Main Agenda: Lewat In A Mess , Supple Ubah Kekacauan Menjadi Karya Musik dan Seni Visual
Supple Menghadirkan In A Mess sebagai Awal Perjalanan Baru
Main Agenda - Band alternatif Supple menghadirkan karya terbarunya berjudul In A Mess, yang menjadi langkah awal dalam fase baru kariernya. Lagu ini juga berfungsi sebagai pintu masuk ke album teranyar yang akan dirilis di tengah tahun 2026. Selain itu, In A Mess memulai kolaborasi multidisiplin dengan seniman BOOspace melalui pameran seni yang diberi nama I AM BOOCLOTH EXHIBITION. Proyek ini berusaha memvisualisasikan kekacauan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk ekspresi kreatif.
Realitas Kehidupan sebagai Inspirasi
Karya ini menggambarkan dunia yang terasa semakin sempit, penuh tekanan, serta memaksa manusia untuk terus bertahan. Tema yang diangkat menggambarkan perasaan kesesakan, kebingungan, dan keinginan untuk tetap hidup meski dalam kondisi yang sulit. Supple menyatakan bahwa In A Mess adalah refleksi nyata dari pengalaman yang sedang dialami banyak orang saat ini, khususnya dalam menghadapi kehidupan yang terkesan membelakangi harapan.
Band ini mengembangkan pendekatan lirik dan musikal yang berbeda dari biasanya. Inspirasi utama lagu muncul dari berbagai fenomena sosial, termasuk konflik manusia yang sering muncul di berita global. Dalam musiknya, Supple mengeksplorasi perasaan terjebak dan terdesak, yang kemudian diubah menjadi komposisi eksperimental. Struktur lagu dibuat tidak stabil, dengan dinamika bunyi yang naik turun dan tekstur suara yang kasar. Kebisingan yang terasa "berantakan" menjadi alat untuk menyampaikan pesan yang dalam.
Transformasi Musik ke Medium Visual
Rasa berantakan yang terasa dalam musik In A Mess juga berkembang menjadi proyek seni visual. Proyek ini menggabungkan elemen musik dengan pameran yang bertajuk I AM BOOCLOTH EXHIBITION. Konsep pameran tersebut berasal dari dunia yang sama dengan lagu, yaitu lingkungan yang penuh rasa sesak dan keinginan untuk bertahan. Sebelumnya, dunia In A Mess sudah dijelajahi melalui artwork, merchandise, serta aksi seni yang dinamis. Kini, konsep tersebut diadaptasi ke dalam bentuk busana.
Kain yang digunakan dalam pameran ini tidak hanya menjadi bahan, tetapi juga simbol. Seluruh karya dibuat dari material yang sudah dipakai, seperti tekstil bekas, pakaian rusak, atau potongan kain yang terlupakan. Pendekatan DIY (do it yourself) dan deconstruction menjadi unggulan, dengan setiap busana sengaja diciptakan tanpa keinginan untuk sempurna. Jahitan yang terbuka, siluet tak biasa, serta kombinasi flannel dengan gaya formalwear menggambarkan kehidupan yang sering terasa retak, namun tetap berjalan.
Kolaborasi yang Terbentuk dari Lingkungan Kreatif
Kolaborasi antara Supple dan BOOspace bukan terjadi secara mendadak. Hubungan keduanya telah tumbuh dari lingkungan kreatif yang sama serta kebiasaan saling mendukung dalam berbagai proyek. Yaka Patra, sebagai Creative Director, menjelaskan bahwa ide kolaborasi sebenarnya muncul sejak dua tahun lalu. Saat pertama kali mendengar In A Mess, ia merasakan adanya kesamaan dalam karakter visual dan perjalanan personal BOOspace.
Dari situ, tim Supple dan BOOspace memutuskan untuk menggabungkan kekacauan musik dengan ekspresi visual. Proyek ini menawarkan ruang bagi siapa pun yang sedang merasa terjebak dalam tekanan kehidupan. "Kalau buat tujuan sih enggak yang gimana-gimana. Cuma yang gue rasain, ini bisa jadi reminder buat siapa pun yang lagi kekurung di suatu hal yang harus dijalanin," kata Yaka Patra dalam wawancara. "Sesekali lo bisa kok lupain itu sejenak dan balik lagi ke hal yang bikin lo jadi diri sendiri. Buat gue, musik dan seni itu memang udah enggak bisa dipisahin. Dan ketika dua hal itu disatuin secara mentah-mentah, rasanya joy-nya jauh lebih kerasa."
Pengalaman yang Lebih Dalam
Proyek In A Mess dan I AM BOOCLOTH EXHIBITION menghadirkan pengalaman yang tidak hanya bisa didengar, tetapi juga dilihat dan dirasakan. Dengan menggabungkan musik dan seni visual, keduanya menciptakan ruang yang menggambarkan ketidaksempurnaan sebagai bentuk kejujuran. Manusia sering kali menunjukkan sisi paling autentik mereka ketika berusaha bertahan di tengah kacau.
Supple juga menyatakan bahwa kekalahan bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjuangan. Dalam konteks ini, kekacauan justru menjadi alat untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi. I AM BOOCLOTH EXHIBITION bertujuan untuk memperlihatkan bahwa kehidupan yang terasa retak bisa diubah menjadi karya. Setiap elemen, baik dari musik maupun seni, berusaha menyampaikan pesan bahwa kekacauan bisa menjadi bentuk kebebasan.
Proyek ini diproduksi oleh Argesha Production, dengan Zzidan sebagai Art Director. Mereka ingin menunjukkan bahwa tekanan dalam kehidupan, baik dari kondisi sosial, lingkaran pertemanan, maupun pergulatan batin, bisa diwujudkan melalui karya seni. Pameran ini menjadi pengingat bahwa tidak semua harus teratur, dan kekacauan justru bisa menjadi sumber kreativitas.
Visual dan Musik sebagai Satu Kesatuan
Dengan memadukan suara dan tampilan, In A Mess menawarkan pengalaman yang lebih menyeluruh. Kain, warna, coretan, dan jahitan yang dipaksa tetap menyatu menjadi simbol dari kehidupan yang memperlihatkan sisi kompleks. Proyek ini bukan sekadar karya musik atau seni, melainkan medium untuk mengekspresikan ketidaksempurnaan yang manusiawi.
Supple dan BOOspace mempercayai bahwa seni dan musik bisa saling melengkapi. Dalam In A Mess, mereka mencoba menggambarkan kekacauan sebagai bentuk ekspresi yang alami. Dengan mengubah chaos menjadi karya, proyek ini juga menjadi bentuk perlawanan terhadap kehidupan yang serba dipaksa. Kebebasan, meski tampak dekat, tetap menjadi harapan yang belum tercapai.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa kreativitas tidak terbatas pada satu bentuk. Dengan memadukan musik dan seni visual, Supple dan BOOspace menciptakan ruang yang menyatukan dua media. Mereka berharap proyek ini bisa memberi kesempatan bagi audiens untuk merasakan kekacauan dalam hidup, sekaligus merenungkan artinya.