Studi Ungkap Perbedaan Muka Orang Kaya dan Miskin
Jakarta, CNBC Indonesia — Penelitian terbaru dari Universitas Toronto menemukan bahwa wajah manusia menyimpan informasi yang lebih luas daripada yang kita kira. Hasil riset yang dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology menyatakan bahwa kondisi ekonomi seseorang bisa diduga hanya melalui raut wajahnya, bahkan saat tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Dalam eksperimen, para peneliti menampilkan 160 foto hitam putih pria dan wanita dengan wajah netral, tanpa ekspresi atau aksesori tambahan. Setengah dari peserta berasal dari kelompok berpenghasilan tinggi, sedangkan sisanya dari kalangan kelas pekerja.
Responden kemudian diminta menebak status sosial masing-masing individu. Temuan mengejutkan menunjukkan sekitar 68% jawaban mereka benar, meski tidak bisa menjelaskan alasan di balik tebakan tersebut. “Ketika ditanya cara menebaknya, mereka tidak punya penjelasan. Mereka tidak menyadari bagaimana bisa mengenali dengan akurat,” kata R-Thora Bjorsdottir, peneliti yang mengutip hasilnya dari CNBC Make It, Minggu (8/3/2026).
Studi ini menunjukkan bahwa perbedaan finansial bisa terlihat dari ekspresi wajah seseorang,” jelas Bjorsdottir.
Untuk memperdalam temuan, para peneliti memperbesar fitur wajah seperti mata dan mulut. Hasilnya tetap konsisten. Kekayaan atau kemiskinan seseorang tampaknya tercatat dalam raut wajah permanen, membantu orang lain mengenali latar belakang ekonomi. Orang yang memiliki kondisi finansial lebih baik cenderung menunjukkan ekspresi yang terlihat lebih tenang dan bahagia. Sebaliknya, individu dari kelompok ekonomi lemah menampilkan wajah yang lebih tegang serta berkesan tidak nyaman, bahkan dalam keadaan diam.
“Ini bisa jadi bagian dari siklus kemiskinan. Perlakuan berbeda terhadap orang yang dianggap ‘berwajah kaya’ bisa memperbesar ketimpangan dan menyulitkan keadilan,” ujar Nicholas O. Rule, peneliti lain yang mengingatkan.
Penelitian ini menyoroti bagaimana persepsi berdasarkan penampilan fisik mungkin mengubah cara masyarakat menilai individu. Jika kebiasaan ini terus berlanjut, risiko memperkuat prasangka dan memperparah ketimpangan sosial menjadi nyata.
[Gambas:Video CNBC] Next Article Jangan Baper, Riset Membuktikan Muka Orang Kaya & Miskin Memang Beda

