AMP
KitaBersedekah
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Discussion: Tunjangan Guru Naik, DPR Ungkap Masih Ada PR Besar di Dunia Pendidikan

Published Juni 13, 2026 · Updated Juni 13, 2026 · By Rizki Lestari

Tunjangan Guru Naik, DPR Ungkap Masih Ada PR Besar di Dunia Pendidikan

Key Discussion - Dalam sebuah pernyataan resmi, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menyambut antusias kebijakan pemerintah yang meningkatkan tunjangan bagi guru non-ASN maupun ASN. Kebijakan ini, menurutnya, menunjukkan komitmen pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan para pendidik yang selama ini menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas pendidikan.

Menurut Lalu Hadrian, kenaikan tunjangan guru merupakan langkah yang dianggap sebagai bentuk dorongan positif untuk meningkatkan kesejahteraan para pendidik. Ia menekankan bahwa kebijakan tersebut akan memberikan dampak signifikan dalam mendorong keberlanjutan proses belajar-mengajar, terutama di tengah tantangan yang dihadapi oleh sektor pendidikan.

"Kami mendukung kenaikan tunjangan bagi guru non-ASN maupun guru ASN. Kebijakan ini merupakan langkah positif dalam upaya meningkatkan kesejahteraan para guru," ujar Lalu Hadrian dalam keterangannya, Jumat (12/6).

Tunjangan Guru Non-ASN Naik Menjadi Rp 2 Juta

Sebelumnya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Abdul Mu'ti, menyampaikan bahwa pemerintah telah melakukan penyesuaian besaran tunjangan guru non-ASN. Kenaikan ini terjadi dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 2 juta per bulan.

Dalam rangkaian kebijakan tersebut, tunjangan bagi guru ASN tetap diatur berdasarkan besaran gaji pokok yang mereka terima. Selain itu, pemerintah juga mengambil langkah untuk menyalurkan gaji dan tunjangan secara langsung ke rekening masing-masing guru.

Kebijakan ini diharapkan mampu mengurangi beban finansial para pendidik, terutama di daerah-daerah yang memiliki anggaran terbatas. Kenaikan tunjangan tersebut sejalan dengan upaya memastikan keberlanjutan sistem pendidikan, yang menjadi fokus utama dalam pembangunan nasional.

Kesejahteraan dan Kualitas Guru Diminta Tidak Diabaikan

Walaupun menyambut baik kebijakan peningkatan tunjangan, Lalu Hadrian menyoroti bahwa masih terdapat tantangan signifikan yang perlu diperhatikan. Menurutnya, dalam postur anggaran 2027, pagu indikatif terutama diarahkan pada pengembangan sarana dan prasarana pendidikan.

Legislator asal Dapil NTB II ini mengingatkan bahwa pemerintah juga harus memperhatikan peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang pendidikan. Hal ini meliputi aspek-aspek seperti mutu peserta didik, pengembangan kompetensi guru, serta ketersediaan fasilitas pendukung.

"Jangan lupa, kita masih punya pekerjaan rumah untuk meningkatkan kesejahteraan para guru, kemudian meningkatkan mutu para siswa dan guru. Program peningkatan kualitas guru juga belum tercantum dalam pagu indikatif anggaran 2027," ujarnya.

Pembangunan Sarana dan Peningkatan SDM Perlu Dijalin

Lalu Hadrian menegaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kebijakan pendidikan. Ia mengatakan, jika fokus pembangunan hanya pada infrastruktur, maka ada risiko keberlanjutan mutu pendidikan tidak terjamin.

Komisi X DPR RI, menurutnya, akan terus memantau dan mendorong pemerintah agar tidak mengabaikan aspek-aspek kritis dalam sektor pendidikan. Tidak hanya kesejahteraan guru, tetapi juga pengembangan profesionalitas dan kualitas pembelajaran, harus mendapat perhatian serius.

Dalam kesempatan ini, Lalu Hadrian menyoroti bahwa anggaran untuk pelatihan guru dan program peningkatan kompetensi masih terbatas. Ia berharap, dalam tahun depan, pemerintah dapat memperluas cakupan kebijakan tersebut, sehingga setiap tenaga pendidik memiliki kesempatan untuk berkembang.

Peran DPR dalam Mendorong Kebijakan Pendidikan

Komisi X DPR RI, menurut Lalu Hadrian, akan mencermati dan membahas lebih lanjut pagu indikatif anggaran pendidikan tahun 2027. Tujuannya adalah memastikan bahwa kebutuhan dasar pendidikan dapat terpenuhi secara optimal.

Legislator ini menambahkan bahwa komite tersebut akan mencari solusi strategis agar setiap aspek pendidikan, mulai dari pengadaan sarana hingga peningkatan kualitas, bisa terakomodasi. Ia juga mengingatkan pentingnya koordinasi antara lembaga legislatif dan eksekutif untuk mempercepat perwujudan kebijakan yang efektif.

Kebijakan peningkatan tunjangan guru, menurut Lalu Hadrian, adalah langkah awal yang baik. Namun, untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih baik, perlu dilakukan pendekatan komprehensif. Ia menekankan bahwa pembangunan pendidikan tidak hanya tentang anggaran, tetapi juga tentang kebijakan yang sejalan dengan kebutuhan masyarakat.

Di sisi lain, angka Rp 2 juta per bulan bagi guru non-ASN diharapkan bisa mengurangi tekanan ekonomi yang menghambat kinerja pendidik. Kebijakan ini juga menjadi perhatian utama bagi masyarakat yang peduli pada pendidikan, karena tunjangan yang memadai akan memotivasi guru untuk terus berkontribusi.

Tidak hanya itu, Lalu Hadrian juga menyoroti pentingnya integrasi antara kebijakan anggaran dan kebijakan regulasi. Ia mencontohkan, selama ini ada kesenjangan antara rencana pengembangan guru dan pelaksanaannya di lapangan. Dengan mengakomodasi kebutuhan dasar pendidikan dalam anggaran, Komisi X DPR RI berharap bisa mengatasi masalah-masalah tersebut.

Menurutnya, kebijakan yang diterapkan harus memperhatikan kesetaraan dan keadilan. Guru di daerah terpencil, misalnya, perlu diberikan insentif tambahan untuk mengimbangi kondisi yang lebih sulit. Dengan demikian, peningkatan tunjangan menjadi salah satu upaya untuk menutup kesenjangan tersebut.

Komisi X DPR RI juga akan berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk dinas pendidikan setempat dan organisasi guru, agar kebijakan bisa diimplementasikan secara efektif. Langkah ini diperlukan untuk memastikan bahwa keuntungan yang diberikan benar-benar dirasakan oleh para pendidik.

Kenaikan tunjangan guru menjadi perhatian besar, terutama dalam konteks percepatan pemulihan pendidikan setelah dampak pandemi. Dengan berbagai perbaikan kecil ini, pemerintah mencoba membangun fondasi yang kuat untuk pengembangan pendidikan jangka panjang.

DPR, sebagai lembaga yang memiliki peran penting dalam pengawasan anggaran, akan terus memberikan masukan agar kebijakan pendidikan bisa mencapai tujuan optimal. Ia berharap, dalam waktu dekat, pemerintah dapat mengakui pentingnya kesejahteraan pendidik