AS Ngamuk ke Israel Pasca Hajar Depot BBM Iran, Sebut di Luar Rencana

Konflik antara Amerika Serikat dan Israel semakin memuncak setelah serangan udara yang dilancarkan oleh Tel Aviv menghancurkan puluhan depot bahan bakar di Iran. Serangan ini memicu ketegangan besar yang menandai pertama kalinya sejak kedua negara terlibat perang melawan Republik Islam Iran delapan hari lalu. Washington merasa terkejut karena skala operasi Israel melebihi kesepakatan awal yang telah disampaikan.

Pernyataan dari Pejabat AS

Para pejabat Amerika mengungkapkan bahwa serangan tersebut lebih luas dari ekspektasi. Kebakaran hebat yang terjadi di sejumlah depot di Teheran dan kota-kota lainnya memicu asap tebal yang terlihat dari jarak jauh. Ini membuat Gedung Putih khawatir bahwa tindakan Israel bisa berdampak strategis pada Iran, seperti memperkuat kepercayaan publik terhadap pemerintah.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

“Gedung Putih dilaporkan sangat khawatir bahwa serangan terhadap infrastruktur yang digunakan oleh warga sipil Iran akan menjadi bumerang secara strategis. AS memperingatkan bahwa tindakan Israel ini berpotensi menyatukan opini publik Iran untuk mendukung pemerintah mereka, sekaligus memberikan tekanan hebat pada harga energi dunia,” ujar pejabat dikutip Al Mayadeen, Senin, 10/3/2026.

Sementara itu, pejabat senior AS menyatakan bahwa tindakan penghancuran infrastruktur sipil tersebut tidak direncanakan secara baik. “Presiden AS sangat menentang serangan yang menghancurkan fasilitas minyak,” tambah penasihat Donald Trump kepada Axios.

Respons Israel

Pihak Israel mempertahankan bahwa depot-depot yang diserang digunakan pemerintah Iran untuk mendistribusikan bahan bakar ke berbagai sektor, termasuk militer. Meski demikian, kekhawatiran AS terbukti dengan gejolak di pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 20% pada perdagangan Senin pagi, mencapai level tertinggi sejak 2022.

Brent naik US$ 18,35 (Rp 311.344) ke US$ 111,04 (Rp 1.884.015) per barel, sementara WTI melonjak US$ 20,34 (Rp 345.108) menjadi US$ 111,24 (Rp 1.887.409) per barel. Lonjakan ini dipicu oleh ketakutan akan gangguan pasokan di Selat Hormuz, jalur utama energi global yang kini mulai dihindari oleh kapal-kapal tanker.

Ketegangan juga menggelombangkan pasar saham. Indeks Nikkei Jepang turun 6,2%, sedangkan pasar Korea Selatan mengalami penurunan 7,3%. Di Amerika Serikat, indeks S&P 500 dan Nasdaq terlihat melemah, seiring penguatan dolar AS karena ketidakpastian geopolitik yang terus meningkat.

Menurut para ekonom, meskipun Arab Saudi berusaha menambah pasokan melalui Laut Merah, volume tersebut tidak cukup untuk menggantikan kehilangan dari Selat Hormuz jika konflik terus memanas. Dampak dari serangan ini juga menyebabkan kepanikan di pasar energi, yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global.

Baca Juga

Iron Dome Bobol Lagi, Rudal Iran Hantam Israel Kondisi Kacau Balau Pasukan Pendudukan Israel Iran Ngamuk! Ancam Membumihanguskan Fasilitas Minyak Negara Teluk

[Gambas:Video CNBC] Next Article: Iran Mulai Balas AS-Israel, Ledakan Terdengar di Qatar-UEA-Arab Saudi