AMP
KitaBersedekah
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Strategy: Puncak Musim Kemarau, 3 Desa di Lereng Gunung Merapi Klaten Kesulitan Air Bersih

Published Juni 24, 2026 · Updated Juni 24, 2026 · By Zahra Setiawan

Key Strategy: Kekeringan Parah Mengancam 3 Desa di Lereng Merapi Klaten

Key Strategy - Saat ini, tiga desa di lereng Gunung Merapi, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, sedang menghadapi tantangan serius akibat puncak musim kemarau. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Syahruna, mengungkapkan bahwa daerah tersebut termasuk zona rawan kekeringan. Dalam wawancara Selasa (23/6), Syahruna menjelaskan dampak kekeringan mulai terasa di Desa Tegalmulyo, Sidorejo, dan Tlogowatu.

Kondisi Air Bersih yang Menurun

"Ada tiga desa di Kecamatan Kemalang yang sudah terdampak musim kemarau. Desa Tegalmulyo, Sidorejo, dan Tlogowatu menjadi wilayah paling terkena," ujar Syahruna.

Persoalan air bersih semakin kritis karena penurunan curah hujan drastis sejak awal musim kemarau. BPBD Klaten mengambil Key Strategy dengan mengirimkan air bersih menggunakan tangki khusus. Warga sebelumnya mengandalkan sumur warga dan aliran sungai, yang kini mulai mengering.

Langkah Darurat dan Strategi Jangka Panjang

Dalam upaya memenuhi kebutuhan air warga, tim BPBD mengirimkan tangki darurat ke tiga desa terdampak. Syahruna menyebutkan bahwa Desa Tegalmulyo mendapat tiga tangki, sedangkan Desa Tlogowatu menerima enam tangki. Desa Sidorejo juga mendapat tiga tangki sebagai bagian dari Key Strategy untuk mengatasi kekeringan.

Sementara itu, BPBD Klaten terus mengevaluasi kondisi sumber air di wilayah Kemalang. Syahruna menegaskan bahwa Key Strategy tidak hanya fokus pada bantuan darurat, tetapi juga menyiapkan solusi jangka panjang. "Kami tengah merancang strategi baru untuk membuat sumur dalam di Desa Sidorejo dan Tegalmulyo," jelasnya.

Kecamatan Kemalang dikenal sebagai area rawan kekeringan. Meski sebagian wilayah Desa Tlogowatu terhubung ke PDAM, hanya sekitar 400 jiwa yang mendapat pasokan air. Ratusan warga lainnya masih mengandalkan air sumur atau sungai yang kini mulai kritis. Hal ini menimbulkan ketidakmerataan akses air di desa-desa tersebut.

Permintaan Air Meningkat, Dampak pada Kehidupan Sehari-hari

Kebutuhan air bersih meningkat, menyebabkan jumlah warga yang terdampak mencapai ribuan jiwa. Syahruna mengingatkan bahwa kekeringan bisa mengganggu kehidupan sehari-hari, terutama bagi warga di area terpencil. "Beberapa mengeluhkan kesulitan mandi dan memasak," tambahnya.

BPBD Klaten tidak hanya mengirimkan air darurat, tetapi juga berencana meningkatkan kapasitas infrastruktur air. Key Strategy ini melibatkan kolaborasi erat dengan kepala desa untuk menentukan lokasi sumur dalam yang strategis.

Proyek pembangunan embung atau bendungan kecil juga menjadi bagian dari Key Strategy. Pemerintah Kabupaten Klaten meninjau kemungkinan ini untuk menangkap air hujan, memastikan ketersediaan air bersih secara berkelanjutan. Infrastruktur air saat ini masih bergantung pada sumber alam yang rentan terhadap perubahan iklim.

Syahruna menegaskan bahwa upaya jangka panjang sangat penting. "Klaten harus siap menghadapi dampak kemarau yang bisa berlangsung lebih lama," ujarnya. Selain itu, pihaknya terus memantau sumber daya air secara berkala untuk mencegah situasi krisis.