AMP
KitaBersedekah
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Main Agenda: DPR Terima Audiensi OJK Usai Penetapan Direksi Baru BEI

Published Juni 19, 2026 · Updated Juni 19, 2026 · By Aisyah Hidayat

DPR Terima Audiensi OJK Usai Penetapan Direksi Baru BEI

Main Agenda - **Main Agenda** menjadi fokus utama dalam pertemuan antara Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang berlangsung di Ruang Pimpinan DPR, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Kamis (18/6/2026). Hadir dalam sesi ini, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR Sari Yuliati, serta Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, memberikan pernyataan kepada para wartawan. Mereka menjelaskan bahwa pertemuan ini bertujuan untuk menyamakan persepsi dan mendorong kebijakan strategis yang diharapkan dapat menjaga keberlanjutan pasar modal Indonesia. Main Agenda ini juga mencakup pembahasan tentang pengembangan infrastruktur keuangan, penguatan regulasi, dan langkah-langkah untuk meningkatkan kualitas pengelolaan bursa efek.

Pertemuan Strategis antara DPR dan OJK

Pertemuan yang diadakan dalam rangka Main Agenda ini dipandang sebagai langkah penting dalam menghadapi tantangan ekonomi global dan mengakselerasi reformasi sektor keuangan. Dalam kesempatan tersebut, OJK dan DPR sepakat untuk memperkuat sinergi dalam mengawasi pasar modal, termasuk menghadapi isu-isu seperti keterbukaan informasi, tata kelola perusahaan, dan keadilan dalam transaksi saham. FRiderica Widyasari Dewi menyampaikan bahwa OJK dan BEI akan mengambil langkah-langkah konkret untuk menciptakan lingkungan investasi yang lebih inklusif dan transparan, yang menjadi aspek utama dari Main Agenda ini.

Dalam diskusi, ditekankan bahwa sistem pengawasan harus disinkronkan dengan kebijakan regulasi yang lebih modern, terutama dalam menghadapi digitalisasi pasar modal dan kebutuhan adaptasi terhadap kebijakan global. DPR mengapresiasi upaya OJK dan BEI untuk memperbaiki pengelolaan bursa efek, serta menegaskan pentingnya keterlibatan lembaga legislatif dalam memastikan kebijakan yang diambil dapat mengoptimalkan pertumbuhan sektor keuangan tanpa mengorbankan stabilitas. Main Agenda ini juga menjadi wadah untuk mengumpulkan masukan dari berbagai pihak, termasuk pengamat pasar modal dan pelaku ekonomi.

Penetapan Direksi Baru BEI

Pergantian direksi BEI yang diumumkan dalam pertemuan tersebut menjadi salah satu elemen utama dari Main Agenda yang dibahas. Jeffrey Hendrik, Direktur Utama BEI periode 2026–2030, ditetapkan setelah memenuhi kriteria ketat dalam proses seleksi. Nama-nama anggota direksi lainnya juga disampaikan, meski detail lengkap belum dibuka ke publik. Jeffrey Hendrik, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Lalu Lintas dan Pasar Modal OJK, dianggap memiliki pengalaman yang relevan dalam mengelola bursa efek dan menghadapi dinamika pasar yang semakin kompleks.

"Main Agenda ini sangat penting karena akan menjadi dasar untuk transformasi BEI menjadi institusi yang lebih modern dan kompetitif. Dengan adanya Jeffrey Hendrik sebagai pimpinan, kami berharap proses regulasi dan pengawasan bisa lebih efektif," kata Friderica Widyasari Dewi dalam wawancara singkat dengan media.

Pergantian direksi BEI ini dilakukan dengan pertimbangan kemampuan dan kapasitas para calon dalam menghadapi tantangan sektor keuangan. Dalam Main Agenda, OJK dan DPR sepakat bahwa direktur baru harus memiliki visi yang jelas untuk mengembangkan pasar modal, termasuk memperkuat kebijakan transparansi dan meningkatkan partisipasi investor. Penetapan direktur juga menjadi perhatian khusus karena dianggap berkaitan langsung dengan keberhasilan penguatan sistem pengawasan pasar modal.

Langkah Strategis untuk Stabilitas Sistem Keuangan

Salah satu isu utama dalam Main Agenda ini adalah upaya memperkuat pengawasan terhadap kegiatan perusahaan publik dan institusi keuangan. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan bahwa OJK dan BEI akan mengembangkan kerja sama yang lebih intensif untuk memastikan kinerja pasar modal tetap stabil. Ini termasuk penerapan standar internasional dalam pengelolaan bursa efek, serta penguatan kebijakan yang mengatasi risiko sistemik yang mungkin muncul.

Langkah-langkah yang diusulkan meliputi penerapan mekanisme pengawasan yang lebih fleksibel dan berbasis data. Selain itu, OJK juga menginginkan penguatan regulasi terkait penyampaian laporan keuangan yang transparan, serta pengelolaan risiko kredit yang lebih baik. Pemimpin baru BEI, Jeffrey Hendrik, diberikan tugas untuk memastikan implementasi kebijakan tersebut, khususnya dalam meningkatkan akses finansial bagi usaha kecil dan menengah (UKM) yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Main Agenda ini juga mencakup pembahasan tentang kesiapan pasar modal menghadapi perubahan iklim ekonomi dan kebijakan global.

Harapan dan Tantangan Masa Depan

Para anggota DPR yang hadir menyambut baik pertemuan ini sebagai wujud komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas pasar modal Indonesia. Mereka menegaskan bahwa Main Agenda ini harus diimplementasikan secara terpadu dengan kebijakan pemerintah dan lembaga terkait. "Dengan adanya koordinasi yang lebih baik antara DPR, OJK, dan BEI, kita bisa menciptakan sistem keuangan yang lebih kuat dan responsif," ujar Sari Yuliati.

Pertemuan ini juga membuka ruang diskusi tentang peran bursa efek dalam mendukung perekonomian Indonesia. Dalam Main Agenda, disepakati bahwa BEI harus menjadi pusat penggerak dalam menciptakan ekosistem keuangan yang lebih inklusif, terutama bagi masyarakat ekonomi menengah dan kecil. Tantangan utama yang dihadapi mencakup pertumbuhan yang tidak merata, keterbukaan informasi yang masih bisa ditingkatkan, dan kebutuhan pelatihan pegawai bursa efek untuk menjaga kualitas layanan. Harapan utama dari pertemuan ini adalah bahwa Main Agenda dapat menjadi kerangka kerja yang jelas untuk mencapai tujuan tersebut.

Kontribusi DPR dalam Pengembangan Pasar Modal

Kehadiran DPR dalam audiensi ini menunjukkan komitmen legislatif untuk terus mendukung pengembangan pasar modal. Anggota DPR menyatakan bahwa Main Agenda harus menjadi acuan dalam menyusun kebijakan yang lebih berorientasi pada kebutuhan masyarakat. "DPR akan berperan aktif dalam mengawasi pelaksanaan kebijakan ini, termasuk memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan bursa efek," tambah Sufmi Dasco Ahmad.

Dalam pembahasan Main Agenda, diusulkan penguatan regulasi terkait akses pasar bagi perusahaan-perusahaan yang belum tercatat, serta peningkatan kerja sama antarinstansi dalam mengawasi kegiatan usaha yang berkaitan langsung dengan bursa. Pemerintah diharapkan juga memperhatikan keseimbangan antara pertumbuhan pasar modal dan stabilitas sistem keuangan. Dengan Main Agenda yang diusung, diharapkan dapat menghasilkan kebijakan yang lebih efektif dalam menjaga keseimbangan ini. Anggota DPR juga menyarankan adanya mekanisme evaluasi berkala untuk memastikan langkah-langkah yang diambil tetap sesuai dengan kebutuhan nasional.