Penumpang Transportasi Jakarta Tembus 368,4 Juta
Pengguna Angkutan Umum Jakarta Meningkat hingga 368,4 Juta Orang
Kitabersedekah.com – Pergerakan warga Jakarta dengan transportasi publik terus menunjukkan kenaikan. Hingga triwulan III 2026, akumulasi penumpang Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta mencapai 368.454.122 orang. Angka ini menandai pertumbuhan 10,8 persen dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan jumlah perjalanan tersebut menjadi gambaran meningkatnya peran angkutan massal dalam mobilitas harian warga. Tiga moda itu melayani kebutuhan perjalanan dengan karakter berbeda, mulai dari perjalanan di koridor bus, lintasan kereta bawah tanah dan layang, hingga koneksi antarkawasan di Jakarta.
Pada triwulan III 2025, jumlah pengguna gabungan Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta tercatat 332.304.763 orang. Setahun sebelumnya, atau pada periode yang sama pada 2024, jumlahnya mencapai 299.231.447 orang. Rangkaian angka tersebut memperlihatkan pertumbuhan penggunaan transportasi publik selama tiga tahun berturut-turut jika dilihat dari posisi triwulan ketiga setiap tahun.
Peralihan dari Kendaraan Pribadi
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menilai pertumbuhan penumpang mencerminkan semakin banyak warga yang memilih angkutan umum ketimbang menggunakan kendaraan pribadi. Pilihan tersebut relevan bagi kota dengan aktivitas padat, ketika perjalanan menuju kantor, sekolah, layanan publik, maupun pusat kegiatan ekonomi membutuhkan sarana yang dapat diakses banyak orang.
“Jadi kenaikannya cukup signifikan, masyarakat yang beralih dari menggunakan kendaraan pribadi sekarang ini memakai transportasi publik,” ucap Pramono saat konferensi pers Realisasi APBD Triwulan III 2026 di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Rabu (21/10).
Pertumbuhan penumpang tidak hanya berbicara tentang jumlah orang yang masuk ke halte atau stasiun. Kenaikan itu juga menunjukkan pentingnya pengalaman perjalanan yang tersambung. Warga akan lebih mudah menjadikan transportasi umum sebagai pilihan utama apabila perpindahan dari satu moda ke moda lain dapat dilakukan untuk melanjutkan perjalanan sehari-hari.
Dalam konteks Jakarta, konektivitas antarmoda menjadi bagian penting dari upaya memperluas manfaat transportasi publik. Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta memiliki jalur serta titik layanan yang berbeda. Keterhubungan antarlayanan membantu pengguna menyusun perjalanan sesuai tujuan dan kebutuhan mereka.
Konektivitas Mencapai 93 Persen
Konektivitas transportasi publik di Jakarta telah mencapai 93 persen. Capaian ini disebut turut mendukung bertambahnya jumlah pengguna. Jaringan yang semakin saling terhubung memberi kemudahan bagi masyarakat dalam memanfaatkan angkutan umum sebagai penunjang aktivitas rutin.
Bagi penumpang, konektivitas berarti perjalanan tidak berhenti pada satu kendaraan saja. Perjalanan dapat melibatkan lebih dari satu moda, sehingga akses dari titik keberangkatan menuju tujuan akhir menjadi lebih memungkinkan. Hal tersebut penting terutama bagi warga yang menjalani mobilitas lintaswilayah atau memiliki tujuan yang tidak berada tepat di sepanjang satu rute transportasi.
Jakarta juga memperoleh pengakuan dalam penilaian sistem transportasi perkotaan di tingkat internasional. Dalam pemeringkatan kota dengan sistem transportasi terbaik versi Time Out 2026, Jakarta berada pada urutan ke-15 dunia. Posisi tersebut naik dua tingkat dibandingkan pemeringkatan tahun 2025.
Pengakuan itu hadir di tengah perhatian terhadap pengembangan layanan angkutan massal di ibu kota. Bagi pengguna sehari-hari, kualitas sistem transportasi tetap berkaitan dengan hal-hal praktis: kemudahan mencapai layanan, pilihan rute, kelancaran perpindahan moda, serta kemampuan menggunakan jaringan tersebut untuk kegiatan harian.
Tren Kenaikan dalam Tiga Tahun
Kepala Badan Pembinaan BUMD Provinsi DKI Jakarta, Syaifuloh Hidayat, memaparkan rincian total penumpang pada triwulan III 2026 yang mencapai 368.454.122 orang. Dibandingkan angka 2025 yang berjumlah 332.304.763 orang, terdapat tambahan puluhan juta perjalanan dalam kurun satu tahun.
Jika dibandingkan dengan 2024, peningkatannya terlihat lebih panjang. Pada triwulan III tahun itu, total pengguna ketiga moda masih berada di angka 299.231.447 orang. Dengan demikian, angka 2026 berada jauh di atas capaian dua tahun sebelumnya.
Data triwulanan tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta tidak bergerak secara stagnan. Kenaikan yang terjadi dari 2024 ke 2025, lalu berlanjut pada 2026, menguatkan gambaran bahwa angkutan umum semakin dipakai dalam perjalanan warga Jakarta.
Jumlah penumpang gabungan juga perlu dipahami sebagai akumulasi perjalanan, bukan semata-mata jumlah individu yang berbeda. Seorang pengguna dapat melakukan lebih dari satu perjalanan atau menggunakan lebih dari satu moda dalam aktivitasnya. Karena itu, angka tersebut menggambarkan intensitas pemanfaatan layanan transportasi publik sepanjang periode yang dihitung.
Layanan Gratis untuk 15 Golongan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tetap menjalankan kebijakan tarif gratis transportasi publik bagi 15 golongan masyarakat. Kebijakan ini berjalan bersamaan dengan upaya menjaga akses warga terhadap layanan angkutan massal dan memperkuat penggunaan transportasi umum di Jakarta.
Layanan gratis tersebut telah digunakan oleh 23 juta penumpang. Angka pemanfaatan itu menunjukkan bahwa fasilitas tarif gratis menjadi bagian yang digunakan dalam mobilitas masyarakat yang masuk ke dalam kelompok penerima kebijakan.
“Kemudian layanan transportasi gratis telah juga tetap diberikan dan dimanfaatkan oleh 23 juta penumpang dari 15 golongan,” pungkas Syaifuloh.
Kombinasi pertumbuhan jumlah penumpang, konektivitas 93 persen, serta kelanjutan layanan gratis menggambarkan beberapa unsur yang berjalan bersamaan dalam sistem transportasi publik Jakarta. Bagi warga, pilihan menggunakan angkutan umum berkaitan dengan tersedianya akses perjalanan yang dapat diandalkan untuk kebutuhan sehari-hari.
Ke depan, tren penggunaan ini akan tetap menjadi salah satu indikator penting dalam melihat peran Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta. Peningkatan jumlah perjalanan pada triwulan III 2026 memperlihatkan bahwa ketiga moda tersebut semakin hadir dalam pola mobilitas masyarakat ibu kota.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Penumpang Transportasi Jakarta Tembus 368 4 Juta?Penumpang Transportasi Jakarta Tembus 368 4 Juta is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Penumpang Transportasi Jakarta Tembus 368 4 Juta matter?Penumpang Transportasi Jakarta Tembus 368 4 Juta matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.