AMP
KitaBersedekah
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: Sewindu Perjalanan LAKON Indonesia

Published Juni 10, 2026 · Updated Juni 10, 2026 · By Joko Permata

Sewindu Perjalanan LAKON Indonesia

Latest Program -

Di salah satu gerai LAKON Store, Summarecon Mall Kelapa Gading, sebuah outer yang menarik perhatian pengunjung memperlihatkan inovasi dalam industri fashion lokal. Pakaian ini terbuat dari kain batik dan lurik yang dipotong menjadi ukuran beragam, kemudian disusun secara kreatif untuk menciptakan desain yang dinamis. Keunikan tampilan ini terletak pada keberagaman warna yang terlihat mengalir dari satu potongan ke potongan lainnya. Theresia Mareta, pendiri LAKON Indonesia, menjelaskan bahwa outer ini dibuat dari sisa-sisa kain produksi perusahaan selama delapan tahun terakhir. "Kami menyimpan kain-kain yang tidak terpakai di workshop, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang bernilai. Ini adalah representasi dari perjalanan LAKON bersama para perajin Indonesia," kata Theresia saat berbincang dengan Merahputih.com.

Transformasi Kain Sisa Menjadi Karya Kreatif

Dalam proses pembuatan koleksi perayaan ulang tahun ke-8, Theresia menceritakan bahwa tidak semua potongan kain sisa digunakan. Hanya kain-kain yang memang tidak bisa diterapkan kembali yang akhirnya dibuang. "Kami memperhatikan ukuran potongan kain karena itu sesuai dengan kebutuhan yang ada. Tidak semua sisa bisa dimanfaatkan, tapi yang bisa kami gunakan diubah menjadi produk baru," tambahnya.

Potongan kain yang disusun dalam koleksi ini tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga menyimpan cerita khas dari setiap perajin. Theresia menjelaskan bahwa keberagaman ukuran kain memengaruhi cara penataannya. "Setiap lembar pakaian memiliki karakteristik unik, baik itu dari warna, tekstur, atau motif. Ini membuat produk lebih bervariasi dan terlihat lebih hidup," tuturnya.

"Ini bisa dilihat ya, ada yang potongannya besar ada pula yang kecil. Ya, ini memang mengikuti kondisi kain yang tersedia saja," imbuh Theresia.

Menurut Theresia, inisiatif ini berawal dari ide untuk mengubah limbah produksi menjadi sesuatu yang bermanfaat. "Sejak tahun lalu, kami mulai merancang koleksi ini. Awalnya, sisa-sisa kain hanya disimpan di workshop, tapi kini mereka menjadi bagian dari karya yang berarti."

Konsep Minimal Waste dalam Desain

Penekanan pada pengurangan limbah memegang peran penting dalam pembuatan koleksi LAKON. "Kami ingin produk yang dihasilkan tidak hanya estetis, tetapi juga efisien. Tujuannya adalah agar tidak ada kain yang terbuang sia-sia," jelas Theresia.

Dalam proses pemotongan, perusahaan berusaha memaksimalkan penggunaan bahan sehingga jumlah sisa bisa diminimalkan. "Dengan memikirkan bagaimana mengatur cutting dan perancangan desain, kami bisa mengurangi potongan kain yang tidak terpakai. Ini membantu menghemat benang dan jumlah jahitan yang dibutuhkan," katanya.

"Kami tak menyebut diri sebagai sustainable brand, tapi LAKON selalu berusaha meminimalkan waste. Dalam bikin koleksi, saya selalu menekankan produk bisa tahan lama, bisa dipakai berulang, dan bisa dipadupadankan dari satu koleksi ke koleksi lain," jelas Theresia.

Strategi minimal waste ini juga melibatkan kerja sama yang intens dengan perajin. "Kami memastikan bahwa setiap potongan kain diperhitungkan secara matang, baik dari segi kualitas maupun ketahanan. Jika cutting yang tepat, maka kita bisa menghasilkan produk yang lebih hemat dan berkualitas," terangnya.

Kerja Sama Profesional dengan Perajin Lokal

Dari awal pendirian, LAKON memiliki visi untuk memajukan industri kreatif Indonesia. "Kami ingin perajin lokal bisa mendapatkan peluang yang lebih besar. Mereka adalah bagian penting dari proses kreatif," kata Theresia.

Kerja sama ini tidak hanya berupa pemilihan bahan, tetapi juga melibatkan pengembangan pola kerja yang profesional. "Perajin Indonesia perlu memahami konsep kerja sama bisnis yang berkelanjutan. Oleh karena itu, kami selalu membuat kontrak saat bekerja sama dengan mereka. Tujuannya adalah agar perajin bisa bertanggung jawab dan memenuhi komitmen," jelasnya.

Theresia menceritakan beberapa cerita dari perajin yang bekerja sama. "Ada perajin yang awalnya ragu, tapi kini sudah berkembang. Ada juga perajin wanita yang seorang ibu rumah tangga yang berhasil menorehkan prestasi melalui kolaborasi ini," tuturnya.

"Banyak perajin kita nih yang takut menghadapi tantangan yang tak biasa, bahkan saat kesempatan datang. Ini yang harus kita carikan jalan keluar. Dalam delapan tahun LAKON berjalan, hal ini sudah mulai kita ubah. Kita dorong agar para perajin berani meraih kesempatan, percaya diri dalam bekerja sama," jelas Theresia.

Usaha LAKON tidak hanya berdampak di dalam negeri, tetapi juga menembus pasar internasional. Meskipun belum memiliki toko ritel besar di luar negeri, perusahaan sudah mampu membangun hubungan kerja sama dengan pemangku kepentingan di berbagai negara. "Kami ingin menunjukkan bahwa produk Indonesia bisa bersaing secara global," ujarnya.

Menurut Theresia, upaya ini tidak terlepas dari komitmen untuk memperkuat ekosistem fashion lokal. "Dengan menggandeng perajin dari berbagai daerah, kami memberikan nilai tambah kepada produk-produk mereka. Kami juga memastikan bahwa setiap produk memiliki nilai estetika dan fungsionalitas yang tinggi."

Dalam perjalanan selama delapan tahun, LAKON terus berupaya untuk menciptakan solusi yang inovatif. "Kami ingin menunjukkan bahwa limbah produksi bisa menjadi sumber kreativitas. Dengan begitu, industri fashion tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga berkontribusi pada lingkungan," katanya.

Proses pembuatan koleksi ini juga menjadi ajang untuk mengedukasi para perajin. "Kami memberikan pelatihan tentang teknik pemotongan dan desain agar mereka lebih percaya diri. Ini adalah bagian dari visi kami untuk memajukan industri kreatif Indonesia," tambah Theresia.

Dengan pendekatan yang berkelanjutan ini, LAKON tidak hanya membangun brand yang kuat, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan. "Kami percaya bahwa fashion bisa menjadi alat untuk melestarikan budaya dan mengurangi dampak negatif produksi," pungkasnya.