KitaBersedekah
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Rano Karno Tidak Mau Ekonomi Kreatif DKI Cuma Berkutat di Blok M

Published September 5, 2026 · Updated September 5, 2026 · By Rafi Nugroho - kitabersedekah.com

Foto : Rafi Nugroho - kitabersedekah.com

Ekosistem Kreatif Jakarta Perlu Melampaui Batas Blok M

Kitabersedekah.com – Perkembangan industri kreatif di ibu kota selama bertahun-tahun cenderung terkonsentrasi pada satu titik gravitasi: kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Fenomena ini menciptakan ketimpangan spasial yang membuat wilayah lain—utara, barat, timur, dan tengah—tertinggal dalam peta ekonomi kreatif nasional. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno secara terbuka menyatakan bahwa pola sentralisasi semacam itu harus diakhiri, dan bahwa potensi kreatif warga Jakarta perlu diaktifkan secara merata di seluruh wilayah administratif kota.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika Rano hadir dalam acara pengukuhan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) DKI Jakarta di M Bloc Live House, Sabtu (5/9). Dalam kesempatan itu, ia menekankan bahwa pembagian wilayah kerja ekonomi kreatif tidak boleh lagi berpusat pada satu koridor saja.

"Kami, bersama Gubernur DKI, ingin membagi wilayah Jakarta. Jangan hanya fokus di wilayah selatan ini. Tapi kita akan membagi ke utara, kita akan membagi ke barat,"

Konteks pernyataan ini penting jika dilihat dari sudut pandang tata ruang ekonomi kota. Blok M memang telah lama menjadi episentrum aktivitas kreatif—mulai dari galeri seni, studio musik, hingga ruang-ruang kreatif independen—namun konsentrasi tersebut menimbulkan efek spillover yang tidak merata. Kawasan seperti Tanjung Priok, Cilincing, atau Kepulauan Seribu, yang memiliki karakter budaya dan potensi kreatif berbeda, selama ini belum mendapat perhatian proporsional dalam kebijakan pengembangan ekonomi kreatif daerah.

Peran Jaringan Gekrafs dalam Pemetaan Potensi Lokal

Rano menyoroti bahwa organisasi seperti Gekrafs, yang memiliki struktur hingga tingkat wilayah, memegang fungsi strategis sebagai mata dan telinga pemerintah daerah dalam mengidentifikasi bakat serta potensi kreatif yang tersebar di berbagai kelurahan dan kecamatan. Tanpa jaringan akar rumput semacam itu, pemetaan potensi kreatif akan tetap bersifat top-down dan cenderung mengabaikan komunitas-komunitas kecil yang belum terdata.

Dimensi waktu juga menjadi pendorong urgensi kebijakan ini. Jakarta akan menapaki usia ke-500 pada tahun 2027, sebuah tonggak sejarah yang menuntut kota untuk menunjukkan wajah ekonomi yang lebih inklusif dan berdaya saing. Menjelang momentum tersebut, dukungan aktif dari pelaku kreatif—seniman, kreator konten, pengrajin, chef, desainer, hingga pengembang produk khas Jakarta—diperlukan agar perayaan milenium kota tidak sekadar menjadi seremoni, melainkan juga katalis percepatan industri kreatif lokal.

Rano menegaskan bahwa 17 subsektor ekonomi kreatif yang telah diidentifikasi secara nasional harus dikembangkan secara simultan dan menyeluruh. Artinya, tidak ada satu bidang pun—baik seni pertunjukan, kuliner, fashion, film, musik, penerbitan, hingga kriya—yang boleh diabaikan dalam kerangka kebijakan daerah. Pendekatan ini menuntut koordinasi lintas dinas, dari Kebudayaan hingga Perdagangan, serta pelibatan aktif komunitas kreatif di setiap kelurahan.

Kinerja Ekonomi dan Ambisi Pasar Global

Langkah redistribusi ekonomi kreatif ini datang di tengah momentum pertumbuhan yang solid. Pada triwulan kedua tahun 2026, produk domestik regional bruto Jakarta tercatat tumbuh sebesar 5,52 persen, sekaligus menyumbang 16,15 persen terhadap perekonomian nasional. Angka tersebut menempatkan ibu kota sebagai salah satu mesin pertumbuhan utama Indonesia, dan sektor kreatif dipandang sebagai salah satu penggerak utama di balik lonjakan tersebut.

Di sisi eksternal, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak berhenti pada pasar domestik. Rano mengungkapkan bahwa upaya menembus pasar internasional sedang dijalankan secara konkret melalui keikutsertaan dalam pameran dagang di Mumbai dan New Delhi, India. Selain itu, rencana pengembangan akses pasar juga tengah disiapkan untuk Vietnam dan Brunei Darussalam, dua pasar yang dinilai memiliki afinitas budaya dan permintaan produk kreatif yang sejalan dengan profil ekspor Jakarta.

"Yang menjadi kekuatan Jakarta adalah pada ekonomi kreatif. Untuk itu, mari kita konsentrasi mengembangkan ekosistem serta industri ekonomi kreatif di Jakarta,"

Pernyataan penutup tersebut merangkum arah kebijakan yang ingin ditonjolkan: ekonomi kreatif bukan sekadar sektor pelengkap, melainkan tulang punggung daya saing kota. Implikasinya, dalam beberapa tahun ke depan, dapat diantisipasi pergeseran kebijakan publik dari pendekatan yang reaktif—hanya merespons klaster kreatif yang sudah terbentuk—menuju pendekatan proaktif yang secara sengaja menabur benih ekosistem kreatif di wilayah-wilayah yang selama ini terpinggirkan. Bagi pelaku usaha kreatif skala kecil dan menengah, hal ini berarti peluang akses pendanaan, ruang kerja, dan pasar yang lebih luas di luar koridor Blok M. Bagi warga Jakarta secara keseluruhan, redistribusi ini menjanjikan ekonomi yang lebih adil secara geografis, sekaligus memperkuat identitas budaya kota yang selama ini terfragmentasi dalam satu titik peta.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Rano Karno Tidak Mau Ekonomi Kreatif?

Rano Karno Tidak Mau Ekonomi Kreatif is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Rano Karno Tidak Mau Ekonomi Kreatif matter?

Rano Karno Tidak Mau Ekonomi Kreatif matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.