Latest Program: PKB Kawal Implementasi Regulasi Turunan UU Pesantren, Ingin Terjadi Transformasi
PKB Kawal Implementasi Regulasi Turunan UU Pesantren, Ingin Terjadi Transformasi
Latest Program - MerahPutih.com - Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, mengemukakan pentingnya perubahan besar dalam sistem pendidikan pesantren. Ia berharap transformasi ini mampu menjawab tantangan zaman serta membentuk generasi santri yang mampu bersaing secara internasional.
Agenda Strategis Transformasi Pesantren
Kang Cucun menyoroti dua fokus utama dalam perjalanan pesantren ke depan: pengawasan implementasi regulasi yang berasal dari Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, serta peningkatan kapasitas santri untuk menghadapi kecepatan perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Kedua agenda ini, menurutnya, menjadi fondasi penting untuk memastikan pesantren tetap relevan di era digital.
“Setiap undang-undang harus memiliki dampak nyata di lapangan. Faktanya, belum semua pihak memahami sepenuhnya peran negara melalui regulasi ini,” kata Kang Cucun.
Ia menegaskan, keberhasilan UU Pesantren bergantung pada penerapan yang tepat. Pesantren perlu merasakan manfaat dari empat prinsip utama, yaitu pengakuan terhadap keberadaannya, dukungan kebijakan yang berpihak, fasilitasi pendanaan melalui Dana Abadi Pesantren, serta penguatan fungsi sosial dan dakwah. Tanpa penerapan yang konsisten, manfaat undang-undang akan sulit dirasakan secara maksimal.
Kebutuhan Implementasi Nyata
Menurut Kang Cucun, pengembangan berbagai aturan turunan, baik peraturan menteri maupun daerah, tidak boleh memperparah beban birokrasi bagi pesantren. Ia menekankan bahwa regulasi harus menjadi alat untuk memudahkan, bukan menghambat, proses pengembangan lembaga pendidikan ini.
Kebijakan turunan dari UU Pesantren, kata dia, perlu dirancang agar sesuai dengan kebutuhan dunia pendidikan modern. Contohnya, integrasi teknologi dalam kurikulum, pengelolaan sumber daya manusia, dan peningkatan kualitas pengajaran. “Regulasi yang tidak responsif terhadap dinamika masyarakat akan mengakibatkan kesenjangan antara visi dan kenyataan,” ujarnya.
Peningkatan Kapasitas Santri
Di sisi lain, Kang Cucun meminta pesantren lebih proaktif dalam meningkatkan kemampuan santri menghadapi perubahan global. Ia menyebut, kemampuan teknis dan berpikir kritis harus menjadi bagian integral dari pendidikan. Hal ini penting karena pesantren tidak hanya berperan sebagai pusat pengajaran agama, tetapi juga sebagai penyangga nilai-nilai sosial dan etika.
Kebutuhan adaptasi terhadap teknologi, menurutnya, bukanlah hal yang bisa diabaikan. Pesantren diwajibkan menyesuaikan diri dengan perkembangan AI dan digitalisasi. “Santri masa depan harus mampu memanfaatkan alat-alat teknologi untuk memperkuat pemahaman agama mereka, bukan sebaliknya,” jelas Kang Cucun.
Integrasi Kurikulum Internasional
Kang Cucun menilai pesantren memiliki peluang besar untuk mengadopsi standar pendidikan internasional tanpa menghilangkan ciri khasnya sebagai institusi keagamaan. Ia mengungkapkan, kurikulum seperti Cambridge Curriculum atau International Baccalaureate dapat dimodifikasi agar sesuai dengan konteks lokal. “Pendekatan ini memungkinkan pesantren tetap menjaga identitas keislamannya sambil mengejar kualitas pendidikan yang kompetitif,” tambahnya.
Kurikulum internasional, menurutnya, bisa menjadi pilar utama dalam menjawab tantangan global. Dengan menggabungkan metode pengajaran yang modern, pesantren mampu memperkaya keterampilan santri di bidang sains, teknologi, dan seni. Hal ini juga membantu menyelaraskan visi pesantren dengan kebutuhan pasar tenaga kerja internasional.
Kontribusi Pesantren dalam Era AI
Di tengah kemajuan teknologi, Kang Cucun menegaskan bahwa pesantren bisa menjadi penyangga nilai-nilai etika dan moral. Ia menyebut, generasi santri yang memiliki dasar keagamaan kuat diperlukan untuk mengarahkan perkembangan AI ke arah yang lebih manusiawi. “Perspektif agama bisa memberikan panduan dalam memanfaatkan kecerdasan buatan untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya.
Transformasi pendidikan pesantren, menurut Kang Cucun, harus mencakup dua aspek: pengembangan kurikulum yang inklusif dan penguatan kualifikasi pengelola. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia yang berkompeten. Ia juga menyoroti pentingnya kerja sama antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam mewujudkan visi tersebut.
Kebutuhan transformasi ini, kata Kang Cucun, juga terkait dengan peran pesantren dalam membentuk masyarakat yang beradab dan berwawasan luas. Ia menilai, pengaruh global terhadap pendidikan tidak bisa dihindari, sehingga pesantren harus menjadi bagian dari perubahan tersebut. “Jika pesantren tidak beradaptasi, mereka akan ketinggalan dalam era persaingan global,” tegasnya.
Dalam konteks ini, Kang Cucun menekankan bahwa pendidikan pesantren harus merangkul inovasi teknologi sebagai alat pembelajaran, bukan sebagai ancaman. Dengan mengintegrasikan AI ke dalam kurikulum, pesantren bisa membantu santri menguasai kemampuan baru yang relevan di berbagai bidang. Namun, ia menegaskan bahwa inovasi ini harus diiringi pemahaman akan nilai-nilai keagamaan.
Menurut Kang Cucun, transformasi pesantren tidak hanya tentang perubahan sistem, tetapi juga tentang perubahan mentalitas. Santri tidak lagi dilihat sebagai individu yang hanya menerima ilmu agama, tetapi sebagai pribadi yang mampu berpikir kritis dan ber