Washington Dianggap Tak Siap Strategis saat Berperang melawan Iran
Konflik yang berlangsung sejak 28 Februari lalu telah mencapai dua minggu, dengan serangan gabungan AS-Israel menjadi pemicu awal. Justru, perang semakin memperluas dampaknya, menyebabkan wilayah Timur Tengah terlibat dalam pertarungan yang lebih kompleks. Amerika Serikat (AS) dituduh tidak mempersiapkan strategi yang terencana saat terlibat dalam konflik dengan Iran.
Kegagalan Intelijen AS dalam Meramal Taktik Iran
Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, mengatakan bahwa Washington memasuki perang tanpa persiapan matang, dipengaruhi oleh harapan-harapan yang tidak realistis, bukan oleh rencana strategis yang teruji. “AS memasuki perang tanpa persiapan matang, dipengaruhi oleh harapan-harapan yang tidak realistis, bukan oleh rencana strategis yang teruji,” ujar Vaez, sebagaimana dilansir Reuters, Kamis (13/3/2026).
Iran Menggunakan Strategi untuk Membuat Beban Ekonomi Global
Vaez menambahkan, AS dinilai gagal mengantisipasi serangan asimetris yang diluncurkan Teheran, seperti penutupan Selat Hormuz. Data PBB menunjukkan lalu lintas di jalur pasokan energi utama dunia itu turun hingga 97 persen, membuktikan bahwa Iran berhasil mengubah kekuatan ekonomi kawasan menjadi senjata paling efektif. Strategi ini bertujuan mengimbangi keunggulan militer musuh-musuhnya dengan tekanan pada perekonomian global.
Struktur Kepemimpinan Iran Tetap Kuat Meski Pemimpin Tertinggi Gugur
Washington juga dinilai meremehkan ketahanan kepemimpinan Iran. Meski Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi, gugur di hari pertama serangan, sistem komando yang terdistribusi tetap memastikan koordinasi operasi berjalan. Iran mengadopsi doktrin ‘Mosaik’, sistem komando yang terdesentralisasi, untuk memastikan koordinasi operasi berjalan meski struktur kepemimpinan terganggu. “Strategi ini bertujuan menciptakan beban ekonomi, yang pada gilirannya akan mengikis dukungan terhadap perang di Amerika Serikat dan meningkatkan tekanan pada Washington untuk segera mengakhirinya,” jelas Michael Eisenstadt dari Washington Institute.
Risiko Jejak Racun di Balik Serangan AS-Israel ke Iran
Kegagalan intelijen AS terlihat jelas dari ketidakmampuannya memprediksi serangan balik yang memperumit situasi. Vaez menyebutkan, Washington tidak punya strategi yang dipikirkan dengan baik saat memutuskan terlibat dalam konflik bersenjata. Meski AS bisa melemahkan Iran, kemenangan total mustahil dicapai tanpa invasi darat yang membutuhkan minimal satu juta tentara. Langkah tersebut diyakini tidak akan diambil oleh Washington.
Trump Terjebak dalam Kampanye Militer Terbesar Sejak Perang Irak dan Afghanistan
Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya berjanji menjauhkan negara dari intervensi militer, kini terlibat dalam kampanye terbesar sejak perang Irak dan Afghanistan. Tujuan Iran adalah memaksa Washington mengakui bahwa upaya-upaya seperti kekuatan militer, tekanan ekonomi, atau isolasi diplomatik tidak akan menghasilkan kemenangan yang pasti.
Rusia Serukan Penyelesaian Perang melalui Perundingan
Konflik ini juga memicu pertanyaan tentang dampaknya terhadap krisis pangan di kawasan. Rusia mengkritik serangan AS-Israel ke Iran sebagai tindakan ilegal, dan meminta penyelesaian melalui perundingan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

