Iran Terus Memperkuat Komitmen, IRGC Berjanji Bunuh Netanyahu

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan komitmen mereka untuk menghukum Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Pernyataan ini datang di tengah berlangsungnya konflik dengan Israel dan Amerika Serikat (AS). IRGC menyatakan akan terus mengejar dan membunuh Netanyahu, jika ia masih hidup. Mereka juga mengklaim bahwa Netanyahu kemungkinan besar telah meninggalkan Israel bersama keluarganya, meski tidak ada bukti yang jelas.

“Jika penjahat pembunuh anak ini masih hidup, kami akan terus mengejar dan membunuhnya dengan kekuatan penuh,” tulis Garda Revolusi dalam situs web mereka, Senah News, seperti dilaporkan AFP, Senin (16/3/2026).

Sementara itu, AS dan Israel terus melakukan serangan militer terhadap Iran, akhir pekan lalu, termasuk lokasi di provinsi Isfahan. Sebagai balasan, Iran meluncurkan rangkaian rudal ke Israel, dengan laporan dampak di kota Holon. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa Iran telah menghubunginya terkait kesepakatan potensial, namun menegaskan bahwa syaratnya belum memenuhi standar.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

Minggu ini, Trump mengajak negara-negara dunia seperti Inggris dan Jepang untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz, yang ditutup Iran sebagai tindakan pembalasan.

Drone Buru Tentara AS

Mengutip RT, Teheran mengklaim telah meluncurkan serangan baru menggunakan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Serangan tersebut dilaporkan terjadi saat konflik memasuki hari ke-16, dengan target meliputi fasilitas di Irak, Bahrain, dan Kuwait. Mereka juga memperingatkan warga sipil di sekitar area tersebut agar tidak mendekati lokasi militer AS.

“Drone mematikan kami sedang mencari satu per satu lokasi persembunyian tentara Amerika di kawasan ini. Setelah memperoleh informasi intelijen, kami akan menyerang secara presisi setiap teroris Amerika di wilayah tersebut,” kata juru bicara komando militer Iran.