China Minta AS dan Israel Berhenti Serang Iran Setelah Khamenei Tewas
Beijing, Kompas.com – Pemerintah Tiongkok mengecam serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang berujung pada kematian Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran. Dalam pernyataan resmi, Beijing menyebut tindakan tersebut tidak dapat diterima dan meminta penghentian segera aksi militer. Sebagai pembeli utama minyak Iran, Tiongkok juga mendorong semua pihak untuk kembali ke jalur dialog untuk mencegah eskalasi konflik regional.
Konflik ini terjadi di tengah ketegangan pasar energi global, yang terpicu oleh ancaman Iran untuk memblokade Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, mengungkapkan dalam panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, bahwa serangan AS dan Israel merupakan “pembunuhan terbuka terhadap seorang pemimpin negara berdaulat” serta “hasutan untuk mengganti pemerintahan,” menurut laporan kantor berita resmi Xinhua.
“Serangan itu adalah agresi jelas terhadap sebuah negara berdaulat, serta contoh dari politik kekuasaan dan hegemoni,” kata Xinhua. “Penggunaan kekuatan militer secara paksa oleh Washington dinilai sebagai pelanggaran signifikan terhadap prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan penyimpangan dari norma internasional dasar.”
Presiden AS, Donald Trump, meminta rakyat Iran memanfaatkan momentum tersebut untuk mengambil alih pemerintahan. Wang Yi menegaskan bahwa Tiongkok mengejar penghentian segera aksi militer dan peningkatan kembali dialog. Dalam situasi darurat, Kedutaan Besar Tiongkok di Israel menyarankan warganya untuk mengungsi ke wilayah lebih aman di dalam negeri atau meninggalkan negara menuju Mesir melalui perbatasan Taba.
Kementerian Luar Negeri Tiongkok juga memperingatkan warga negaranya di Iran agar segera meninggalkan kawasan konflik. Data dari Kpler menunjukkan bahwa impor minyak Iran ke Tiongkok turun dari rata-rata 1,38 juta barel per hari pada bulan lalu menjadi 1,138 juta barel per hari di bulan ini. Sejumlah warga Tiongkok terluka akibat serangan tersebut, sementara lainnya terjebak di daerah terdampak.
Di tengah ketegangan, penggunaan minyak Rusia meningkat menjadi rata-rata 2,07 juta barel per hari, naik 370.000 barel per hari dibanding Januari. Hal ini menunjukkan pergeseran pasokan energi akibat ancaman Iran terhadap Selat Hormuz—jalur yang mengalirkan hampir seperlima pasokan minyak dunia. Data Vortexa juga mencatat bahwa impor minyak Iran ke Tiongkok dalam Februari sedikit di atas 1 juta barel per hari, turun 220.000 barel per hari dibanding bulan sebelumnya.
Kedubes Iran mengungkapkan ada 9 jejak kelam intervensi AS terhadap Teheran sejak tahun 1953. Konflik ini memicu gangguan besar pada penerbangan, terutama di wilayah Timur Tengah. Operator maskapai berbasis Hong Kong, Cathay Group, menunda operasionalnya, mengganggu rute penerbangan ke Dubai, Riyadh, serta layanan kargo melalui Bandara Internasional Al Maktoum di Dubai.

