Perang Iran Belum Kelar, Israel Mau Caplok Wilayah Negara Arab Ini

Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah Israel merencanakan tindakan militer untuk menguasai sebagian daerah selatan Lebanon, dengan tujuan menciptakan “zona buffer pertahanan”. Tindakan ini dinilai mengurangi peluang deeskalasi, meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kemungkinan kesepakatan untuk berakhirnya konflik masih terbuka. Pernyataan ini diungkapkan dalam pertemuan dengan kepala staf militer, seperti yang dilaporkan The Guardian, Kamis (26/3/2026).

Dalam wawancara tersebut, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengungkapkan bahwa pasukan negara akan mengendalikan jembatan yang tersisa dan wilayah keamanan hingga Sungai Litani. Sungai Litani, yang mengalir ke Laut Mediterania, berada sekitar 30 kilometer di utara garis batas dengan Israel. Katz menambahkan bahwa semua jembatan di atas aliran air tersebut, yang katanya digunakan Hizbullah untuk memindahkan pasukan dan senjata ke selatan Lebanon, telah dihancurkan.

“Masih banyak lagi yang akan datang,” kata Netanyahu, sejalan dengan pendapat tiga pejabat Israel yang meragukan kemungkinan Iran menerima tuntutan AS dalam putaran negosiasi baru.

Sehari sebelumnya, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich menyatakan bahwa Israel harus menerapkan kedaulatan di daerah selatan Lebanon. Pernyataan ini dianggap mencerminkan ambisi ekspansionis dan memicu kekhawatiran di dalam dan luar negeri. Pemerintah Lebanon kemudian mengusir duta besar Iran, Mohammad Reza Shibani, dengan menyebutnya sebagai persona non grata, meminta dia meninggalkan negara sebelum Minggu.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

Langkah ini menggambarkan pergeseran pengaruh Iran yang terjadi selama puluhan tahun. Sementara itu, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mendorong Hizbullah untuk menghentikan serangan terhadap Israel, menegaskan bahwa membalas kepemimpinan Iran “tidak ada kaitannya dengan kita”. Kelompok bersenjata yang didukung Iran ini mengecam keputusan tersebut sebagai tindakan yang bertujuan menguntungkan Israel dan memperdalam perpecahan.

Lebanon kian terlibat dalam konflik regional dengan Iran setelah Israel melakukan serangan udara dan bertempur melawan Hizbullah di selatan. Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran mengancam akan meluncurkan serangan rudal dan drone besar-besaran terhadap pasukan Israel di utara dan wilayah Gaza “tanpa batasan” jika negara itu tidak menghentikan serangan di Lebanon serta Palestina.

Langkah Israel menciptakan zona buffer pertahanan di selatan Lebanon dinilai berpotensi memperpanjang ketegangan militer. Hizbullah menyebut tindakan ini sebagai ancaman eksistensial bagi negara tersebut, sementara pemerintah Lebanon terus berupaya untuk memperbaiki hubungan internasional di tengah risiko konflik internal yang semakin tinggi.