Ejek AS Terang-terangan, Iran Terus Kirim Minyak ke China Lewat Selat Hormuz
Teheran tetap mengekspor volume besar minyak mentah ke Tiongkok melalui Selat Hormuz, meski Amerika Serikat dan Israel terus melakukan serangan serta mengancam jalur vital tersebut. Data pelacakan kapal menunjukkan kegiatan ekspor Iran mencapai 13,7 juta hingga 16,5 juta barel dari 28 Februari hingga 11 Maret, setara dengan rata-rata 1,1 juta hingga 1,5 juta per hari. Angka ini sedikit menurun dibandingkan periode sebelum konflik, namun masih mendekati level tahun lalu.
Ketegangan dan Keberlanjutan Ekspor
Sejak perang dimulai 28 Februari, Selat Hormuz mengalami kekacauan. Pergerakan kapal non-Iran melalui jalur ini melambat, sementara serangan terhadap kapal dan infrastruktur energi mengganggu ekspor produsen Teluk lain. Namun, Iran tetap mempertahankan pengiriman minyak ke Tiongkok, yang mendapat sekitar 45% pasokan minyaknya dari sini.
Menurut Reuters, ekspor Iran berjalan lancar karena kapal tanker berlayar di perairan negara itu dan memuat di Pulau Kharg, pusat ekspor utama. Ini memungkinkan Teheran menghindari penyitaan kapal seperti yang dilakukan Washington terhadap Venezuela sebelumnya.
Posisi Politik AS dalam Konflik
Analis menyebutkan, Washington memilih tidak langsung menyita kapal Iran untuk menghindari risiko menutup Selat Hormuz sepenuhnya. Tindakan ini memberi Teheran insentif lebih besar untuk memperkuat kontrol atas jalur tersebut, memposisikan AS dalam tekanan yang lebih rumit. Sementara berperang melawan Iran, minyak yang dikenai sanksi tetap mengalir ke pelanggan utama, China.
Peluang dan Dampak Ekonomi Global
Kontras ini memiliki makna politik penting: meski Iran tetap di bawah tekanan militer, keberhasilannya menjual minyak ke pasar global menimbulkan tantangan bagi produsen saing dan importir. Pengurangan pengiriman melalui Hormuz—yang menyumbang sekitar 20% perdagangan energi internasional—meningkatkan kekhawatiran tentang guncangan pasokan dan mendorong kenaikan harga minyak.
Bahkan tanpa penutupan penuh jalur air, pasar telah bereaksi terhadap risiko konflik mengganggu ekspor Teluk. Hal ini memberi tekanan ekonomi lebih besar pada negara-negara yang berusaha mengatasi inflasi. Bagi Gedung Putih, situasi ini dianggap sebagai ejekan yang memperlihatkan kegagalan strategi mereka.
Pernyataan Gubernur California
Pekan lalu, Gubernur California menuding Trump menikmati manfaat besar dari kenaikan harga minyak, yang didorong oleh ketegangan di Selat Hormuz. Meski Iran mengalami tekanan, minyak mereka tetap mencapai China, menimbulkan dampak langsung terhadap pasar global dan ancaman terhadap pasokan energi negara lain.

