang menurutnya memperburuk kondisi penduduk Kuba.

“Tentu saja, 'pamer kekuatan' lebih lanjut dalam bentuk armada ini dan sebagainya hanya akan memperburuk situasi bagi penduduk pulau tersebut,” katanya.

Peskov menyoroti peran pemimpin politik senior dalam proses ini. Ia menyatakan bahwa Moskow memandang tindakan represif terhadap para pemimpin negara seperti Kuba sebagai metode yang tidak tepat. "Kami percaya bahwa dalam keadaan apa pun metode seperti itu, yang berbatasan dengan metode kekerasan, tidak boleh diterapkan kepada para pemimpin negara tertinggi saat ini atau mantan pemimpin," tambahnya. Ia juga menegaskan bahwa negara-negara besar seperti Rusia dan Tiongkok tidak sepatutnya mengeksploitasi posisi politik para pemimpin kecil dalam upaya memperkuat dominasi internasional.

“Kami percaya bahwa tekanan yang diberikan kepada Kuba tidak dapat dibenarkan,” katanya.

Usulan transfer uranium diperkaya ke Rusia dilatarbelakangi oleh kekhawatiran Moskow terhadap pelanggaran perjanjian nuklir oleh Iran. Dalam konteks hubungan antara Rusia dan AS yang semakin memburuk, proposal ini bertujuan untuk membuka jalur baru bagi Iran dalam memenuhi kebutuhan energinya. Peskov menekankan bahwa negara-negara besar perlu melibatkan diri lebih aktif dalam menyelesaikan konflik regional, bukan hanya memaksa kebijakan melalui pihak ketiga.

Peskov juga memaparkan bahwa pemblokadean AS terhadap Kuba bukan hanya mengakibatkan kesulitan ekonomi, tetapi juga menyebabkan krisis bahan makanan dan kesehatan bagi masyarakat awam. Ia menyoroti kebutuhan Kuba untuk mendapatkan dukungan dari negara-negara lain, termasuk Rusia, dalam mengatasi dampak dari sanksi-sanksi yang diberlakukan. "Blokade ini menciptakan tekanan luar biasa, terutama terhadap keluarga-keluarga yang miskin," jelasnya.

“Tindakan ini bukan hanya mengancam ketersediaan barang kebutuhan, tetapi juga menghambat upaya pemerintah Kuba dalam membangun ekonomi lokal,” kata Peskov.

Di sisi lain, Peskov menyebutkan bahwa kebijakan AS terhadap Kuba merupakan contoh nyata dari intervensi yang tidak proporsional. Ia mengkritik tindakan tekanan ekonomi dan sanksi yang diimplementasikan AS, yang menurutnya memperburuk krisis politik di Kuba. "Kami menganggap metode seperti ini sebagai bentuk dominasi negara besar terhadap negara-negara yang lebih kecil, yang akhirnya merugikan rakyat," ujarnya.

“Pemblokadean ini menciptakan ketidakadilan yang jelas dalam hal akses ke sumber daya global,” tambah Peskov.

Peskov juga menyoroti peran diplomatik Rusia dalam situasi tersebut. Ia menekankan bahwa Moskow berupaya menjadi mediator yang adil dalam perang dagang antara AS dan Kuba. "Kami bersikeras bahwa sanksi-sanksi ini harus dianalisis dengan lebih teliti, terutama terhadap dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari rakyat Kuba," katanya. Ia menambahkan bahwa dialog antar-negara tetap menjadi solusi terbaik, meskipun AS terus memperketat tekanan politik dan ekonomi.

Usulan transfer uranium diperkaya Iran ke Rusia dianggap sebagai langkah penting dalam memperkuat hubungan diplomatik dan ekonomi antara kedua negara. Moskow berharap proposal ini dapat mengurangi ketergantungan Iran pada sumber daya internasional, sekaligus memperoleh akses eksklusif ke teknologi nuklir yang diperlukan untuk kepentingan energi negara. Peskov mengatakan bahwa kebijakan ini akan membantu mengurangi tekanan internasional terhadap Iran, yang selama ini menjadi fokus utama sanksi dari Liga Negara-Negara Islam dan negara-negara Barat.

“Dengan transfer ini, Iran akan memiliki lebih banyak fleksibilitas dalam menyeimbangkan kebutuhan nuklir dan kebijakan diplomatik,” kata Peskov.

Di sisi lain, Peskov men