What Happened During: Iran Mulai Masa Berkabung Publik untuk Ayatollah Ali Khamenei
Iran Memulai Masa Berkabung Nasional untuk Ayatollah Ali Khamenei
What Happened During - Iran resmi memasuki masa perayaan kesedihan nasional sebagai bentuk penghormatan kepada Ayatollah Ali Khamenei, mantan Pemimpin Tertinggi negara tersebut. Masa berkabung ini menandai awal dari rangkaian upacara pemakaman yang dijadwalkan berlangsung hingga empat puluh hari. Sebagai bagian dari tradisi keagamaan, seluruh kantor pemerintah dan swasta di Teheran ditutup selama tiga hari berturut-turut, mulai Sabtu hingga Senin. Tindakan ini mencerminkan penghormatan besar yang diberikan masyarakat Iran kepada tokoh spiritual dan politik yang telah meninggal.
Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat yang menargetkan Iran pada 28 Februari. Peristiwa tersebut memicu gelombang konflik regional yang terus berkembang sepanjang bulan berikutnya. Jenazahnya saat ini disimpan di Grand Mosalla, pusat keagamaan utama di Teheran, sebagai tempat peristirahatan sementara sebelum prosesi pemakaman resmi. Video yang dirilis menunjukkan peti jenazah Khamenei berada di bawah bendera Republik Islam Iran, diusung dengan penuh hormat di lokasi tersebut.
“Peti jenazah akan ditempatkan di atas panggung khusus, dengan pengaturan lalu lintas pengunjung yang memastikan setiap orang bisa masuk dan keluar dalam waktu 15 hingga 20 menit,” ujar Komandan Korps Mohammad Rasulullah, Hassan Hassanzadeh, saat memberikan keterangan.
Prosesi pemakaman rencananya akan diadakan di kota kelahirannya, Mashhad, pada 9 Juli. Kota ini menjadi tempat peristirahatan imam kedelapan dalam tradisi Syiah, serta situs ziarah utama yang dikunjungi jutaan peziarah setiap tahun. Sebelum sampai ke Mashhad, jenazah akan mengikuti serangkaian upacara di Teheran, Qom, dan Najaf, Irak, sebagai bagian dari ritual yang menyebar ke berbagai wilayah.
Pemerintah Iran memperkirakan sekitar 12 hingga 20 juta orang akan hadir dalam rangkaian upacara yang diadakan di berbagai kota. Aktivitas ini berlangsung saat Iran dan Amerika Serikat menjalani gencatan senjata yang belum stabil setelah menandatangani kesepakatan awal di bulan Juni. Meski status konflik terus berubah, prosesi pemakaman tetap menjadi momen penting untuk menyatukan rasa kehilangan publik.
Upacara 40 Hari yang Berlangsung di Seluruh Iran
Rangkaian upacara peringatan akan terus berlangsung hingga 40 hari setelah pemakaman, dengan acara yang dijadwalkan di berbagai kota untuk memperingati kesedihan atas kepergian Khamenei. Di Teheran, selain upacara resmi pada Sabtu (4/7), juga terdapat pembatasan lalu lintas dan penutupan ruang udara sebagai langkah antisipasi. Pusat kota ditutup untuk kendaraan pribadi, sementara ruang udara hanya terbuka sebagian hingga Senin (6/7).
Dalam upacara resmi di Teheran, peti jenazah Khamenei akan dibawa ke Masjid Jamkaran, tempat keagamaan utama di kota Qom, pada Selasa (6/7). Di sana, seorang ulama senior Syiah akan memimpin salat jenazah sebagai tanda penghormatan terhadap kepercayaan yang dipegang Khamenei. Setelahnya, jenazah akan ditemani ke makam Imam Ali di Najaf, Irak, pada Rabu (7/7), sebelum dilanjutkan ke Karbala, kota suci lain dalam tradisi Syiah.
Menurut pejabat Iran, upacara di Irak dilakukan atas permintaan kelompok-kelompok lokal yang menghormati Khamenei. Analis politik mengatakan tindakan ini menunjukkan pengaruh besar tokoh tersebut di kalangan masyarakat Muslim Syiah, serta hubungan keagamaan dan politik yang kuat antara Iran dengan negara-negara lain di wilayah tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, telah melakukan kunjungan ke Baghdad untuk mengkoordinasikan persiapan acara, menekankan pentingnya upacara sebagai simbol perlawanan dan solidaritas.
Prosesi pemakaman terakhir di Mashhad akan menjadi bagian dari ritual yang memperkuat identitas keagamaan Iran. Di sana, jenazah Khamenei akan dimakamkan di Kompleks Makam Imam Reza, yang merupakan tempat peristirahatan imam kedelapan Syiah. Acara ini diharapkan menarik partisipasi masyarakat luas, baik dari dalam maupun luar negeri, sebagai bentuk penghormatan kolektif.
Di tengah upacara, masih terdapat ketidakpastian mengenai partisipasi Mojtaba, putra Khamenei, yang telah menggantikan posisi ayahnya sebagai Pemimpin Tertinggi. Meski Mojtaba belum pernah tampil di depan publik sejak menjabat, keputusan apakah ia akan hadir di pemakaman akan diumumkan oleh Kantor Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata dan Kantor Pemimpin Tertinggi. Kehadirannya akan menjadi fokus perhatian, terutama dalam konteks tradisi Syiah yang menempatkan peran salat jenazah sebagai simbol kekuasaan dan pengaruh.
Prosesi ini juga menimbulkan refleksi tentang peran Khamenei dalam memimpin negara dan menggerakkan gerakan politik serta agama di Timur Tengah. Sejumlah analis mengungkapkan bahwa kesedihan yang dirasakan rakyat Iran tidak hanya mencerminkan kehilangan seorang pemimpin, tetapi juga kehilangan simbol utama dari sistem kekuasaan yang berlandaskan Syiah. Dengan upacara yang diadakan secara besar-besaran, Iran berusaha mengokohkan kembali posisi spiritual dan politiknya di tengah situasi konflik global.
Sebagai bagian dari tradisi, jenazah Khamenei akan diiringi oleh rombongan yang melibatkan ribuan pengikut dan tokoh keagamaan, menambahkan dimensi keagamaan ke dalam perayaan nasional. Selain itu, acara ini menjadi kesempatan untuk meninjau kembali hubungan Iran dengan negara-negara lain, terutama dalam konteks kemenangan dan kekalahan dalam perang besar yang terjadi beberapa bulan lalu. Masa berkabung ini tidak hanya berupa upacara, tetapi juga menjadi waktu bagi rakyat Iran untuk menyampaikan dukungan terhadap pemerintahan baru dan mengevaluasi masa depan negara.