Drone ‘Murah’ Ini Jadi Senjata Pamungkas Iran, Bikin AS-Israel Pusing
Jakarta, CNBC Indonesia – Konflik Timur Tengah semakin memanas setelah Iran mengungkap strategi baru dengan mengerahkan ribuan drone hemat biaya. Tindakan ini mengejutkan pihak-pihak utama seperti Amerika Serikat, mengingat sebelumnya kebijakan pemerintahan Donald Trump lebih menitikberatkan pada ancaman rudal tradisional.
Pada 28 Februari, Trump memulai serangan udara ke Iran dan menyatakan rencana untuk menghancurkan industri rudal Teheran. Namun, dalam waktu singkat, Iran membalas dengan gelombang serangan drone Shahed yang menargetkan sekutu AS di Teluk. Serangan ini mengakibatkan kerusakan serius pada pangkalan militer AS di Kuwait, serta infrastruktur energi di Arab Saudi dan Qatar.
Dron Shahed 136, yang menjadi andalan Iran, dirancang sederhana namun berbahaya. Harga produksi per unit berkisar antara US$ 20.000 hingga US$ 50.000, jauh lebih murah dibanding rudal balistik. Meski hanya membawa bahan ledus 50 kg, keunggulan drone ini terletak pada kemampuan memperdaya radar dengan terbang rendah.
“Drone-drone ini telah terbukti sangat efektif. Saking efektifnya, AS kini mengembangkan versi miliknya sendiri,” ujar Mick Mulroy, mantan Marinir AS dan eks Wakil Asisten Sekretaris Pertahanan untuk Timur Tengah, dikutip BBC News, Kamis (12/3/2026).
Sebagai respons, militer AS mulai menggunakan sistem drone Lucas (Low-Cost Uncrewed Combat Attack System) yang mereka kembangkan. Laksamana Brad Cooper, Kepala Pasukan AS di Timur Tengah, menyebut bahwa teknologi Iran diadopsi dan ditingkatkan untuk membalas serangan. “Kami telah mengambil desain Iran, membuatnya menjadi lebih baik, dan menembakkannya kembali tepat ke arah Teheran,” tambah Cooper.
Menurut Nicholas Carl, ahli Iran dari American Enterprise Institute, serangan drone Iran bukan hanya bertujuan merusak infrastruktur, tetapi juga menyasar psikologis. Strategi ini dianggap menciptakan ketakutan di kota-kota besar untuk mendorong AS mencapai gencatan senjata.
Kabarnya, intensitas serangan Iran mulai menurun signifikan. Dalam beberapa hari terakhir, peluncuran drone turun hingga 83% dari awal perang, sementara penggunaan rudal balistik berkurang hingga 90% akibat tekanan dari AS dan Israel. Carl menilai ini menunjukkan stok senjata Iran mulai terbatas, memperkuat tekanan militer yang berlangsung.
Dengan adanya ancaman dari senjata-senjata ini, AS dan Israel terus mengembangkan pertahanan mereka. Meski drone murah menjadi senjata terbaru, dampaknya terbukti mampu mengubah dinamika pertempuran di kawasan tersebut.
[Gambas:Video CNBC] Next Article: Burj Al Arab, Gedung Ikonik Kebanggaan Dubai Rusak Dihantam Drone Iran

