Karir Militer Try Sutrisno, Dari Gagal Tes Fisik hingga Menjadi Panglima ABRI

Jenderal (Purn) TNI Try Sutrisno meninggal dunia pada Senin (2/3) di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Usia 90 tahun, ia wafat setelah menjalani perawatan sekitar dua minggu karena dehidrasi. Meninggal dunia di pagi hari, jenazah akan disalatkan di Masjid Sunda Kelapa dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

Karir militer Try Sutrisno yang dulu terbilang menanjak memang mengalami hambatan. Di awal perjalanan, ia gagal dalam ujian fisik saat mendaftar di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) tahun 1957. Namun, kejadian itu justru membuka jalan baru. Sosoknya menarik perhatian Mayjen Gusti Pangeran Harya (GPH) Djatikusumo, yang pada masa itu menjabat Kasad. Dengan panggilan Djatikusumo, Try akhirnya melanjutkan proses penerimaan setelah mengikuti tes psikologis di Bandung.

Kehidupan Try pun mulai berubah. Sebelum lulus dari ATEKAD tahun 1959, ia berteman dekat dengan Benny Moerdani. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia mengemban tugas di berbagai wilayah seperti Sumatra, Jakarta, dan Jawa Timur. Tahun 1972, karirnya melangkah ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad). Pada 1974, ia diangkat menjadi ajudan Presiden Soeharto, posisi yang menjadi awal dari pengaruh besar dalam dunia militer.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

Perjalanan karier terus menanjak. Setelah menjadi ajudan selama empat tahun, Try Sutrisno dipercaya sebagai Kepala Staf Kodam XVI/Udayana pada 1978. Tahun berikutnya, ia naik pangkat menjadi Panglima Kodam IV/Sriwijaya. Selama periode jabatan tersebut, ia aktif dalam beberapa operasi penting, termasuk mengamankan peristiwa Tanjung Priok. Di tahun 1986, ia menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), sementara pada 1988-1993, karirnya mencapai puncak sebagai Panglima ABRI.

“Sosoknya bukan orang ambisius yang menghalalkan segala cara demi mendapat jabatan,”

Try Sutrisno juga dikenal sebagai tokoh yang memiliki dedikasi tinggi. Dalam masa jabatan, ia membentuk Ban Tabungan Wajib Perumahan TNI AD untuk memudahkan prajurit membeli rumah. Meski tak pernah berniat menjadi wakil presiden, keberadaannya dalam dunia militer akhirnya mengarah pada posisi tersebut setelah pensiun.

Meninggalkan jejak pengabdian yang tak terlupakan, Try Sutrisno memiliki dua putra, Irjen Pol (Purn) Firman Santyabudi dan Letjen Kunto Arief Wibowo. Pada masa hidupnya, ia meniti karier dari bawah hingga mencapai titik tertinggi, sebelum mengakhiri perjalanan dengan wafat di usia 90 tahun. Dalam pidatonya, Prabowo memperingatkan keberhasilan karir Try Sutrisno sebagai perjuangan jenderal legendaris TNI.